Rabu, 23 April 2014

Agama Sebagai Pandangan Dunia

Seorang siswi berdarah Pakistan kelahiran Los Angeles, murid sebuah SMA di Houston, menolak tugas dari guru psikologinya untuk menulis laporan tentang pendekatan untuk mengajak lawan jenis pergi ke pesta dansa. Sebagai ganti tugas itu, Nishat mempresentasikan sebuah makalah tentang peran wanita dalam Islam.
Nishat maju kedepan kelas dengan penuh percaya diri. Ia yakin bahwa Allah akan menolongnya dalam mengemukakan pandangannya dan menjawab setiap pertanyaan yang muncul. Uraiannya cukup singkat tetapi padat dan jelas. Selama ia berbicara, ia mendengar gumaman/celetukan beberapa temannya.

“Nilai wanita muslim itu terutama terletak pada pengabdiannya kepada Tuhannya dan kebajikannya kepada sesama manusia, berbeda dengan nilai wanita Amerika yang terutama terletak pada penampilan fisiknya. Kecantikan wajah, kemolekan tubuh, pakaian dan sebagainya. Keelokan fisik wanita muslim hanyalah bagi suaminya, sementara keelokan fisik wanita Amerika boleh dinikmati lelaki mana saja, oleh karena itulah sebagai wanita muslim, saya diwajibkan mengenakan pakaian seperti ini dan menghindarkan diri dari pergaulan bebas dengan lelaki. Contoh berikut dapat melukiskan perbedaan sikap terhadap keelokan fisik tersebut. Bila seorang lelaki memuji kecantikan seorang wanita muslim, wanita itu dan suaminya akan merasa tersinggung. Sebaliknya, bila pujian itu ditujukan kepada seorang wanita Amerika, ia dan suaminya akan merasa senang.

Dengan demikian, wanita muslim takkan kehilangan nilainya dengan bertambahnya usia karena nilainya tidak ditentukan oleh daya tarik fisik. Sebaliknya, wanita Amerika sering merasa kehilangan sebagian nilai dan statusnya karena keelokan fisiknya menurun dengan bertambahnya usia. 

Itulah antara lain yang diutarakan Nishat, kelas menjadi agak riuh. Tampaknya ada orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat Nishat, beberapa wanita malah merasa tersinggung karena terpojokkan. Beberapa pertanyaan mengemuka, Nishat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaik-baiknya.

Gaya pikir, sikap dan perilaku wanita muslim tidak normal, karena berlawanan dengan norma-norma siswi masyarakat yang umum” komentar seorang siswi agak emosional “ bagi saya, normal itu tidak berarti lazim dan sesuai dengan pola-pola sosial yang ada, bila kita mendefinisikan sesuatu yang normal itu sebagai sesuatu yang lazim terjadi, apakah Anda juga menganggap normal terkait dekadensi moral yang selama ini telah terjadi dinegeri ini, seperti homo, kejahatan, alkoholisme, kekerasan remaja & pergaulan bebas antara pria dan wanit terus meningkat?” jawab Nishat, sekaligus balik bertanya, tak ada jawaban, kelas hening sesaat.

“Kalau Anda berpendapat demikian, betapa relatif dan dangkalnya definisi normal tersebut karena harus sesuai dengan kondisi-kondisi masyarakat yang berubah. Bagi saya sebagai wanita muslim, normal itu berarti sesuai dengan aturan-aturan Tuhan, meskipun aturan-aturan Tuhan itu berbeda dengan aturan-aturan manusia. saya mengerti bila masyarakat Amerika menganggap saya abnormal karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan norma-norma yang ada. Tapi itu tidak apa-apa bagi saya, karena Islam telah memberi saya suatu standar tentang kriteria kenormalan yang membuat saya nyaman dan damai dengan diri saya sendiri”

Cerita di atas saya baca dari buku Komunikasi Efektif, Suatu Pendekatan Lintas Budaya ini karya Prof. Dr. Deddy Mulyana, M.A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar