Rabu, 30 April 2014

Krisi Multidimensi, Mau Sampai Kapan?

Suatu pohon akan tetap bisa tumbuh berkembang dengan baik, jika memiliki tunas yang baik. Begitu juga dengan sebuah bangsa akan tetap hidup dan berkembang dengan baik jika ada tunas bangsa. Salah satunya adalah generasi penerus yang sehat, cerdas, empati, dan sifat positif lain.

Bila dikaitkan dengan dunia kampus, mahasiswa merupakan asset yang luar biasa untuk membangun bangsa. Apalagi bila dikaitkan dengan Tridarma Perguruan Tinggi, yakin pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sudah selayaknya mahasiswa ikut terlibat memikirkan masalah bangsa yang dimulai dengan masyarakat di sekitarnya.
Tapi apakah yang terjadi dengan mahasiswa saat ini? Sudahkah mahasiswa di zaman kapitalis ini mau meluangkan waktunya untuk ikut serta memikirkan solusi untuk permasalahan bangsa yang begitu kompleks? Dan juga bagaimana dengan peran kampus sebagai operator utama dalam melahirkan asset bangsa?

Karena sesungguhnya banyak pekerjaan rumah yang menanti generasi muda nanti. Misalnya realitas penumpukan sampah yang diakibatkan salah kelola sampah sejak awal.
Ada satu kota yang memiliki slogan baru sebagai “Kota Lautan Sampah”. Permasalahannya begitu kompleks, sampai-sampai terjadi longsor sampah di sana. Longsor sampah itu merupakan fakta satu-satunya di dunia. Karena lazimnya longsor adalah longsor tanah, bukan longsor sampah merenggut nyawa manusia.

‘Bencana sampah’ tersebut tentunya terjadi karena adanya kesalahan dalam pengelolaan barang buagan tersebut.

Dalam hal ini, mahasiswa, sebagai kaum intelektual dan penerus bangsa, sudah sepatutnya belajar dari pengalaman tersebut. Perlu memikirkan bagaimana pengelolaannya yang efisien sehingga ‘’Kemudian jika kita melirik sejenak masalah ekonomi bangsa ini, ternyata bangsa ‘bencana’ serupa tidak terulang.

Penguasaan Modal
Kemudian, jika kita melirik ke permasalahan ekonomi, ternyata bangsa ini masih sakit dari sisi ekonomi, tepatnya mengalami krisis ekonomi yang semakin tak terpulihkan karena semua kekayaan negara dikuasai oleh segelintir elit politik dan modal.

Penguasa modal internasional telah menekan elit pemerintahan supaya memperoleh kemudahan-kemudahan akses dan penguasaan sumber-sumber kehidupan rakyat, aset negara (perusahaan-perusahaan milik negara), keringanan pajak, dan lain-lain.

Perekonomian nasional telah bertekuk lutut pada system kapitalis global. Seperti telah disahkannya beberapa perundang-undangan yang memberi akses seluas-luasnya bagi kepentingan modal dalam dan luar negeri atas berbagai sumber kehidupan rakyat, sebagaimana tertuang dalam UU Perkebunan, UU Sumberdaya Air, dan Peraturan Pemerintahan Pengganti Undang-undang (Perpu) No I/2004 tentang perubahan Undang- Undang No 41/1999 tentang Kehutanan, dan lain-lain.

Untuk yang terakhir, isinya menambah ketentuan baru pada UU 41/1999, yaitu Pasal 83 (a) dan pasal 83 (b). Pasal 83 (a) berbunyi, ‘Semua perizinan atau perjanjian di bidang pertambangan di kawasan hutan yang telah ada sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan dinyatakan tetap berlaku sampai berakhirnya izin atau perjanjian dimasksud,’

Seperti dikutip dari walhi.or.id, itu sangat ironis. Mengingat sebelum Perpu dikeluarkan, pemerintah menyerukan untuk memberi kesempatan kepada hutan untuk bernafas, sehingga Perpu ini menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa mengeluarkan kebijakan yang rasional dan tidak memiliki komitmen menghadapi kondisi kritis kehutanan Indonesia yang di ambang kehancuran.

Sebagaimana jamak diketahui, Setiap tahunnya hutan Indonesia mengalami deforestasi sebesar 3,8 juta hectare yang mengakibatkan kerugian pemerintah sebesar kurang lebih Rp30 triliun per tahun.

Pengeluaran Perpu tersebut merupakan cerminan dari tidak kuasanya pemerintah menahan tekanan dari investor dan pemerintah asing yang menginginkan pelolosan praktik pertambangan di kawasan hutan lindung.

Privatisasi kekayaan alam hanya diperuntukkan semata-mata tujuan komersial. Yang pada akhirnya, berbagai bencana lingkungan, seperti pencemaran lingkungan, kebakaran hutan dan lahan, banjir, kekeringan, dan krisis air telah menjadi bencana yang sudah menjadi makanan keseharian rakyat dari tahun ke tahun.

Coba tengok, menurut catatan Bakornas sejak tahun 1998 sampai pertengahan 2003, tercatat telah terjadi 647 kejadian bencana di Indonesia dengan korban sekitar 2000 orang. Dengan 85% dari bencana tersebut, merupakan bencana banjir dan longsor. Hal ini menunjukkan bahwa bencana terbesar yang terjadi justru bencana yang bisa diatasi, diantisipasi kejadian dan resikonya.

Lalu di manakah peran konkrit pemerintah? Bukankah dalam buku kewarganegaraan sudah jelas bahwa pemerintahlah yang seharusnya menangani urusan rakyat?

Nah, yang dipaparkan sebelumnya hanya sedikit kenyataan pahit yang harus ditelan secara suka rela. Jika bangsa ini tidak segera merubah sistem yang sudah terbukti hanya menambah beban hidup rakyat, maka pembusukan bangsa bukanlah sebuah utopis.
Karenanya, generasi muda, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa, harus belajar membenahi diri, agar nantinya bisa memperbaiki bangsa ini. Generasi muda jangan justru ikut terseret pada gelombang hedonisme yang memiliki pandangan, kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup.

Sebagai ilustrasi terakhir tentang perjalanan sebuah kapal laut yang memuat dua penumpang, yaitu penumpang kelas eksekutif ditingkat atas dan penumpang kelas ekonomi di lantai dasar.

Kebutuhan penumpang tersebut adalah air, tapi air tersebut hanya ada ditingkat atas, otomatis penumpang yang ada dibawah harus mengambil air ke lantai I. Akan tetapi jika penumpang tingkat bawah sudah tidak mau bersusah payah sedikit untuk mengambil air di tingkat I, mereka membuat lubang saluran air dari dinding kapal. Sehingga otomatis lama kelamaan kapal akan tenggelam, Itu pun jika penumpang kelas atas membiarkan penumpang kelas bawah melubangi dinding kapal. Sehingga yang akan tenggelam bukan hanya orang yang melubangi kapal saja, tetapi seluruh penghuni kapal akan tenggelam!

Begitu juga dengan bangsa ini. Jika mereka yang memiliki kendali untuk mengendalikan dengan tidak menggunakan fungsinya dengan baik untuk menjaga, maka yang tenggelam bukanlah satu, dua pulau tapi seluruh bangsa ini, akan tenggelam dalam krisis multidimensi yang tidak berkesudahan.

Tim Rostrum
Universitas Komputer Indonesia

---  Dulu, tulisan ini sempat dipublish di Koran Media Indonesia di rubrik RosTrum hari selasa, 30 Oktober 2007 halaman 26, Ini tulisan lama saya, kenang-kenangan :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar