Seorang siswi berdarah Pakistan kelahiran Los Angeles,
murid sebuah SMA di Houston, menolak tugas dari guru psikologinya untuk menulis
laporan tentang pendekatan untuk mengajak lawan jenis pergi ke pesta dansa.
Sebagai ganti tugas itu, Nishat mempresentasikan sebuah makalah tentang peran
wanita dalam Islam.
Nishat maju kedepan kelas dengan penuh percaya diri.
Ia yakin bahwa Allah akan menolongnya dalam mengemukakan pandangannya dan
menjawab setiap pertanyaan yang muncul. Uraiannya cukup singkat tetapi padat
dan jelas. Selama ia berbicara, ia mendengar gumaman/celetukan beberapa
temannya.
“Nilai wanita muslim itu terutama terletak pada
pengabdiannya kepada Tuhannya dan kebajikannya kepada sesama manusia, berbeda
dengan nilai wanita Amerika yang terutama terletak pada penampilan fisiknya.
Kecantikan wajah, kemolekan tubuh, pakaian dan sebagainya. Keelokan fisik
wanita muslim hanyalah bagi suaminya, sementara keelokan fisik wanita Amerika
boleh dinikmati lelaki mana saja, oleh karena itulah sebagai wanita muslim,
saya diwajibkan mengenakan pakaian seperti ini dan menghindarkan diri dari
pergaulan bebas dengan lelaki. Contoh berikut dapat melukiskan perbedaan sikap
terhadap keelokan fisik tersebut. Bila seorang lelaki memuji kecantikan seorang
wanita muslim, wanita itu dan suaminya akan merasa tersinggung. Sebaliknya,
bila pujian itu ditujukan kepada seorang wanita Amerika, ia dan suaminya akan
merasa senang.
Dengan demikian, wanita muslim takkan kehilangan
nilainya dengan bertambahnya usia karena nilainya tidak ditentukan oleh daya
tarik fisik. Sebaliknya, wanita Amerika sering merasa kehilangan sebagian nilai
dan statusnya karena keelokan fisiknya menurun dengan bertambahnya usia.
Itulah antara lain yang diutarakan Nishat, kelas
menjadi agak riuh. Tampaknya ada orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat
Nishat, beberapa wanita malah merasa tersinggung karena terpojokkan. Beberapa
pertanyaan mengemuka, Nishat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaik-baiknya.
Gaya pikir, sikap dan perilaku wanita muslim tidak
normal, karena berlawanan dengan norma-norma siswi masyarakat yang umum”
komentar seorang siswi agak emosional “ bagi saya, normal itu tidak berarti lazim dan sesuai
dengan pola-pola sosial yang ada, bila kita mendefinisikan sesuatu yang normal
itu sebagai sesuatu yang lazim terjadi, apakah Anda juga menganggap normal
terkait dekadensi moral yang selama ini telah terjadi dinegeri ini, seperti
homo, kejahatan, alkoholisme, kekerasan remaja & pergaulan bebas antara
pria dan wanit terus meningkat?” jawab Nishat, sekaligus balik bertanya, tak ada
jawaban, kelas hening sesaat.
“Kalau Anda berpendapat demikian, betapa relatif dan
dangkalnya definisi normal tersebut karena harus sesuai dengan kondisi-kondisi
masyarakat yang berubah. Bagi saya sebagai wanita muslim, normal itu berarti
sesuai dengan aturan-aturan Tuhan, meskipun aturan-aturan Tuhan itu berbeda
dengan aturan-aturan manusia. saya mengerti bila masyarakat Amerika menganggap
saya abnormal karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan norma-norma yang ada.
Tapi itu tidak apa-apa bagi saya, karena Islam telah memberi saya suatu standar
tentang kriteria kenormalan yang membuat saya nyaman dan damai dengan diri saya
sendiri”
Cerita di atas saya baca dari buku Komunikasi Efektif, Suatu Pendekatan Lintas Budaya ini karya Prof. Dr. Deddy Mulyana, M.A
Cerita di atas saya baca dari buku Komunikasi Efektif, Suatu Pendekatan Lintas Budaya ini karya Prof. Dr. Deddy Mulyana, M.A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar