Buku
karya George Sarton jilid 2 ini bercerita tentang suasana intelektual
umat Islam pada zaman pertengahan yang terhitung cukup maju untuk ukuran
zamannya. Salah satu parameter kemajuan peradaban suatu bangsa adalah
kemajuan ilmu pengetahuannya.
Selain
ilmu, kota-kota negeri Islam saat itu juga maju seperti di Baghdad pada
X M misalnya terdapat 860 dokter dan dari jumlah tersebut ada sekitar
360 orang diantaranya dibuat biografinya. Banyak kota dari Cordoba
seperti Spanyol sampai Bukhara di Asia Tengah sangat mudah ditemui rumah
sakit, madrasah-madrasah, perpustakaan yang jumlahnya sangat banyak,
ada observatorium yang lengkap dan megah. Para tokoh negara, ulama dan
ilmuan memiliki perpustakaan pribadi yang menyimpan puluhan ribu buku.
Perpustakaan
umum menyimpan sampai 400.000 buku sementara pada saat yang sama, Eropa
hanyalah kerajaan-kerajaan Feodal dengan puri-purinya yang menyeramkan
di atas perbukitan. Buku hanya bisa dijumpai di Roma atau Konstantinopel
itu pun hanya buku-buku kerohanian yang jumlahnya sangat sedikit.
Dokter belum mereka kenal, yang ada hanya dukun. Jam pun dikira sihir.
Itulah yang terjadi ketika Raja Charlemagne tiba di Prancis sepulang
dari kunjungannya ke Baghdad. Ia pulang membawa oleh-oleh jam pemberian
Khalifah Harun Al-Rasyid. Namun jam itu disangka oleh orang-orang Istana
dan para tokoh gereja.
Di
negeri-negeri Islam dulu ketika bersatu dalam naungan Daulah Khilafah
Islamiyah, penyebaran kebudayaan relatif merata seperti para ulama,
ilmuan, negarawan dan panglima terdiri dari berbagai bangsa. Untuk ulama
ada Imam Malik (Arab), Imam Hanafi (Persia), Imam Bukhari (Uzbekistan).
Untuk Ilmuan ada Ibnu Sina (orang Bukhara), Ibnu Rusyd (Andalusia),
Ibnu Khaldun (Maroko), arsitek yang sangat masyhur ada Sinan Pasha
(Italia) pada Masa Utsmaniyah. Panglima Perang, Thariq Bin Ziyad
(Berber), Musa Bin Nushair (Arab), Shalahuddin Al Ayyubi (Kurdi),
Nuruddin Zanki (Turki Saljuq), Muhammad al-Fatih (Turki Ottoman),
Khairuddin Pasha (Yunani)
Mereka
hebat bukan hanya dalam hal ilmu keduniawian saja tetapi juga dalam hal
spiritual alias keimanan karena landasan dalam setiap aktivitas
termasuk visi, misi dan tujuan hidup seorang muslim adalah meraih ridha
Ilahi. Hidup didunia dalam kemulian dan akhir hayat pun mendapat ridha
Ilahi dalam kondisi apapun. Semua ini tentu saja hanya bisa diraih dari
keluarga yang memiliki nuansa intelektual mendukung untuk perkembangan
kepribadian anak dan setiap anggota keluarga yang faham agama Islam
kemudian masyarakat yang menguatkan karakter anak dengan adanya sosial
kontrol dan negara yang menjalankan amanah umat untuk mengurusi urusan
umat Islam dimana landasan keputusan negara adalah berdasarkan rujukan
yang di ridhai oleh Allah SWT yaitu Qur'an dan Sunnah.
Lalu
bagaimana dengan kondisi Indonesia yang tercatat dalam survei bahwa
sekitar 88% penduduk Indonesia itu mayoritas muslim ? Sudahkah pemikiran & perilaku umat Islam di Indonesia berIslam secara kaffah? dari level individu, keluarga, masyarakat & bernegara? Saya mengamati life style muslim di Indonesia hari ini
banyak mayoritas muslim termasuk generasi muda muslim kita sangat bangga
akan budaya dan pemikiran barat yang memisahkan agama dari kehidupan. Yah ini bukan masalah hari ini tapi sudah sejak lama, sepertinya akan
saya kupas pada edisi selanjutnya :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar