Kemarin, ketika
saya sedang menjelaskan konsep perkalian dikelas matematika, ada satu
siswa bernama inisial ‘F’ yang sudah hafal alquran hampir 5 juz tampak
murung. Ketika yang lain sudah mulai mengerjakan tugas tabel perkalian, F
cemberut dan tidak mau melakukan apapun kecuali termenung dan memainkan
kertas. Saya membiarkan ia sekitar 5 menit untuk melihat responnya
apakah melakukan instruksi saya atau tidak, ternyata dia hanya diam
saja.
Saya pun langsung berkomentar “Ayoo anak sholeh, sedang apa? Kok tidak membuat tabelnya? Lima menit sudah berlalu, yang lain dalam waktu 5 menit sudah berhasil membuat tabel sedangkan F tidak melakukan apapun, rugi lho… jika yang lain dapat pahala belajar tapi kita tidak mendapatkan pahala karena hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun, padahal waktu yang kita miliki sama-sama berkurang…” F tetap diam tanpa kata-kata.
Karena wajah F tetap murung dan cemberut (padahal biasanya bersemangat dan kritis) saya mencoba menggali apa yang terjadi dengannya, saya berjalan mendekat padanya dan inilah dialognya :
Saya: kenapa F? Cape? Lapar? Atau ngantuk? Jika capek ato ngantuk, ustadzah beri waktu untuk tidur sebentar dan jika lapar, ustadzah beri waktu untuk makan supaya bisa konsentrasi belajar.
F: aku ga lapar dan ga ngantuk, ustadzah, aku Cuma cape pikiran… (ungkapnya dengan nada datar, deziiig… heuheu dasar bocah…)
Saya : oh.. cape pikiran, memangnya semalam tidur jam berapa?
F : jam 12 malam, ustadzah
Saya : oalah… tidurnya kok bisa larut?
F : aku nonton film kunfu sama ade (adenya masih TK, pemirsa)
Saya : Oh nonton kunfu… Umi dan Abi memangnya dimana, kok bisa nonton sampe larut?
F : Umi dan abi sudah tidur (jadi pemirsa…, F dan adenya nonton tanpa sepengetahuan ortunya)
Saya : oh gitu, ya sudah, ada yang bisa ustadzah bantu supaya F bisa membuat tabel?
F : buku ku ada yang nyoret! jadi aku bla bla bla (F mencoba memberi beberapa alasan pembenaran kenapa dia ga mau nulis)
Saya : ya sudah, supaya F mudah mengerjakan soalnya, Ustadzah bantu buatkan tabelnya ya? Mana bukunya?
F : tampak berpikir sejenak dan langsung bilang: “Ga usah ustadzah, biar aku aja yang bikinnya (F melihat temannya mengerjakan sendiri sehingga dia merasa tertantang mengerjakan sendiri) dia membuat tabel dengan gaya dan stylenya dan berkomentar : “Aku mau tabelnya gini aja bla bla bla”
Saya : iya boleh, yang penting angkanya sama dengan yang ada diwhiteboard ya (dan akhirnya, F pun berhasil membuat tabel dan mengerjakan soal dengan semangat dan serius)
ketika diakhir pembelajaran, saya mengecek pekerjaan seluruh siswa satu persatu. Ternyata siswa yang mengerjakan duluan belum selesai mengisi tabel, sedangkan F yang nulisnya belakangan bisa menyusul temannya yang mengerjakan duluan Heuheu. Didunia ini memang tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanya siswa yang tidak termotivasi. Itulah tugas para pendidik untuk memotivasi siswanya (bukan dengan hukuman tanpa memberinya pemahaman, tapi dengan mengeksplor anak kenapa dia tidak mau belajar, dengan bertanya pada anak untuk meminta konfirmasinya kenapa dia tidak mau melakukan sesuatu, biasanya anak lebih terbuka dan akhirnya mau melakukan apa yang kita inginkan jika kita bertanya kenapa dia tidak mau mengerjakan tugas baru kemudian kita memberikan penjelasan yang mudah dia mengerti kenapa dia harus mengerjakan suatu tugas).
Semalas-malasnya anak, dia tetaplah manusia yang harus selalu dihargai dan dijaga harga dirinya, jangan pernah memojokkannya dengan kata-kata yang melukai hatinya karena itu akan menghancurkan harga diri anak. Luka fisik pada anak bisa sembuh dengan berjalannya waktu tapi Jika sekali saja hati anak terluka oleh kata-kata, bisa jadi seumur hidup dia akan ingat dan hatinya akan tetap terluka seumur hidup jika masalahnya tidak diselesaikan dengan tuntas.
Dengan pendekatan dialog sederhana yang bisa difahami anak dan selalu menghargainya dengan bahasa santun, ternyata anak memang bisa merubah perilakunya sendiri tanpa harus diancam dengan hukuman fisik yang selalu ada di Film Film ketika ada siswa yang tidak mengerjakan tugas yang langsung dihukum oleh guru tanpa ditanya terlebih dulu kenapa dia tidak mengerjakan tugas atau PR.
Anak malas belajar adalah hal yang lumrah seperti hal nya orang dewasa terkadang tidak mood melakukan apapun. Tapi dalam rangka membentuk kepribadian anak, ketika anak malas belajar, kita tidak boleh membiarkan ia melakukan apa yang dia inginkan tapi kita harus bersabar mengeksplornya kenapa dia tidak mau belajar. karena sekali dia kita bolehkan tidak belajar ketika dikelas, biasanya kedepannya dia akan leha leha dan memiliki banyak excuse bagi kemalasannya. Jika dialog dari hati ke hati sudah terekplor, anak biasanya langsung melakukan tugas yang kita berikan dengan semangat, apalagi memberinya hadiah apakah makanan kesukaannya atau pencil (meskipun hanya sebuah pencil, siswa saya yang pindahan dari amerika pun sangat senang ketika dia mendapat sebuah pencil karena ia tertib selama belajar). Beri perhatian lebih ketika anak berprestasi atau mau belajar atau mengerjakan tugas sehingga siswa lain pun akan terpacu untuk senantiasa berlomba dan bersemangat dalam setiap pembelajaran.
Selamat Berjuang duhai para pengajar diseluruh dunia ^^
Saya pun langsung berkomentar “Ayoo anak sholeh, sedang apa? Kok tidak membuat tabelnya? Lima menit sudah berlalu, yang lain dalam waktu 5 menit sudah berhasil membuat tabel sedangkan F tidak melakukan apapun, rugi lho… jika yang lain dapat pahala belajar tapi kita tidak mendapatkan pahala karena hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun, padahal waktu yang kita miliki sama-sama berkurang…” F tetap diam tanpa kata-kata.
Karena wajah F tetap murung dan cemberut (padahal biasanya bersemangat dan kritis) saya mencoba menggali apa yang terjadi dengannya, saya berjalan mendekat padanya dan inilah dialognya :
Saya: kenapa F? Cape? Lapar? Atau ngantuk? Jika capek ato ngantuk, ustadzah beri waktu untuk tidur sebentar dan jika lapar, ustadzah beri waktu untuk makan supaya bisa konsentrasi belajar.
F: aku ga lapar dan ga ngantuk, ustadzah, aku Cuma cape pikiran… (ungkapnya dengan nada datar, deziiig… heuheu dasar bocah…)
Saya : oh.. cape pikiran, memangnya semalam tidur jam berapa?
F : jam 12 malam, ustadzah
Saya : oalah… tidurnya kok bisa larut?
F : aku nonton film kunfu sama ade (adenya masih TK, pemirsa)
Saya : Oh nonton kunfu… Umi dan Abi memangnya dimana, kok bisa nonton sampe larut?
F : Umi dan abi sudah tidur (jadi pemirsa…, F dan adenya nonton tanpa sepengetahuan ortunya)
Saya : oh gitu, ya sudah, ada yang bisa ustadzah bantu supaya F bisa membuat tabel?
F : buku ku ada yang nyoret! jadi aku bla bla bla (F mencoba memberi beberapa alasan pembenaran kenapa dia ga mau nulis)
Saya : ya sudah, supaya F mudah mengerjakan soalnya, Ustadzah bantu buatkan tabelnya ya? Mana bukunya?
F : tampak berpikir sejenak dan langsung bilang: “Ga usah ustadzah, biar aku aja yang bikinnya (F melihat temannya mengerjakan sendiri sehingga dia merasa tertantang mengerjakan sendiri) dia membuat tabel dengan gaya dan stylenya dan berkomentar : “Aku mau tabelnya gini aja bla bla bla”
Saya : iya boleh, yang penting angkanya sama dengan yang ada diwhiteboard ya (dan akhirnya, F pun berhasil membuat tabel dan mengerjakan soal dengan semangat dan serius)
ketika diakhir pembelajaran, saya mengecek pekerjaan seluruh siswa satu persatu. Ternyata siswa yang mengerjakan duluan belum selesai mengisi tabel, sedangkan F yang nulisnya belakangan bisa menyusul temannya yang mengerjakan duluan Heuheu. Didunia ini memang tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanya siswa yang tidak termotivasi. Itulah tugas para pendidik untuk memotivasi siswanya (bukan dengan hukuman tanpa memberinya pemahaman, tapi dengan mengeksplor anak kenapa dia tidak mau belajar, dengan bertanya pada anak untuk meminta konfirmasinya kenapa dia tidak mau melakukan sesuatu, biasanya anak lebih terbuka dan akhirnya mau melakukan apa yang kita inginkan jika kita bertanya kenapa dia tidak mau mengerjakan tugas baru kemudian kita memberikan penjelasan yang mudah dia mengerti kenapa dia harus mengerjakan suatu tugas).
Semalas-malasnya anak, dia tetaplah manusia yang harus selalu dihargai dan dijaga harga dirinya, jangan pernah memojokkannya dengan kata-kata yang melukai hatinya karena itu akan menghancurkan harga diri anak. Luka fisik pada anak bisa sembuh dengan berjalannya waktu tapi Jika sekali saja hati anak terluka oleh kata-kata, bisa jadi seumur hidup dia akan ingat dan hatinya akan tetap terluka seumur hidup jika masalahnya tidak diselesaikan dengan tuntas.
Dengan pendekatan dialog sederhana yang bisa difahami anak dan selalu menghargainya dengan bahasa santun, ternyata anak memang bisa merubah perilakunya sendiri tanpa harus diancam dengan hukuman fisik yang selalu ada di Film Film ketika ada siswa yang tidak mengerjakan tugas yang langsung dihukum oleh guru tanpa ditanya terlebih dulu kenapa dia tidak mengerjakan tugas atau PR.
Anak malas belajar adalah hal yang lumrah seperti hal nya orang dewasa terkadang tidak mood melakukan apapun. Tapi dalam rangka membentuk kepribadian anak, ketika anak malas belajar, kita tidak boleh membiarkan ia melakukan apa yang dia inginkan tapi kita harus bersabar mengeksplornya kenapa dia tidak mau belajar. karena sekali dia kita bolehkan tidak belajar ketika dikelas, biasanya kedepannya dia akan leha leha dan memiliki banyak excuse bagi kemalasannya. Jika dialog dari hati ke hati sudah terekplor, anak biasanya langsung melakukan tugas yang kita berikan dengan semangat, apalagi memberinya hadiah apakah makanan kesukaannya atau pencil (meskipun hanya sebuah pencil, siswa saya yang pindahan dari amerika pun sangat senang ketika dia mendapat sebuah pencil karena ia tertib selama belajar). Beri perhatian lebih ketika anak berprestasi atau mau belajar atau mengerjakan tugas sehingga siswa lain pun akan terpacu untuk senantiasa berlomba dan bersemangat dalam setiap pembelajaran.
Selamat Berjuang duhai para pengajar diseluruh dunia ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar