Rabu, 30 April 2014

Rich Dad, Poor Dad


Robert T. Kiyosaki melalui buku Rich Dad, Poor Dad bercerita tentang mental ekonomi dari 3 level finansial sebuah keluarga yaitu keluarga kaya, menengah dan miskin. Saya sharing disini bukan untuk memuja atau pun merendahan salah satu dari 3 status (kaya, menengah, atau miskin?) karena setiap keluarga memiliki keunikan masing-masing begitu juga parameter sukses maupun kebahagiaan dalam sebuah keluarga tidak bisa diukur dari berapa banyak jumlah uangnya saja.
Buku ini memaparkan 'Apa yang diajarkan orang kaya pada anak mereka yang tidak diajarkan oleh orang miskin dan kelas menengah'. Kiyosaki menegaskan bahwa kecerdasan finansial tidak diajarkan di sekolah tapi di ajarkan di meja makan. Keluarga konglomerat yang lebih menguasai kecerdasan finansial mengajarkan hal itu pada anaknya. Sementara kelas menengah dan miskin yang tidak menguasainya, tidak mengajarkannya.

Ada beberapa hal yang menjadi inti kecerdasan finansial versi kiyosaki. Tidak hanya untuk orang kaya, kelas menengah dan bawah pun bisa mencobanya.
Pertama, Ia menekankan agar kita sibuk memikirkan aset dan menjaganya agar terus berkembang. Kekuatan para konglomerat adalah visinya untuk terus menjaga aset dan memikirkan pengembangannya terus menerus. Ini membuat mereka sibuk membesarkan kekayaan mereka, hal yang tidak banyak dilakukan oleh pegawai kantoran dan buruh. Kemudian, kata Kiyosaki, karyawan biasanya lebih cepat membelanjakan uangnya, pola pikir mereka mendasarkan pada mendapatkan gaji dan membelanjakannya. Setidaknya hanya menabung, kekayaan tidak berkembang.
Kedua, Untuk meningkatkan 'Valensi' kita dalam mengejar aset, Kiyosaki menyarankan kita meningkatkan 'impian' kita. Semakin besar impian, semakin kita bersemangat membesarkan aset. Kiyosaki mencontohkan dirinya yang berhasil merealisasikan impiannya yaitu memiliki rumah mewah ternyata masih kalah dari temannya yang berhasil merealisasikan impiannya yg lebih besar lagi yaitu agar nama-nama jalan dikotanya menggunakan namanya. Ini tentu butuh biaya untuk mengejarnya. Semakin besar impian akan semakin keras usaha kita.
Ketiga, kiyosaki menenkankan disiplin menjaga aset akan membuat orang jadi kuat untuk menahan pengeluaran uang. Orang kaya hemat karena selalu berpikir uangnya untuk aset, bukan untuk dibelajakan segera. Sikap disiplin menjaga aset membuat kita kuat dalam menjalani hidup walau keadaan sedang susah.
Keempat, kiyosaki mengajarkan agar 'uang tidak mengendalikan kita' tapi kitalah yang mengendalikan uang. Caranya dengan menjadikan urang sebagai 'karyawan' kita. Dengan membuat aset, uang akan menjadi karyawan kita untuk menghasilkan uang baru.Sebaliknya, jika uang mudah dibelanjakan, ini akan membuat kita bekerja demi uang. Akhirnya, kita sering merasa tertekan karena kurang uang atau karena sibuk mencari uang. Dalam keadaan demikian, uang telah mengendalikan kita.
Kelima, Kiyosaki mengajarkan agar kita belajar pada orang-orang sukses. Mereka terbukti sanggup mengelola uang dengan cara membangun aset bukan dengan tergoda untuk segera membelanjakan uang yang didapat dari gaji.
   

Ok, saya kira, orang yang menguasai finansial akan mengajarkan bisnis juga pada anaknya? ya iyalah jelas, kemudian keluarga kelas menengah dan miskin tidak mengajarkan bisnis kepada anaknya? ya iyalah, gimana mau ngajarin anaknya bisnis jika tidak memiliki kapasitas, kesempatan, modal dan juga relasi bisnis? Tapi tentu saja, harga manusia bukan pada kisaran asetnya di Bank tapi terletak pada Taqwanya, toh, harta berupa uang, aset, maupun rumah mewah tidak akan di bawa mati kan? sekaya apapun jika mati ya berselimut kain kapan, tidak lebih. Hanya Amal sholeh yang ALlah SWT ridhai yang akan menyelamatkan manusia dari ancaman Allah SWT yaitu Neraka bagi yang tidak taat atau pun acuh terhadap aturan ALlah SWT.

Menurut riwayat dari Imam Gazali, manusia rata-rata hidup didunia sekitar 70 tahun kemudian di alam kubur paling lama 7000 tahun, hisab alias di padang mahsyar sekitar 50.000 tahun dan setelah itu ada Mizan untuk menimbang amal kita, jika beruntung selama di dunia dengan menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah SWT dengan cara taat kepada-Nya dan Allah ridha terhadap manusia tersebut maka Surgalah tetap kembalinya yang kekal abadi tapi jika di dunia bersikap sombong dan cuek terhadap perintah dan larangan Allah SWT padahal Allah sudah mengkaruniakan akal yang luar biasa maka nerakalah tempat kekal abadi manusia tersebut. Naudzubillah...

Berani menantang neraka? ih ga banget.... ga usah jauh-jauh ke neraka lah wong didunia aja kalo lewat tempat pembuangan sampah itu baunya minta ampun, ga tahan saya sama baunya apalagi neraka? naudzubillah... neraka paling ringan itu adalah ketika menginjak lantai neraka, otak manusia langsung mendidih. Naudzubillah himindzalik...

Berita tentang Surga, Neraka dan juga pedoman hidup seorang muslim sudah tertera dengan sangat jelas di Al-qur'an, tidak kah kita berpikir dan sayang kepada diri kita sendiri?

Well, dari buku Rich Dad jadi nyasar ke Surga dan neraka ya??? biarlah :D wong ini kan blogsnya saya ya suka-suka saya mau nulis apa :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar