Rasulullah saw pernah bersabda : “Barangsiapa
berniat untuk mengerjakan sebuah kebaikan, tetapi ia belum dapat
melaksanakannya, maka Allah mencatat itu sebagai suatu kebaikan yang
sempurna di Sisi-Nya” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim & Ahmad)
Terkadang,
seorang mukmin menjadi unggul karena kesungguhannya yang tinggi
sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya : “Satu Dirham
telah mengalahkan 100.000 dirham. Mendengar hal itu, para sahabat
bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa 1 dirham mengalahkan 100.000
dirham?” Beliau menjawab, “Hal itu karena ada seorang lelaki yang hanya
memiliki 2 dirham, kemudian ia mengambil salah satunya untuk
disedekahkan. Sedangkan lelaki yang lain memiliki banyak harta kemudian
ia hanya mengambil dari simpanannya yang melimpah itu sebanyak 100.000
dirham untuk disedekahkan” (Diriwayatkan oleh An-Nasa’i. Al-Albani
menilainya sebagai hadits hasan dalam shahih Sunan an-nasa’I, hadits no
2671)
Karakteristik Orang-Orang Yang Memiliki Kesungguhan Tinggi
Pertama :
Orang yang memiliki kesungguhan tinggi itu tidak akan melemah atau
hilang tekadnya. Allah Ta’ala berfirman : “…kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (Ali Imran : 159)
Oleh
karena itu ketika Anda telah meletakkan sebuah tujuan di hadapan Anda,
janganlah Anda meninggalkannya sampai Anda dapat mewujudkannya.
Sekalipun untuk mewujudkannya Anda harus menghadapi berbagai macam
kesulitan.
Kedua :
Orang yang memiliki kesungguhan tinggi tidak akan rela jika tidak
mendapatkan apa yang ditujunya. Tidak akan merasa senang kecuali jika ia
melakukan hal-hal yang penting (dalam rangka mengejar tujuannya) dan
tidak ada balasan yang dapat menyenangkannya selain surge. Oleh karena
itu ketika Anda menjadikan surge sebagai tujuan maka janganlah
sekali-kali Anda merasa senang kecuali jika Anda dapat mesuk kedalamnya
walau bagaimanapun keadaannya.
Ketiga : orang
yang memiliki kesungguhan tinggi akan mengorbankan jiwa dan segala apa
yang berharga (miliknya) untuk mendapatkan tujuannya dan mewujudkan
cita-citanya. Karena ia tahu bahwa kemuliaan itu tergantung pada
penghalang-penghalang yang merintanginya dan sesungguhnya kebaikan tidak
akan didapat kecuali dengan merasakan kesulitan dan tujuan tidak akan
tercapai kecuali dengan melintasi jembatan keletihan. Bukti kesungguhan
yang tinggi adalah upaya membangun kemandirian dan tidak bergantung pada
orang lain. Jika Anda mengira bahwa situasi telah mengalahkan Anda maka
ingatlah bahwa segala sesuatu itu akan terasa ringan jika dilakukan
karena Allah Ta’ala sehingga Anda pun akan merasa ringan menghadapi
berbagai kesulitan dan mampu mengatasinya.
Keempat :
Orang yang memiliki kesungguhan tinggi itu merasa kuat, percaya diri,
dan berani ketika melangkah menuju tujuan yang telah ditetapkannya.
Tentunya, dengan berbekal ilmu dan hujjah yang nyata. Sehingga, ia pun
bisa melalui berbagai hal yang menakutkan dan memandang ringan segala
kesulitan. Allah Ta’ala berfirman : “Dan barangsiapa yang menghendaki
kehidupan akhirat dan berusaha kea rah itu dengan sungguh-sungguh
sedang ia adalah mukmin maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya
dibalasi dengan baik” (Al-Isra : 19)
Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa
mengkhawatirkan serangan musuh, maka hendaklah ia berjalan pada awal
malam dan barangsiapa berjalan pada awal malam, maka ia akan sampai pada
tujuan. Ketahuilah sesungguhnya barang perniagaan Allah itu mahal! Dan
ketahuilah sesungguhnya barang perniagaan Allah itu adalah surga!” Ia tak rela hanya duduk menunggu hingga ajal menjemput. Justru Ia akan berusaha agar lembaran hidupnya mempunyai arti.
Kelima : Orang
yang memiliki kesungguhan tinggi itu senantiasa menyesal jika waktunya
berlalu tapi tidak digunakan dengan sebaik-baiknya untuk berdzikir
kepada Allah
Keenam : Orang
yang memiliki kesungguhan tinggi itu menyadari bahwa jika usahanya
belum juga membuahkan hasil, maka ia pun akan menambah kesungguhannya
maka dari itu ia tidak rela hanya duduk menunggu hingga ajal
menjemputnya. Akan tetapi ia akan berusaha ahar lembaran kehidupannya
memiliki arti. Sesungguhnya kebaikan tidak akan didapat kecuali dengan
mengecap kesulitan dan tujuan tidak akan dicapai kecuali dengan
melintasi jembatan keletihan. Pernahkah Anda berpikir bahwa ketika Anda
menghafal al-Qur’an maka Anda juga mampu membantu anak Anda dan yang
lainnya untuk menghafal al-Qur’an? Jika Anda mampu, berarti Anda telah
banyak membantu kehidupan orang lain. Sebagaimana Anda telah memenuhi
rumah Anda dengan berbagai kebaikan.
Ketujuh : Orang
yang memiliki kesungguhan tinggi tidak akan terbiasa dengan hal-hal
yang bersifat fana dan tidak suka dengan kehidupan yang penuh dengan
kepalsuan. Ia terus saja naik ke atas langit yang tinggi dan tidak
berhenti naik sehingga sampai ke surga. Hal itu disebabkan oleh
tujuannya yang amat besar dan cita-citanya yang amat tinggi.
Kedelapan : Orang
yang memiliki kesungguhan tinggi itu berjiwa mulia. Ia mengetahui
betapa tinggi harga dirinya tetapi ia berusaha untuk tidak bersikap
sombong, ujub ataupun congkak. Karena jika seseorang mengetahui harga
dirinya, maka ia akan menjaga dirinya dari hal-hal yang hina. Ia juga
akan membersihkannya dari berbagai perkara yang sia-sia, baik
tersembunyi maupun tampak. Serta, ia akan menjauhkan diri dari
tempat-tempat nista dengan tidak membawa dirinya ke tempat-tempat yang
tidak pantas atau tidak menempatkannya pada sesuatu yang tidak sesuai
dengan harga dirinya. Dengan begitu, jiwanya akan tetap terjaga dengan
baik, mulia, kuat, tidak rela dengan kekurangan dan tidak akan puas
kecuali dengan mendapatkan apa yang diinginkan.
Kesembilan : orang
yang memiliki kesungguhan tinggi itu mandiri, tidak bergantung pada
orang lain. Ia membangun kemuliaannya dengan kehormatan dirinya. Ia
tidak bersandar pada kemuliaan nasab dan tidak merasa kecil hati jika
tidak memiliki kemuliaan nasab. Karena, kemuliaannya adalah
kesungguhannya. Oleh karenanya, jika besarnya kesungguhan digabungkan
dengan kemuliaan nasab, maka gabungan itu akan menjadi seperti ikatan
yang tersimpul dengan baik dan indah. Maka dari itu jangan pernah merasa
bangga bila Anda berasal dari rumah yang seluruh anggota keluarganya
terdiri dari para syaikh, ulama, atau penghafal qur’an. Yang paling
penting dari semua ini adalah kehendaknya Anda menjadi seorang penghafal
al-Qur’an dan seorang yang berilmu tanpa perlu memandang apa yang
dimiliki oleh keluargamu.
~artikel ini dikutip dari buku Kaifa Tahfadzh al-Qur’an al-Karim fi Syahr karya Ir. Amjad Qasim~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar