Buku
Psikologi Perkembangan Anak & Remaja ini merupakan buku karya
Dr. H.
Syamsu Yusuf LN., M.Pd. Buku ini membahas tentang psikologi perkembangan
anak & remaja dari beberapa perspektif ilmuan Barat yang
melakukan penelitian terhadap beberapa sample.
Problema
anak lahir dari ketidakpahaman kita sebagai orang tua. Maka pemanfaatan
temuan-temuan psikolog perkembangan tentang proses perubahan setiap aspek
perkembangan :
1. Penyusunan kurikulum
2.
Penetapan
& penyusunan sekuensi materi pelajaran
3.
Penerapan
pendekatan/ metode pembelajaran
4.
Penggunaan
alat peraga
5.
Penyusunan
evaluasi hasil belajar
6.
Penyelenggaraan
program bimbingan & konseling
Dalam
pengkajian Psikologi perkembangan dipelajari tentang perubahan tingkah laku
& kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi
sampai mati (Ross Vasta, 1992)
Tujuan
penelitian perkembangan :
1. Memberikan gambaran tentang tingkah laku anak
yang meliputi pertanyaan-pertanyaan seperti : kapan bayi mulai berjalan? Apa
keterampilan sosial yang khas bagi anak usia 4 tahun? Bagaimana anak usia kelas
6 memecahkan konflik dengan teman-temannya?
2. Mengidentifikasi faktor penyebab & proses
yang melahirkan perubahan perilaku dari satu perkembangan berikutnya.
Faktor-faktor ini meliputi warisan genetika, karakteristik biologis &
struktur otak, lingkungan fisik & sosial dalam kehidupan anak &
pengalaman-pengalaman anak.
Beberapa
Teori Perkembangan
1. Pendekatan perkembangan kognitif, kunci untuk
memahami tingkah laku anak terletak pada pemahaman tentang bagaimana
pengetahuan tersebut terstruktur dalam berbagai aspeknya. Ada 3 model
perkembangan kognitif :
a.
Model
dari Piaget, intelegensi bukan sesuatu yang dimiliki anak, tapi yang
dilakukannya. Perkembangan kognitif (intelegensi) meliputi 4 tahap / periode
dibawah ini
Tabel
perkembangan kognitif menurut Piaget
Periode
|
Usia
|
Deskripsi Perkembangan
|
1.
Sensorimotor
|
0-2 tahun
|
Pengetahuan
anak diperoleh melalui interaksi fisik, baik dengan orang lain/objek(benda),
skema-skemanya baru berbentuk refleks-refleks sederhana, seperti :
menggenggam/mengisap
|
2.
Praoperasional
|
2-6 tahun
|
Anak mulai
menggunakan simbol-simbol untuk merepresentasi dunia (lingkungan) secara
kognitif. Simbol-simbol itu seperti kata-kata & bilangan yang dapat
menggantikan objek, peristiwa & kegiatan (tingkah laku yang tampak)
|
3.
Operasi
konkret
|
6-11 tahun
|
Anak sudah
dapat membentuk operasi-operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki.
Mereka dapat menambah,mengurangi & mengubah. Operasi ini memungkinkannya
untuk dapat memecahkan masalah secara logis.
|
4.
Operasi
formal
|
11 tahun
-dewasa
|
Periode
ini merupakan operasi mental tingkat tinggi. Disini, anak (remaja) sudah
dapat berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa hipotesis/ abstrak, tidak hanya
dengan objek-objek konkret. Remaja sudah dapat berpikir untuk memecahkan
masalah melalui penggunaan alternatif yang ada.
|
b.
Model
pemrosesan informasi, meliputi 3 hal:
1.
Input :
proses informasi dari lingkungan/ stimulasi (rangsangan) yang masuk kedalam
reseptor-reseptor panca indera dalam bentuk penglihatan suara & rasa.
2.
Proses :
pekerjaan otak untuk mentransformasikan informasi/ stimulasi dalam cara yang
beragam yang meliputi mengolah/menyusun informasi kedalam bentuk-bentuk
simbolik,membandingkan dengan informasi sebelumnya, memasukkan ke dalam memori
& menggunakannya bila diperlukan.
3.
Output :
yang berbentuk tingkah laku, seperti : berbicara, menulis, interaksi sosial
dsb.
c.
Model
kognisi sosial, kebudayaan telah mengajari anak tentang apa yang dipikirkan
& bagaimana cara berpikir. Lev Vygotsky meyakini bahwa perkembangan
kognitif menghasilkan proses sosio instruksional yang karenanya anak belajar
saling tukar pengalaman dalam memecahkan masalah dengan orang lain, seperti
orang tua, guru, saudara & teman sebaya. Perkembangan merupakan proses
internalisasi terhadap kebudayaan yang membentuk pengetahuan & alat adaptasi
yang wahana utamanya melalui bahasa/ komunikasi verbal. Kognisi sosial =
pengetahuan tentang lingkungan sosial dan hubungan interpersonal. Model ini menekankan
tentang dampak/ pengaruh pengalaman sosial terhadap perkembangan kognitif.
Tokoh dari perkembangan ini yaitu Lev Vygosky (1886-1934) ahli psikologi dari
Rusia. Teori ini menekankan tentang kebudayaan sebagai faktor penentu bagi
perkembangan individu. Diyakini, bahwa hanya manusia yang dapat menciptakan
kebudayaan & setiap anak manusia berkembang dalam konteks kebudayaannya.
Kebudayaan memberikan 2 kontribusi terhadap perkembangan intelektual anak :
anak memperoleh banyak sisi pemahamannya & anak memperoleh banyak cara
berpikir/ alat-alat adaptasi intelektual (bahasa)
2.
Pendekatan
belajar/lingkungan, teori-teori belajar/lingkungan berakar dari asumsi bahwa
tingkah laku anak diperoleh melalui pengkondisian (conditioning) dan
prinsip-prinsip belajar. Disini dibedakan antara tingkah laku yang dipelajari
dengan yang temporer (tidak dapat diamati/ yang berdasarkan proses biologis)
dalam hal ini Skinner membedakan “respondent behavior” dengan “operant
behavior”.
a.
Respondent
behavior, merupakan respons yang didasarkan kepada refleks yang dikontrol
stimulus. Respon ini terjadi ketika ada stimulus dan tidak terjadi apabila
stimulus tidak ada. Dalam kehidupan manusia, tingkah laku responden terjadi
selama masa anak yang termasuk didalamnya refleks, seperti : mengisap &
menggenggam. Anak-anak juga orang dewasa biasa menampilkan tingkah laku
responden yaitu dalam bentuk respon fisiologis (seperti bersin) dan respon
emosional (seperti sedih & marah)
b.
Operant
behavior, yaitu tingkah laku sukarela yang dikontrol oleh dampak/konsekuennya.
Pada umumnya dapat tingkah laku yang menyenangkan cenderung akan diulang
kembali, sedangkan yang tidak menyenangkan cenderung ditinggalkan (tidak
diulang kembali)
Ada 4 tipe
cara pengkondisian dalam kegiatan belajar :
1. Habituasi, yaitu bentuk belajar sederhana yang
melibatkan tingkah laku responden dan terjadi ketika respon refleks menghilang
karena diperolehnya stimulus yang samasecara berulang. Seperti : jika kita
bertepuk tangan di dekat bayi maka dia akan memperlihatkan respon
kekagetannya/keterkejutannya dengan membalikkan seluruh badannya/menoleh.
Apabila bertepuk tangan diulang-ulang dengan frekuensi yang relatif sama
(sekitar 15 detik) sekali maka respons kekagetannya akan menghilang
2.
Respondent
conditioning (classical) merupakan salah satu bentuk belajar yang netral,
melibatkan refleks dimana stimulus memperoleh kekuatan untuk mendapatkan respon
reflektif
3.
Operant
conditioning, bentuk belajar dimana tingkah laku operan berubah karena
dipengaruhi oleh dampak tingkah laku tersebut. Dampak yang membuat suatu
respons terjadi kembali disebut “reinforcer” seperti : (a) seorang anak
meminjamkan boneka kepada temannya, karena dengan melakukan perbuatan tersebut
‘anakitu sering mendapatkan pinjaman serupa dari temannya dan (b) anak menangis
di toko swalayan karena kebiasaan menangisnya itu menyebabkan ibunya membelikan
boneka/permen.
4. Discriminating learning tipe belajar yang
sangat erat dengan ‘operant conditioning’ kadang-kadang tingkah laku yang sama
dari anak yang sama menghasilkan dampak yang berbeda, bergantung pada keadaan,
seperti : kegiatan agresif (menyerang) mungkin akan mendapat pujian pada saat
bermain sepak bola tetapi akan mendapat hukuman apabila dilakukan diruang
kelas.
Teori lain dari pendekatan ini yaitu model
belajar sosial, model ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Albert Bandura yang
lebih mengajukan peranan faktor-faktor kognitif dari pada analisis tingkah
laku. Asumsi terpentingnya adalah bahwa belajar observasional terjadi ketika
tingkah laku observer (anak) berubah sebagai hasil dari pandangannya terhadap
tingkah laku seorang model (seperti orang tua, guru, saudara, teman, pahlawan,
bintang film dll). Hal yang sangat penting dari ‘modeling’ adalah mencontoh
tingkah laku yang di observasi dalam bentuk yang umum. Bandura meyakini bahwa
belajar melalui observasi (observational learning/ modeling itu melibatkan 4
proses, yaitu: (1) attentional, yaitu proses dimana observer/anak menaruh
perhatian terhadap tingkah laku/ penampilan model [orang yang diimitasi], (2)
retention yaitu proses yang merujuk kepada upaya anak untuk memasukkan
informasi tentang model, seperti karakteristik penampilan fisiknya, mental
& tingkah lakunya kedalam memori (3) production, yaitu proses mengontrol
tentang bagaimana anak dapat mereproduksi respons/ tingkah laku model.
Kemampuan mereproduksi ini bisa berbentuk keterampilan fisik/kemampuan
mengidentifikasi tingkah laku model (4) motivational yaitu proses pemilihan
tingkah laku model yangdiimitasi oleh anak. Dalam proses ini terdapat faktor
penting yang mempengaruhinya yaitu ‘reinforcement’/’punishment’, apakah
terhadap model / langsung kepada anak)
3. Pendekatan Imam Al-Ghazali
Al-Ghazali
berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan membawa fitrah yang seimbang dan
sehat. Kedua orangtuanyalah yang memberikan agama kepada mereka. Demikian pula
anak dapat terpengaruh oleh sifat-sifat yang buruk dari lingkungan yang dihidupinya
dan corak hidup yang memberikan peranan kepadanya dan dari kebiasaan-kebiasaan
yang dilakukannya. Ketika dilahirkan, keadaan tubuh anak belum sempurna.
Kekurangan ini diatasinya dengan latihan & pendidikan yang ditunjang dengan
makanan. Demikian pula halnya dengan tabiat yang difitrahkan kepada anak yang
merupakan kebajikan yang diberikan al-khalik kepadanya. Tabiat ini dalam
keadaan berkekurangan (dalam keadaan belum berkembang dengan sempurna) dan
dapat disempurnakan serta diperindah dengan pendidikan yang baik, yang oleh
al-Ghazali dipandang sebagai salah satu proses yang penting & tidak mudah.
Al-Ghazali mengatakan bahwa penyembuhan badan memerlukan seorang dokter yang
tahu tentang tabiat badan serta macam-macam penyakitnya dan tentang cara-cara
penyembuhannya. Demikian pula halnya dengan penyembuhan jiwa & pendidikan
akhlak. keduanya membutuhkan pendidik yang tahu tentang tabiat dan kekurangan
jiwa manusia serta tentang cara memperbaiki dan mendidiknya. Kebodohan dokter
akan merusak kesehatan orang sakit.
Begitu pun kebodohan guru & pendidik
akan merusak akhlak muridnya. Sesungguhnya setiap penyakit memiliki obat dan
cara penyembuhannya, al-Ghazali berkata : “...Demikianlah guru yang diikuti
yang mengobati jiwa murid-muridnya dan hati orang-orang yang diberi petunjuk,
hendaknya tidak membebani mereka dengan berbagai latihan & tugas dalam
bidang khusus dengan beban metode yang khusus pula sebelum ia mengetahui akhlak
serta penyakit mereka. Apabila dokter mengobati seluruh pasien dengan obat yang
sama, maka ia akan membunuh banyak manusia. demikian pula halnya dengan guru
apabila ia mengarahkan seluruh murid kepada satu macam pola yang sama, niscaya
ia akan menghancurkan mereka dengan
mematikan hati mereka. Oleh karena itu, hendaknya guru memperhatikan penyakit,
keadaan, usia dan tabiat serta motivasi peserta didiknya. Atas dasar itulah
hendaknya ia memprogram pendidikannya”
Al-Ghazali
tidak menganjurkan penggunaan satu metode saja dalam menghadapi permasalahan
akhlak serta pelaksanaan pendidikan anak. Dia menganjurkan agar guru memilih
metode pendidikan sesuai dengan usia dan tabiat anak, daya tangkap dan daya
tolaknya (daya persepsi dan daya rejeksinya) sejalan dengan situasi
kepribadiannya. Dengan ini, sekali-kali al-Ghazali memperhatikan masalah
perbedaan individual didalam melaksanakan pendidikan.
Dalam upaya
mengembangkan akhlakul karimah (akhlak mulia) anak, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu :
1. Menjauhkan anak dari pergaulan yang buruk
2.
Membiasakannya
untuk bersopan santun
3.
Memberikan
pujian kepada anak yang melakukan amal shaleh, misalnya berbuat sopan dan
mencela anak yang melakukan kezaliman/kelaliman
4.
Membiasakannya
mengenakan pakaian yang bersih dan rapih
5.
Menganjurkan
mereka untuk berolah raga
6.
Menginzinkannya
bermain setelah belajar
7. Dll
Memahami
Perkembangan Anak
Ada beberapa
point yang harus diperhatikan untuk mengembangkan potensi anak agar optimal,
yaitu :
1. Masa anak merupakan periode perkembangan yang
cepat dan terjadinya perubahan dalam banyak aspek perkembangan
2.
Pengalaman
masa kecil memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya
3.
Pengetahuan
tentang perkembangan anak dapat membantu mereka mengembangkan diri dan
memecahkan masalah yang dihadapinya
4. Melalui pemahaman tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan anak, dapat diantisipasi tentang berbagai upaya untuk
memfasilitasi perkembangan tersebut, baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun
masyarakat. Disamping itu, dapat diantisipasi juga tentang upaya untuk mencegah
berbagai kendala/ faktor-faktor yang mungkin akan mengkontaminasi (meracuni)
perkembangan anak.
Konsep Dasar Perkembangan
Pengertian
dan ciri-ciri perkembangan
Perkembangan
= perubahan yang progresif dan kontinue dalam diri individu dari mulai lahir
sampai mati (The progressive and continous change in the organism from birth to
death). Impulsif = dorongan untuk bertindak sebelum berpikir.
Setiap fase
perkembangan memiliki ciri khas, prinsip ini bisa dijelaskan dengan contoh
berikut : (a) sampai usia 2 tahun, anak memusatkan untuk mengenal
lingkungannya, menguasai gerak-gerik fisik & belajar berbicara, (b) pada
usia 3-6 tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia sosial (belajar
bergaul dengan orang lain)
Tahap
perkembangan berdasarkan analisis biologis
Sekelompok
ahli menentukan pembabakanitu berdasarkan keadaan/proses pertumbuhan tertentu,
yaitu :
Aristoteles
menggambarkan perkembangan individu, sejak anak sampai dewasa itu kedalam 3
tahapan. Setiap tahapan lamanya 7 tahun, yaitu : (1) Tahap I : dari 0-7 tahun
(masa anak kecil, masa bermain), (2) Tahap II : dari 7-14 tahun (masa anak,
masa sekolah dasar), (3) Tahap III : dari 14-21 tahun (masa remaja/pubertas,
masa peralihan dari usia anak menjadi orang dewasa)
Penahapan
ini didasarkan pada gejala dalam perkembangan fisik. Hal ini dijelaskan bahwa
antara tahap I dan tahap II dibatasi oleh pergantian gigi, antara tahap II dan
tahap III ditandai dengan mulai berfungsinya organ-organ reproduksi
Kretscmer,
mengemukakan bahwa dari lahir hingga dewasa, individu melewati 4 tahapan : (1)
Tahap I : dari 0-3 tahun, fullungs (pengisian) dimana anak tampak pendek gemuk,
(2) Tahap II : dari 3-7 tahun, streckungs dimana anak tampak langsing meninggi,
(3)Tahap III : dari 7-13 tahun, anak tampak pendek gemuk kembali, (4)Tahap IV
dari 13-20 tahun, anak nampak kembali langsing
Elizabeth
Hurlock mengemukakan penahapan perkembangan individu, yaitu : (1) Tahap I, fase
prenatal, sebelum lahir yaitu 9bulan/280hari, (2)Tahap II, infancy/orok yaitu
sejak lahir-usia 10/14 hari, (3) tahap III, babyhood(bayi) dari 2 minggu -2
tahun, (4)Tahap IV, childhood (kanak-kanak) mulai dari 2 tahun-masa remaja,
(5)Tahap V, adolesence/puberty mulai usia 11/13 tahun-21 tahun.
Tahap
Perkembangan Berdasarkan Didaktis
Dasar
didaktis / instruksional yang dipergunakan oleh para ahli ada beberapa
kemungkinan :
1. Apa yang harus diberikan kepada anak didik
pada masa-masa tertentu?
2.
Bagaimana
caranya mengajar/menyajikan pengalaman belajar kepada anak didik pada masa-masa
tertentu?
3. Kedua hal tersebut dilakukan secara bersamaan
yang dapat digolongkan ke dalam penahapan berdasarkan didaktis dimana bahan
pengajaran (bahan pendidikan) yang sesuai dengan perkembangan anak didik &
harus dipergunakan metode penyampaian yang sesuai dengan perkembangannya.
Fase-fase perkembangan individu
Tahap
Perkembangan
|
Usia
|
Masa Usia
Pra sekolah
|
0-6 tahun
|
Masa usia
sekolah dasar
|
6-12 tahun
|
Masa usia
sekolah menengah
|
12-18
tahun
|
Masa usia
mahasiswa
|
18-25
tahun
|
Faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan
Hereditas/
keturunan merupakan aspek individu yang bersifat bawaan & memiliki potensi
untuk berkembang seberapa jauh perkembangan individu itu terjadi &
bagaimana kualitas perkembangannya, bergantung pada kualitas hereditas &
lingkungan yang mempengaruhinya. Lingkungan adalah faktor penting disamping
hereditas yang menentukan perkembangan individu. Lingkungan meliputi fisik,
psikis, sosial & religius.
Fungsi
keluarga secara psikososiologis :
1. Pemberi rasa aman bagi anak & anggota
keluarga lainnya
2.
Sumber
pemenuhan kebutuhan, fisik & psikis
3.
Sumber
kasih sayang & penerimaan
4.
Model
pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakatnya
yang baik
5.
Pemberi
bimbingan bagi pengembangan kepribadian
6.
Stimulator
bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi baik disekolah maupun
masyarakat
7. Pembimbing dalam mengembangkan aspirasi
Keluarga
yang fungsional ditandai dengan karakteristik :
1. Saling memperhatikan & mencintai
2.
Bersikap
terbuka & jujur
3.
Orang tua
mau mendengar anak, menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya
4.
Ada
sharing masalah/ pendapat diantara anggota keluarga
5.
Mampu
berjuang mengatasi masalah hidupnya
6.
Saling
menyesuaikan diri & mengakomodasi
7.
Orang tua
melindungi (mengayomi) anak
8.
Komunikasi
antar anggota keluarga berlangsung dengan baik
9.
Keluarga
memenuhi kebutuhan psikososial anak
10. Mampu menyikapi perubahan yang terjadi
Alexander A.
Schneiders (1960) mengemukakan : keluarga ideal ditandai dengan :
1. Minimnya perselisihan antar orang tua/ orang
tua dengan anak
2.
Ada
kesempatan untuk mengatakan keinginan
3.
Penuh
kasih sayang
4.
Penerapan
disiplin yang tidak keras
5.
Ada
kesempatan untuk bersikap mandiri dalam berpikir, merasa & berperilaku
6.
Saling
menghormati, menghargai (mutual respect) di antara orang tua dengan anak
7.
Ada
musyawarah keluarga dalam memecahkan masalah
8.
Menjalin
kebersamaan
9.
Orang tua
memiliki emosi stabil
10. Berkecukupan dalam bidang ekonomi
11. Mengamalkan nilai-nilai agama
Untuk
merespon berbagai masalah yang mengganggu keharmonisan keluarga, covey
mengajukan resep yang dinamakan The 7 habits of highly effective families.
Effective family = a beautiful family culture
1. Semangat keluarga, perasaan, iklim/atmosfir
keluarga
2.
Karakter
keluarga, kedalaman kualitas & kematangan interaksi
3.
Cara para
anggota untuk empati
4. Spirit/perasaan yang mengembangkan pola
tingkah laku kolektif yang dengan adanya interaksi keluarga
7 kebiasaan
keluarga yang efektif :
1. Be proactive, menjadi pembaharu dalam keluarga
2.
Begin
with the endin mind, misi pernikahan/keluarga
3.
Put first
things first
4.
Think
win-win, para anggota keluarga berpikir dalam tatanan yang saling
menguntungkan, mereka memelihara dukungan & sikap saling menghormati
5.
Seek
first to understand... then to be understood (memecahkan masalah keluarga
melalui komunikasi yang empatik). Para anggota keluarga kali pertama
mendengarkan secara intensif untuk memahami pikiran dan perasaan anggota
lainnya sehingga mampu berkomunikasi secara efektif terhadap pikiran &
perasaan sendiri. Melalui pemahaman, mereka membangun hubungan kepercayaan dan
kasih sayang yang mendalam
6.
Synergize, para anggota keluarga
mengembangkan kekuatan-kekuatan keluarga & para anggotanya melalui sikap
menghormati & penilaian terhadap perbedaan masing-masing dalam hal ini
keutuhan menjadi lebih penting
7. Sharpen the saw (‘memperuncing gergaji’),
keluarga mengembangkan efektivitasnya melalui pembaharuan pribadi dan keluarga
secara reguler dalam 4 bidang : memelihara gizi & mengelola stres,
sosial/emosional (menjalin persahabatan, memberikan bantuan, mendengarkan orang
lain secara empatik & menciptakan sinergi), spiritual (berdoa, shalat,
membaca al-qur’an), mental (membaca, menulis, mengembangkan bakat & belajar
keterampilan)
Untuk
mengembangkan/menanamkan ke7 kebiasaan tersebut, covey mengajukan 4 prinsip
peranan keluarga :
1. Modelling (example of trustworthness), orang tua
adalah contoh / model bagi anak, cara berpikir & berbuat anak dibentuk oleh
cara berpikir & berbuat ortunya
2.
Mentoring
yaitu kemampuan untuk menjalin/ membangun hubungan, investasi emosional (kasih
sayang kepada orang lain)/ pemberian perlindungan kepada orang lain secara
mendalam, jujur. Ada 5 cara untuk memberikan kasih sayang kepada orang lain
yaitu : (1) empathizing(mendengarkan hati orang lain dengan hati sendiri),
(2)sharing: berbagi wawasan, emosi & keyakinan, (3) affirming, memberikan
ketegasan (penguatan) kepada orang lain dengan kepercayaan, penilaian,
konfirmasi, apresiasi & dorongan, (4) praying, mendoakan orang lain secara
ikhlas dari jiwa yang paling dalam, (5)sacrificing: berkorban untuk orang lain
3.
Organizing,
untuk meluruskan struktur & sistem keluarga dalam rangka untuk membantu
menyelesaikan hal-hal yang penting
4. Teaching: ortu =guru bagi anak-anaknya, peran
ortu sebagai guru = menciptakan conscious competence pada diri anak yaitu
mereka memahami tentang apa yang mereka kerjakan dan alasan tentang mengapa
mereka mengerjakan itu.
Terdapat
beberapa pola sikap/perlakuan ortu terhadap anak yang masing-masing memiliki
pengaruh tersendiri terhadap kepribadian anak (Hurlock, 1956) pola-pola
tersebut dapat disimak dibawah ini:
Sikap/perlakuan ortu & dampaknya terhadap
kepribadian anak
Pola
perlakuan ortu
|
Perilaku
ortu
|
Profil
tingkah laku anak
|
1.
Overprotection
(terlalu melindungi)
|
1.
Kontak
yang belebihan dengan anak
2.
Perawatan
/pemberian bantuan kepada anak yang terus menerus, meskipun anak sudah mampu
merawat dirinya sendiri
3.
Mengawasi
kegiatan anak secara berlebihan
4.
Memecahkan
masalah anak
|
1. Perasaan tidak aman
2. Agresif & dengki
3. Mudah
merasa gugup
4. Melarikan diri dari kenyataan
5. Sangat tergantung
6. Ingin menjadi pusat perhatian
7. Bersikap menyerah
8. Lemah dalam ego strength. Aspiratif,
toleransi terhadap frustasi
9. Kurang mampu mengendalikan emosi
10.
Menolak
tanggungjawab
11.
Kurang
percaya diri
12.
Mudah
terpengaruh
13.
Peka
terhadap kritik
14.
Bersikap
‘Yes Men’
15.
Egois/selfish
16.
Suka
bertengkar
17.
Troublemaker
18.
Sulit
dalam bergaul
19.
Mengalami
‘homesick’
|
2. Permissiveness (pembolehan)
|
1.
Memberikan
kebebasan untuk berpikir/berusaha
2.
Menerima
gagasan/pendapat
3.
Membuat
anak merasa diterima & merasa kuat
4.
Toleran
& memahami kelemahan anak
5.
Cenderung
lebih suka memberi yang diminta anak
|
1. Pandai mencari jalan keluar
2. Dapat bekerjasama
3. Percaya diri
4. Penuntut & tidak sabaran
|
3. Rejection (penolakan)
|
1. Bersikap masa bodoh
2. Bersikap kaku
3. Kurang memperdulikan kesejahteraan anak
4. Menampilkan sikap permusuhan/dominasi
terhadap anak
|
1. Agresif (mudah marah, gelisah, tidak patuh,
keras kepala, suka bertengkar &nakal)
2. Submissive (kurang dapat mengerjakan tugas,
pemalu, suka mengasingkan diri, mudah tersinggung,penakut)
3. Sulit bergaul
4. Pendiam
5. Sadis
|
4 Acceptance (penerimaan)
|
1.
Memberikan
perhatian & cinta kasih yang tulus kepada anak
2.
Menempatkan
anak dalam posisi yang penting didalam rumah
3.
Mengembangkan
hubungan yang hangat dengan anak
4.
Bersikap
respek terhadap anak
5.
Mendorong
anak untuk menyatakan perasaan/pendapatnya
6.
Berkomunikasi
dengan anak secara terbuka & mau mendengarkan masalahnya
|
1. Mau bekerjasama (kooperatif)
2. Bersahabat
3. Loyal
4. Emosinya stabil
5. Ceria & bersikap optimis
6. Mau menerima tanggungjawab
7. Jujur
8. Dapat dipercaya
9. Memiliki perencanaan yang jelas untuk
mencapai masa depan
10.bersikap realistis
(memahami kekuatan & kelemahan dirinya secara objektif)
|
5.Domination (dominasi)
|
Mendominasi anak
|
1. Bersikap sopan & sangat berhati-hati
2. Pemalu, penurut, inferior & mudah
bingung
3. Tidak dapat bekerjasama
|
6.Submission (penyerahan)
|
1. senantiasa memberikan
sesuatu yang diminta anak
2. membiarkan anak berperilaku semaunya
dirumah
|
1. tidak patuh
2. tidak bertanggungjawab
3. agresif, teledor, lalai
4. bersikap otoriter
5. terlalu percaya diri
|
7. Punitiveness/ overdiscipline (terlalu
disiplin)
|
1.
Mudah
memberikan hukuman
2.
Menanamkan
kedisiplinan secara keras
|
1.
Impulsif
2.
Tidak
dapat mengambil keputusan
3.
Nakal
4.
Sikap
bermusuhan/agresif
|
Peck (Loree,
1970) telah meneliti hubungan antara karakteristik emosional dan pola perlakuan
keluarga dengan elemen-elemen struktur kepribadian remaja : hasil temuannya
menunjukkan bahwa :
1. Remaja yang memiliki ‘ego strength’
(kematangan emosional, integrasi pribadi bertingkah laku rasional, persepsi
diri & sosial yang akurat & keinginan untuk menyesuaikan diri dengan
harapan-harapan masyarakat), secara konsisten berkaitan erat dengan
pengalamannya dilingkungan keluarga yang saling mempercayai & menerima
2.
Remaja
yang memiliki “super ego strength” (berperilaku secara efektif yang dibimbing
oleh kata hatinya) sangat berkaitan erat dengan keteraturan & konsistensi
kehidupan keluarganya
3.
Remaja
yang ‘friendsliness’ & ‘spontanetty’ berhubungan erat dengan iklim keluarga
yang harmonis
4. Remaja yang bersikap bermusuhan & memiliki
perasaan gelisah/cemas terhadap dorongan-dorongan dari dalam, berkaitan erat
dengan keluarga yang otoriter
Diana
Baumrind (Weiten & Lioyd, 1994) mengemukakan hasil penelitiannya melalui
observasi & wawancara terhadap siswa TK. Penelitin ini dilakukan dirumah
& sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya perlakuan ortu
(parenting style) & kontribusinya terhadap kompetensi sosial, emosional
& intelektual siswa
Pengaruh ‘Parengting Style’ terhadap perilaku
anak
Parenting styles
|
Sikap/perilaku ortu
|
Profil perilaku anak
|
1.
Authoritarian
|
1.
Sikap
‘acceptance’ rendah, namun kontrolnya tinggi
2.
Suka
menghukum secara fisik
3.
Bersikap
mengomando (mengharuskan / memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa
kompromi)
4.
Bersikap
kaku (keras)
5.
Cenderung
emosional & bersikap menolak
|
1.
Mudah
tersinggung
2.
Penakut
3.
Pemurung,
tidak bahagia
4.
Mudah
terpengaruh
5.
Mudah
stress
6.
Tidak
memiliki arah masa depan yang jelas
7.
Tidak
bersahabat
|
2.
Permissive
|
1.
Sikap
‘acceptance’-nya tinggi, namun kontrolnya rendah
2.
Memberi
kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan/ keinginannya
|
1.
Bersikap
impulsif & agresif
2.
Suka
memberontak
3.
Kurang
memiliki rasa percaya diri
4.
Suka
mendominasi
5.
Tidak
jelas arah hidupnya
6.
Prestasinya
rendah
|
3.
Authoritative
|
1.
Sikap
‘acceptance’ & kontrolnya tinggi
2.
Bersikap
responsif terhadap kebutuhan anak
3.
Mendorong
anak untuk menyatakan pendapat/pertanyaan
4.
Memberikan
penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik & buruk
|
1.
Bersikap
bersahabat
2.
Memiliki
rasa percaya diri
3.
Mampu
mengendalikan diri
4.
Bersikap
sopan
5.
Mau bekerja sama
6.
Memiliki
rasa ingin tahunya yang tinggi
7.
Mempunyai
tujuan/arah hidup yang jelas
8.
Berorientasi
terhadap prestasi
|
Selanjutnya, Braumrind mengemukakan tentang dampak
‘parenting style’ terhadap prilaku remaja,yaitu :
1.
Remaja
yang ortunya bersikap’authoritarian’, cenderung bersikap bermusuhan &
memberontak
2.
Remaja
yang ortunya ‘permisif’, cenderung berperilaku bebas
3.
Remaja
yang ortunya ‘authotitative’, cenderung terhindar dari kegelisahan,
kekacauan/perilaku nakal
Mengkaji hal
yang sama, Weiten & Lioyd (1994) mengemukakan 5 prinsip ‘effective
parenting’ yaitu :
1.
Menyusun/membuat
standar (aturan perilaku) yang dapat dipahami, supaya anak anak diharapkan
untuk berperilaku dengan cara yang tepat sesuai dengan usianya
2.
Menaruh
perhatian terhadap perilaku anak yang baik & memberikan reward. Perlakuan
ini perlu dilakukan sebagai pengganti dari kebiasaan ortu pada umumnya yaitu
bahwa mereka suka menaruh perhatian kepada anak pada saat anak berperilaku
menyimpang namun membiarkan ketika melakukan yang baik
3.
Menjelaskan
alasannya (tujuannya) ketika meminta anak untuk melakukan sesuatu
4.
Mendorong
anak untuk menelaah dampak perilakunya terhadap orang lain
5.
Menegakkan
aturan secara konsisten
Kelas
sosial & status ekonomi
Maccoby
& Mcloyd (sigelman & shaffer, 1995) telah membandingkan ortu kelas
menengah & atas dengan kelas bawah/pekerja. Hasilnya menunjukkan bahwa ortu
kelas bawah/pekerja cenderung:
·
Sangat
menekankan kepatuhan & respek terhadap otoritas
·
Lebih
restriktif (keras)& otoriter
·
Kurang
memberikan alasan kepada anak
·
Kurang
bersikap hangat & memberi kasih sayang kepada anak
Pikunas
(1976) mengemukakan pendapat Becker, Deutsch, Kohn & Sheldon, tentang
kaitan antara kelas sosial dengan cara / teknik ortu dalam mengatur
(mengelola/memperlakukan) anak, yaitu: (1)kelas bawah (lower class), cenderung lebih
keras & lebih sering menggunakan hukuman fisik dibandingkan dengan kelas
menengah. Anak-anak dari kelas bawah cenderung ‘lebih agresif’, independendll.
(2)kelas menengah, cenderung lebih memberikan pengawasan & perhatiannya
sebagai ortu. Para Ibunya merasa bertanggungjawab terhadap tingkah laku
anak-anaknya dan menerapkan kontrol yang lebih halus, mereka memililki ambisi
untuk meraih status yang lebih pendidikan/ latihan profesional. (3)kelas atas
(upper class), cenderung lebih memanfaatkan waktu luangnya dengan
kegiatan-kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidikan yang
reputasinya tinggi & biasanya senang mengembangkan apresiasi, estetikanya,
anaknya cenderung memiliki rasa percaya diri.
Orang tua
yang mengalami tekanan ekonomi/perasaan tidak mampu mengatasi masalah
finansialnya, cenderung menjadi depresi & mengalami konflik keluarga yang
akhirnya mempengaruhi masalah remaja seperti kurang harga diri, prestasi
belajar rendah, kurang dapat bergaul dengan teman, mengalami masalah penyesuaian
diri (karena depresi & agresi)
Michael
Rutter mendefiniskan sekolah yang efektif itu sebagai sekolah yang memajukan,
meningkatkan prestasi, akademik, keterampilan sosial, sopan santun, sikap
positif terhadap belajar, rendahnya angka absen siswa & memberikan
keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan siswa agar mandiri.
Karakteristik
guru yang efektif & tidak efektif
Perilaku
yang efektif
1.
Menampilkan
sikap yang bersemangat
2.
Memperlihatkan
perhatian terhadap siswa & kegiatan kelas
3.
Bergirang
hati & optimis
4.
Memiliki
kemampuan mengendalikan diri & tidak mudah bingung
5.
Senang
bergurau/humor
6.
Mengakui/menyadari
kesalahan sendiri
7.
Bersikap
adil & objektif dalam memperlakukan siswa
8.
Bersikap
sabar
9.
Menunjukkan
sikap memahami & simpati dalam bekerja dengan siswa
10. Bersahabat & ramah dalam bergaul dengan
siswa
11. Membantu siswa dalam memecahkan masalahnya
(pribadi/pendidikan)
12. Memberikan komentar &penghargaan kepada
siswa yang melakukan tugas dengan baik
13. Menerima & menghargai usaha siswa
14. Memiliki kemampuan untuk mengantisipasi reaksi
orang lain
15. Mendorong siswa untuk mencoba melakukan
sesuatu dengan cara yang terbaik
16. Merencanakan & mengorganisasikan prosedur
pembelajaran dikelas
17. Bersifat fleksibel dalam merencanakan prosedur
pembelajaran
18. Mengatisipasi kebutuhan siswa
19. Menstimulasi siswa melalui materi & teknik
yang menarik
20. Mendemonstrasikan & menerangkan materi
pembelajaran dengan jelas]
21. Memberikan tugas dengan jelas
22. Mendorong siswa untuk memecahkan masalahnya
sendiri & mengevaluasi hasilnya
23. Menegakkan disiplin dengan cara yang positif
24. Memberikan bantuan kepada siswa secara ikhlas
25. Mengetahui secara awal & mencoba
memecahkan berbagai masalah potensial
Perilaku
Guru Yang Tidak Efektif
1.
Sikap
apatis & jenuh
2.
Memperlihatkan
kurang perhatian terhadap siswa & kegiatan kelas
3.
Depresi,
pesimis & tidak bahagia
4.
Mudah
naik darah & mudah bingung
5.
Terlalu
serius
6.
Tidak
menyadari kesalahan sendiri
7.
Tidak
bersikap objektif terhadap siswa
8.
Tidak
sabar
9.
Bersikap
kurang simpati & sering melecehkan (mencemooh) siswa]
10. Kurang bersahabat/kurang ramah dalam bergaul
dengan siswa
11. Kurang memperhatikan masalah siswa
12. Tidak memberikan komentar/penghargaan kepada
siswa yang melakukan tugas dengan baik
13. Bersikap curiga terhadap motif siswa
14. Kurang memiliki kemampuan untuk mengantisipasi
reaksi orang lain
15. Tidak berusaha memberikan dorongan kepada
siswa
16. Tidak merencanakan & mengorganisasikan
prosedur pembelajaran
17. Perencanaan prosedur pembelajaran bersifat
kaku
18. Gagal dalam mengantisifasi kebutuhan siswa
19. Materi & teknik pembelajaran tidak menarik
perhatian siswa
20. Kurang jelas dalam mendemonstrasikan &
menerangkan materi
21. Kurang jelas dalam memberikan tugas
22. Kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk
memecahkan masalahnya sendiri
23. Kurang menegakkan disiplin secara positif
24. Memberikan bantuan dengan setengah hati (ga
ikhlas)
25. Gagal dalam memahami & memecahkan masalah
yang potensial
Kelompok Teman Sebaya
Aspek
kepribadian remaja yang berkembang secara menonjol dalam pengalamannya bergaul
dengan teman sebaya :
a.
Social
cognition: kemampuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan, motif &
tingkah laku dirinya & orang lain. Kemampuannya memahami orang lain,
memungkinkan remaja untuk lebih mampu menjalin hubungan sosial yang lebih baik
dengan teman sebayanya.
b.
Konformitas
: motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam dengan nilai-nilai, kebiasaan,
kegemaran (hobi)/ budaya teman sebayanya
Remaja yang
memiliki hubungan yang baik dengan ortunya cenderung dapat menghindarkan diri
dari pengaruh negatif teman sebabanya
TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN
Robert
Havighurst melalui perspektif psikososial berpendapat bahwa periode yang
beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menuntaskan tugas-tugas
perkembangan yang khusus.
“A
development task is a task which arises at or about a certain period in the
life of the individual, successful achievement of wich leads to his happiness
and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the
individual, disapproval by society, and difficulty with later task”
“Tugas
perkembangan itu suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang
kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan
membawa kebahagiaan & kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya :
sementara jika gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu
yang bersangkutan menimbulkan penolakan masyarakat & kesulitan-kesulitan
dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya”
Munculnya
tugas-tugas perkembangan bersumber pada faktor-faktor :
1.
Kematangan
fisik, seperti : (a)belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki,
(b)belajar bersikap
2.
Tuntutan
masyarakat secara kultural, seperti : (a)belajar membaca, (b)belajar menulis,
(c)belajar berhitung, (d)belajar berorganisasi
3.
Tuntutan
dari dorongan & cita-cita individu sendiri, seperti (a)memilih pekerjaan,
(b)memilih teman hidup
4.
Tuntutan
norma agama, (a)taat beribadah kepada Allah, (b)berbuat baik kepada sesama
manusia
Tugas-tugas
perkembangan pada setiap fase perkembangan
1.
Tugas-tugas
perkembangan pada usia bayi & kanak-kanak (0-6 tahun)
·
Belajar berjalan
terjadi pada usia antara 9-15 bulan, pada usia ini tulang kaki,otot &
susunan syarafnya telah matang untuk belajar berjalan
·
Belajar
memakan makanan padat, hal ini terjadi pada tahun ke 2, sistem alat-alat
pencernaan makanan & alat-alat pengunyah pada mulut telah matang untuk hal
tersebut.
·
Belajar
berbicara: mengeluarkan suara yang berarti & menyampaikannya kepada orang
lain dengan perantaraan suara itu yang memerlukan kematangan otot-otot & syaraf
dari alat-alat berbicara
·
Belajar
buang air & buang air besar sebelum usia 4 tahun, anak pada umumnya belum
dapat mengatasi(menahan) pepsi karena perkembangan syaraf yang mengatur
pembuangan belum sempurna. Untuk memberikan pendidikan kebersihan terhadap anak
usia dibawah 4 tahun, cukup dengan pembiasaan saja yaitu setiap kali mau buang
air, bawalah anak ke WC
·
Memberikan
konsep-konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial & alam untuk mencapai
kemampuan tersebut (mengenal pengertian-pengertian) diperlukan kematangan
sistem syaraf, pengalaman & bimbingan dari orang dewasa.
·
Belajar
mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara & orang lain
·
Belajar
bersikap dalam keseharian
Anak
dikuasai oleh hedonisme naif, dimana kesenangan dianggapnya baik &
penderitaan dianggapnya buruk, dengan bertambahnya usia, ia harus belajar
pengertian tentang baik dan buruk, benar dan salah, sebab sebagai makhluk
sosial (bermasyarakat) manusia tidak hanya memperhatikan kepentingan sendiri
saja tapi juga harus memperhatikan kepentingan orang lain. Anak mengenal
pengertian baik dan buruk, benar dan salah dipengaruhi oleh pendidikan yang
diperolehnya.
2.
Tugas-tugas
perkembangan pada masa sekolah (6-12 tahun)
·
Belajar
memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan melalui pertumbuhan
fisik & otak, anak belajar & berlari semakin stabil, makin mantap &
cepat. Pada masa sekolah, anak sudah sampai pada taraf penguasaan otot,
sehingga sudah dapat berbaris, melakukan senam pagi dan permainan-permainan
ringan seperti sepak bola, loncat tali, berenang dll
·
Belajar
membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.
Hakikat tugas ini : (1)mengembangkan kebiasaan untuk memelihara badan, meliputi
kebersihan, keselamatan diri & kesehatan, (2)mengembangkan sikap positif
terhadap diri sendiri dan juga menerima dirinya (baik rupa wajahnya maupun
postur tubuhnya) secara positif
·
Belajar
bergaul dengan teman-teman sebaya yakni belajar menyesuaikan diri dengan
lingkungan & situasi yang baru serta teman-teman sebayanya
·
Belajar
memainkan peranan sesuai dengan genjer
·
Belajar
keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung
·
Belajar
mengembangkan konsep sehari-hari, ingatan mengenai pengamatan yang telah lalu
itu disebut konsep (tanggapan)
·
Mengembangkan
kata hati, hakikat tugas ini adalah mengembangkan sikap dan perasaan yang
berhubungan dengan norma-norma agama.
·
Mengembangkan
sikap yang positif terhadap kelompok sosial dan lembaga-lembaga
TUGAS-TUGAS
PERKEMBANGAN REMAJA
Masa ini
merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu
& merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa
dewasa yang sehat.
William Kay
mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja sebagai berikut:
·
Menerima
fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya
·
Mencapai
kemandirian emosional dari ortu/figur-figur yang memiliki otoritas
·
Mengembangkan
keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman
sebaya/orang lain, baik secara individual maupun kelompok
·
Menemukan
manusia model yang dijadikan identitasnya
·
Menerima
dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri
·
Memperkuat
self control atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip/ falsafah hidup
(weltanschauung)
·
Mampu
meninggalkan reaksi & penyesuaian diri
Tujuan Perkembangan Masa Remaja
Dari arah
|
Ke Arah
|
Kematangan Emosional & Sosial
|
|
1.
Tidak
toleran & bersikap superior
2.
Kaku
dalam bergaul
3.
Peniruan
buta terhadap teman sebaya
4.
Kontrol
ortu
5.
Perasaan
yang tidak jelas tentang dirinya/orang lain
6.
Kurang
dapat mengendalikan diri dari rasa marah & sikap permusuhannya
|
1.
Bersikap
toleran & merasa nyaman
2.
Luwes
dalam bergaul
3.
Interdependensi
& memiliki self esteem
4.
Kontrol
diri sendiri
5.
Perasaan
mau menerima dirinya & orang lain
6.
Mampu
menyatakan emosinya secara konstruktif & kreatif
|
Kematangan kognitif
|
|
1.
Menyenangi
prinsip-prinsip umum & jawaban yang final
2.
Menerima
kebenaran & sumber otoritas
3.
Memiliki
banyak minat/perhatian
4.
Bersikap
subyektif dalam menafsirkan sesuatu
|
1.
Membutuhkan
penjelasan tentang fakta dan teori
2.
Memerlukan
bukti sebelum menerima
3.
Memiliki
sedikit minat/perhatian terhadap gender yang berbeda dan bergaul dengannya
4.
Bersikap
objektif dalam menafsirkan sesuatu
|
Filosofi hidup
|
|
1.
Tingkah
laku dimotivasi oleh kesenangan belaka
2.
Acuh
tak acuh terhadap prinsip-prinsip ideologi & etika
3.
Tingkah
lakunya tergantung pada reinforcement (dorongan dari luar)
|
1.
Tingkah
laku dimotivasi oles aspirasi
2.
Melibatkan
diri/memiliki perhatian terhadap ideologi dan etika
3.
Tingkah
lakunya dibimbing oleh tanggungjawab moral
|
Ambivalensi
(Sikap Mendua)
Target dari
pencapaian tugas perkembangan yaitu :
·
Memiliki
tujuan hidup yang realitik
·
Mampu
mengembangkan persepsi positif terhadap orang lain & mencoba berintegrasi
dengan keluarga sendiri secara mandiri
·
Mengembangkan
kemampuan untuk mengemukakan & membangun hubungan dengan beberapa orang
dewasa muda dalam masyarakat
·
Ikut
berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan
·
Berani
bepergian sendiri
·
Meminta
nasihat ortu/orang dewasa hanya pada saat mengalami masalah yang rumit
·
Mampu
menghadapi kegagalan dengan sikap rasional dengan berupaya mengatasinya secara
lebih baik tanpa menyebabkan depresi/regresi
Tugas-tugas Perkembangan Karir Remaja
Aspek
|
Profil
Perilaku
|
a.
Pengetahuan
|
1.
Mengetahui
program/tujuan sekolah
2.
Mengetahui
persyaratan/tuntutan pekerjaan yang diminati
3.
Mengetahui
gaji dari pekerjaan yang diminati
4.
Mengetahui
tingkat kepuasan para pekerja dalam bidang pekerjaan yang diminati
5.
Mengetahui
proses kenaikkan pangkat dalam pekerjaan yang diminati
6.
Mengetahui
tugas-tugas pokok yang harus dikerjakan
7.
Mengetahui
keterampilan/keahlian yang dituntut/diperlukan
8.
Mengetahui
mata pelajaran pokok dalam program studynya
9.
Mengetahui
karakteristik pribadinya secara akurat
10.
Mengetahui
tentang cara-cara memperoleh pekerjaan yang diminati
|
b.
Mencari
Informasi
|
1.
Membaca
buku/bahan-bahan bacaan lainnya yang berkaitan dengan informasi pekerjaan
2.
Mendiskusikan
pilihan-pilihan karir baik dengan ortu, guru dll
3.
Berdiskusi
dengan orang-orang yang berpengalaman dalam pekerjaan yang diminatinya
4.
Mengikuti
kursus yang mendukung pekerjaan yang diminatinya
|
c.
Sikap
|
1.
Meyakini
bahwa dia harus mengambil keputusan sendiri meskipun masih memerlukan nasihat
orang lain
2.
Mempercayai
akan pentingnya pendekatan yang sistematis dalam merencanakan &
memecahkan masalah
3.
Bertanggungjawab
untuk memperoleh informasi
4.
Meyakini
bahwa memecahkan masalah sekolah & pekerjaan merupakan tanggungjawab
sendiri
|
d.
Perencanaan
& pengambilan keputusan
|
1.
Mampu
memilih salah satu alternatif pekerjaan dari berbagai pekerjaan yang beragam
2.
Mampu
mempertimbangkan berapa lama menyelesaikan sekolah
3.
Dapat
merencanakan apa yang harus dilakukan setelah tamat sekolah
4.
Dapat
memilih program study yang sesuai dengan minat/kemampuannya
5.
Dapat
mengambil keputusan ditempat mana akan bekerja
|
e.
Keterampilan
karir
|
1.
Dapat menggunakan
sumber-sumber informasi tentang karir
2.
Dapat
menjelaskan proses pengambilan keputusan
3.
Dapat
meningkatkan perolehan keterampilan akademik/nonakademik
4.
Dapat
menggunakan bahan untuk meningkatkan keterampilan
5.
Dapat
mengelola waktu secara efektif
6.
Dapat
mengomentari ke-shahihan data tentang dirinya
7.
Dapat
melakukan kebiasaan bekerja yang efektif seperti bekerjasama dengan orang
lain.
|
Mengembangkan
keterampilan intelektual & konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara
Tugas
perkembangan ini bertujuan :
1.
Mengembangkan
konsep-konsep hukum, pemerintahan, ekonomi, politik, geografi, hakikat manusia
dll
2.
Mengembangkan
keterampilan berbahasa & kemampuan nalar (berpikir) yang penting bagi upaya
memecahkan masalah-masalah secara efektif
Dasar
biologis, sistem otak & syaraf telah mencapai ukuran orang dewasa sekitar
usia 14 tahun pertumbuhan otak itu akan lebih matang setelah usia tersebut.
Dasar
psikologis, sebagai hasil dari perpaduan unsur-unsur pertumbuhan biologis &
keragaman pengalaman dengan lingkungan remaja dapat mengembangkan kemampuan
mentalnya. Keragaman individual dalam perkembangan mentalnya menyebabkan
keragaman dalam : keterampilan berbahasa, memperoleh konsep-konsep &
interes/minat & motivasi.
Tingkat
pencapaian tugas perkembangan :
Indikatornya
memiliki reputasi sifat-sifat moral yang baik : jujur, setia, bertanggungjawab,
bersikap altruis, mampu mengendalikan diri, mau menerima & melaksanakan
tugas/kewajiban, mau berkerjasama, menaruh perhatian terhadap masalah-masalah
etika dan agama serta mendiskusikannya secara serius, dapat membedakan yang
benar dan salah, dapat menganalisis perilaku orang lain secara rasional,
memperhitungkan perasaan/pendapat orang lain dalam mengambil keputusan untuk
melakukan suatu tindakan.
Nilai-nilai akidah, ibadah & akhlakul
karimah (keyakinan & pendalaman)
Nilai-nilai agama
|
Profil sikap & perilaku remaja
|
Akidah (keyakinan)
|
1.
Meyakini
Allah sebagai pencipta
2.
Meyakini
bahwa agama sebagai pedoman hidup
3.
Meyakini
bahwa Allah maha melihat terhadap semua perbuatan (gerak gerik) manusia
4.
Meyakini
hari kiamat sebagai hari pembalasan amal manusia di dunia
5.
Meyakini
bahwa Allah maha penyayang & pengampun
|
Ibadah & akhlakul karimah
|
1.
Melaksanakan
ibadah ritual (mahdoh) seperti sholat, saum & berdoa
2.
Membaca
al-qur’an dan mendalami isinya
3.
Mengendalikan
diri dari sikap & perbuatan yang diharamkan Allah
4.
Bersikap
hormat kepada ortu & orang lain
5.
Menjalin
silaturahmi dengan saudara/orang lain
6.
Bersyukur
pada saat mendapatkan nikmat
7.
Bersabar
pada saat mendapatkan musibah
8.
Memelihara
kebersihan diri & lingkungan
9.
Memiliki
etos belajar yang tinggi
|
ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN
Aspek-aspek
perkembangan ini meliputi, fisik, intelegensi, emosi, bahasa, sosial,
kepribadian, moral & kesadaran beragama.
Perkembangan
Fisik
Fisik/ tubuh
manusia merupakan sistem organ yang kompleks & mengagumkan, semua organ ini
terbentuk pada periode pranatal (dalam kandungan). Kuhlen & Thompson
mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi 4 aspek:
1.sistem syaraf yang mempengaruhi perkembangan
kecerdasan & emosi
2. otot-otot yang mempengaruhi perkembangan
kekuatan & kemampuan motorik
3. kelenjar endoktrin yang menyebabkan
munculnya pola-pola tingkah laku baru seperti pada usia remaja berkembang
perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan
4. struktur fisik/tubuh yang meliputi tinggi, berat
& proporsi
Perkembangan
Intelegensi
Binet
(Sumadi, 1984) sifat dari hakikat intelegensi itu ada 3 macam :
a.
Kecerdasan
untuk menetapkan & mempertahankan (memperjuangkan) tujuan tertentu, semakin
cerdas seseorang akan semakin cakaplah dia membuat tujuan sendiri, memiliki
inisiatif sendiri, tak menunggu perintah saja
b.
Kemampuan
untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan tersebut
c.
Kemampuan
untuk melakukan otokritik, kemampuan untuk belajar dari kesalahan yang telah
dibuatnya
Aspek-aspek Intelegensi Menurut Gardner
Intelegensi
|
Kemampuan Diri
|
Logical mathematical
|
Kepekaan & kemampuan untuk
mengamati pola-pola logis & numerik/bilangan serta kemampuan untuk
berpikir rasional/logis
|
Linguistic
|
Kepekaan terhadap suara,
ritme, maka kata-kata & keberagaman fungsi-fungsi bahasa
|
Musical
|
Kemampuan untuk menghasilkan
& mengapresiasikan ritme nada (warna nada) & bentuk-bentuk ekspresi
musik
|
Spatial
|
Kemampuan mempersepsikan dunia
ruang-visual secara akurat dan melakukan transformasi persepsi tersebut
|
Bodily kinesthetic
|
Kemampuan untuk mengontrol
gerakan tubuh dan menangani objek-objek secara terampil
|
Interpersonal
|
Kemampuan untuk mengamati
& merespon suasana hati, temperamen & motivasi orang lain
|
Intrapersonal
|
Kemampuan untuk memahami
perasaan, kekuatan & kelemahan serta intelegensi sendiri
|
Kehidupan yang
semakin kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk terhadap konstelasi
kehidupan emosional individu, generasi sekarang lebih banyak mengalami
kesulitan emosional dari pada generasi sebelumnya. Mereka lebih kesepian dan
pemurung, lebih beringasan & kurang menghargai sopan santun, lebih gugup
dan mudah cemas, lebih impulsif & agresif.
Unsur-unsur kecerdasan Emosional
Aspek
|
Karakteristik Perilaku
|
Kesadaran
diri
|
·
Mengenal
dan merasakan emosi sendiri
·
Memahami
penyebab perasaan yang timbul
·
Mengenal
pengaruh perasaan terhadap tindakan
|
Mengelola
emosi
|
·
Bersikap
toleran terhadap frustasi dan mampu mengelola amarah secara lebih baik
·
Lebih
mampu mengungkapkan amarah dengan tepat tanpa berkelahi
·
Dapat
mengendalikan perilaku agresif yang merusak diri sendiri dan orang lain
·
Memiliki
perasaan yang positif tentang diri sendiri, sekolah dan keluarga
·
Memiliki
kemampuan untuk mengatasi ketegangan jiwa (stres)
·
Dapat
mengurangi perasaan kesepian dan cemas dalam pergaulan
|
Memanfaatkan
emosi secara produktif
|
·
Memiliki
rasa tanggungjawab
·
Mampu
memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan
·
Mampu
mengendalikan diri dan tidak bersifat impulsif
|
Empati
|
·
Mampu menerima
sudut pandang orang lain
·
Memiliki
sikap empati/kepekaan terhadap perasaan orang lain
·
Mampu
mendengar orang lain
|
Membina
hubungan
|
·
Memiliki
pemahaman & kemampuan untuk menganalisis hubungan dengan orang lain
·
Dapat
menyelesaikan konflik dengan orang lain
·
Memiliki
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain
·
Memiliki
sikap tenggang rasa dan perhatian terhadap orang lain
·
Memperhatikan
kepentingan sosial (senang menolong orang lain) dan dapat hidup selaras
dengan kelompok
·
Bersikap
senang berbagi rasa & bekerjasama
·
Bersikap
luwes dalam bergaul dengan orang lain
|
Pengaruh
emosi terhadap perilaku dan perubahan fisik individu
Beberapa
contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu diantaranya yaitu :
·
Memperkuat
semangat apabila orang merasa senang/puas atas hasil yang telah dicapai
·
Melemahkan
semangat bila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari
keadaan ini timbulnya rasa putus asa (frustasi)
·
Menghambat/mengganggu
konsentrasi belajar apabila sedang mengalami ketegangag emosi & bisa juga
menimbulkan sikap gugup dan gagap dalam berbicara
·
Terganggu
penyesuaian sosial apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati
·
Suasana
emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi
sikapnya dikemudian hari, baik terhadap sikapnya dikemudian hari, baik terhadap
dirinya sendiri atau terhadap orang lain.
Jenis-jenis emosi dan dampaknya pada perubahan
fisik
Jenis Emosi
|
Perubahan Fisik
|
Terpesona
|
Reaksi elektris pada kulit
|
Marah
|
Peredaran darah bertambah
cepat
|
Terkejut
|
Denyut jantung bertambah cepat
|
Kecewa
|
Bernapas panjang
|
Sakit/marah
|
Pupil mata membesar
|
Takut/tegang
|
Air liur mengering
|
Takut
|
Berdiri bulu roma
|
Tegang
|
Terganggu pencernaan,
otot-otot menegang/bergetar (tremor)
|
Karakteristik emosi anak dan dewasa
Emosi anak
|
Emosi orang dewasa
|
Berlangsung singkat dan
berakhir tiba-tiba
|
Berlangsung lebih lama dan
berakhir dengan lambat
|
Terlihat lebih hebat/kuat
|
Tidak terlihat hebat/kuat
|
Bersifat sementara/dangkal
|
Lebih mendalam dan lama
|
Lebih sering terjadi
|
Jarang terjadi
|
Dapat diketahui dengan jelas
dari tingkah lakunya
|
Sulit diketahui karena lebih
pandai menyembunyikannya
|
Pengelompokkan Emosi
Emosi dapat
dikelompokkan kedalam 2 bagian : emosi sensoris & emosi kejiwaan (psikis)
(a). Emosi sensoris
: yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa
dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, lapar
(b). Emosi
psikis : yang memiliki alasan-alasan kejiwaan yang termasuk emosi ini :
1. perasaan
intelektual, yang memiliki sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran, perasan
ini diwujudkan dalam bentuk: rasa yakin dn tidak yakin terhadap suatu hasil
karya ilmiah, rasa gembira karena mendapatkan suatu kebenaran, rasa puas karena
dapat menyelesaikan persoalan-persoalan ilmiah yang harus dipecahkan
2. perasaan
sosial : perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat
perorangan maupun kelompok, wujud perasaan ini : rasa solidaritas, persaudaraan
(ukhuwah), simpati, kasih sayang dll
3. perasaan
susila, perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk/ etiak
(moral) seperti : rasa tanggungjawab, rasa bersalah bila melanggar norma, rasa
tenteram dalam menaati aturan
4. perasaan
keindahan (estetis) ; perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari
sesuatu baik bersifat kebendaan maupun kerohanian
5. perasaan
ketuhanan, salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugrahi
fitrah (kemampuan/perasaan) untuk mengenal Tuhannya. Dengan kata lain, manusia
dikarunia insting religius (naluri beragama).
PERKEMBANGAN BAHASA
Makna Bahasa
Bahasa
merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain, tercakup semua cara
untuk berkomunikasi dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk
lambang/simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian seperti dengan menggunakan
lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan & mimik muka
Tugas-tugas perkembangan bahasa
Dalam berbahasa, anak dituntut
untuk menuntaskan / menguasai 4 tugas pokok yang saling berkaitan :
(1). Pemahaman, kemampuan
memahami makna ucapan orang lain, bayi memahami bahasa orang lain bukan
memahami kata-kata yang diucapkannya tapi dengan memahami
kegiatan/gerakan/gesturenya (bahasa tubuhnya)
(2).
Pengembangan perbendaharaan kata, perbendaharaan kata-kata anak berkembang
dimulai secara lambat pada usia 2 tahun pertama, kemudian mengalami tempo yang
cepat pada usia pra sekolah dan terus meningkat setelah anak masuk sekolah
(3).
Penyusunan kata-kata menjadi kalimat, kemampuan menyusun kata-kata menjadi
kalimat pada umumnya berkembang sebelum usia 2 tahun. Bentuk kalimat pertama :
kalimat tunggal dengan disertai; “gesture’ untuk melengkapi cara bepikirnya
seperti : anak menyebut “bola” sambil menunjuk bola itu dengan jarinya
(4). Ucapan,
kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan hasil belajar melalui imitasi(peniruan)
terhadap suara-suara yang didengar anak dari orang lain terutama ortunya. Pada
bayi, antara 11-18 bulan pada umumnya mereka belum dapat berbicara/mengucapkan
kata-kata secara jelas, sehingga sering tidak dimengerti maksudnya kejelasan
ucapan itu baru tercapai pada usia sekitar 3 tahun. Hasil study tentang suara
dan kombinasi suara menunjukkan bahwa anak mengalami kemudahan dan kesulitan
dalam huruf-huruf tertentu. Huruf yang mudah diucapkan yaitu huruf hidup
(vokal) : i,a,e,o,u dan huruf mati (konsonan): t, p, b, m dan n sedangkan yang
sulit diucapkan adalah huruf mati tunggal : z, w, s dan g dan huruf mati
rangkap (diftong): st, str, sk dan dr
Faktor-faktor
Yang Mempengaruhi Perkembangan bahasa
Perkembangan
bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor kesehatan, inteligensi, status sosial
ekonomi, gender dan hubungan keluarga :
(1). Faktor
Kesehatan : kesehatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan
bahasa anak, terutama pada usia awal kehidupannya. Apabila pada usia 2 tahun
pertama anak mengalami sakit terus menerus maka anak tersebut cenderung akan
mengalami kelambatan/kesulitan dalam perkembangan bahasanya, oleh karena itu
untuk memelihara perkembangan bahasa anak secara normal, ortu perlu
memperhatikan kondisi kesehatan anak. Upaya yang ditempuh dengan cara
memberikan Asi, makanan yang bergizi, memelihara kebersihan tubuh anak/secara
reguler memeriksakan anak ke dokter/ke puskesmas.
(2).
Intelegensi, perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat
intelegensinya. Anak yang perkembangan bahasanya cepat pada umumnya memiliki
intelegensi normal/di atas normal. Namun begitu, tidak semua anak yang
mengalami kelambatan perkembangan-perkembangan bahasanya pada usia awal
dikategorikan sebagai anak yang bodoh (lindgren dalam Hurlock, 1956). Hurlock
mengemukakan hasil studi mengenai anak yang mengalami kelambatan mental yaitu
bahwa sepertiga diantara mereka yang dapat berbicara secara normal dan anak
yang berada pada tingkat intelektual yang paling rendah, mereka sangat miskin
dalam berbahasanya.
(3). Status
sosial ekonomi keluarga. Beberapa study tentang hubungan antara perkembangan
bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa anak yang
berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya
dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik. Kondisi
ini terjadi mungkin disebabkan oleh perbedaan kecerdasan/kesempatan belajar
(keluarga miskin diduga kurang memperhatikan perkembangan bahasa anaknya)
(4). Gender,
pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria
dan wanita, namun mulai usia 2 tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang
lebih cepat dari anak pria
(5).
Hubungan keluarga, hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi
dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga terutama dengan ortu yang
mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak. Hubungan yang
sehat antara ortu dengan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari ortunya)
memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat
mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan/kelambatan dalam perkembangan
bahasanya. Hubungan yang tidak sehat itu bisa berupa sikap ortu yang
keras/kasar, kurang kasih sayang/kurang perhatian untuk memberikan latihan dan
contoh dalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak
cenderung akan mengalami stagnasi/kelainan seperti gagap dalam berbicara, tidak
jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk mengungkapkan pendapat
dan berkata yang kasar/tidak sopan.
Adapun upaya
yang bisa dilakukan ortu untuk sosialisasi pemkembangan sosial yang dicapai
anak yaitu:
Sosialisasi dan perkembangan anak
Kegiatan ortu
|
Pencapaian perkembangan perilaku anak
|
1.
Memberikan
makanan dan memelihara kesehatan fisik anak
2.
Melatih
dan menyalurkan kebutuhan fisiologis, toilet training, menyapih dan
memberikan makanan padat
3.
Mengajar
dan melatih keterampilan berbahasa, persepsi, fisik, merawat diri dan
keamanan diri
4.
Mengenalkan
lingkungan kepada anak, keluarga, sanak keluarga, tetangga dan masyarakat
sekitar
5.
Mengajarkan
tentang budaya, nilai-nilai agama dan mendorong anak untuk menerimanya
sebagai bagian dirinya
6.
Mengembangkan
keterampilan interpersonal motif, perasaan dan perilaku dalam berhubungan
dengan orang lain
7.
Membimbing,
mengoreksi dan membantu anak untuk merumuskan tujuan dan merencanakan
aktivitasnya
|
1.
Mengembangkan
sikap percaya kepada orang lain (development of trust)
2.
Mampu
mengendalikan dorongan biologis dan belajar untuk menyalurkannya pada tempat
yang diterima masyarakat
3.
Belajar
mengenal objek-objek, belajar bahasa, berjalan, mengatasi hambatan,
berpakaian dan makan
4.
Mengembangkan
pemahaman tentang tingkah laku sosial belajar menyesuaikan perilaku dengan
tuntutan lingkungan
5.
Mengembangkan
pemahaman tentang baik-buruk, merumuskan tujuan dan kriteria pilihan dan
berperilaku yang baik
6.
Belajar
memahami perspektif orang lain dan merespon harapan/pendapat mereka secara
selektif
7.
Memiliki
pemahaman untuk mengatur diri dan memahami kriteria untuk menilai penampilan
perilaku sendiri
|
Pada usia
anak, ada beberapa bentuk tingkah laku sosial anak yaitu:
1.
Pembangkangan
(negativisme) : suatu bentuk tingkah laku melawan, tingkah laku ini terjadi
sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin/tuntutan ortu/lingkungan yang tidak
sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini mulai muncul pada kira-kira 18
bulan dan mencapai puncaknya pada usia 3 tahun. Berkembangnya tingkah laku
negativisme pada usia ini dipandang sebagai hal yang wajar. Setelah usia 4
tahun biasanya tingkah ini mulai menurun. Antara usia 4-6 tahun sikap
membangkan/melawan secara verbal (menggunakan kata-kata) sikap ortu terhadap
tingkah laku melawan pada usia ini, seyogyanya tidak memandangnya sebagai
pertanda bahwa anak itu nakal, keras kepala/sebutan yang negatif. Dalam hal
ini, sebaiknya ortu mau memahami tentang proses perkembangan anak yaitu bahwa
secara naluriah anak itu memiliki dorongan untuk berkembang dari posisi
(dependent) ke posisi independent. Tingkah laku melawan merupakan salah satu
bentuk dari proses perkembangan tersebut.
2.
Agresi
(agression): perilaku menyerang balik secara fisik maupun kata-kata, agresi ini
= salah satu bentuk reaksi terhadap frustasi (rasa kecewa karena tidak
terpenuhi kebutuhan/keinginannya) yang dialaminya. Seperti memukul, mencubit,
menendang, menggigit, marah-marah dan mencaci maki. Ortu yang menghukum anak
yang agresif menyebabkan meningkatnya agresivitas anak. Maka sebaiknya ortu
berusaha untuk mereduksi, mengurangi agresivitas anak dengan cara mengalihkan
perhatian/keinginan anak, memberikan mainan/sesuatu yang diinginkannya
(sepanjang tidak membahayakan keselamatannya)/upaya lain yang bisa meredam
agresivitas anak tersebut.
3.
Berselisih/bertangkar
(quarreling) terjadi bila seorang anak merasa tersinggung/terganggu oleh sikap
dan perilaku anak lain seperti: diganggu pada saat mengerjakan sesuatu/direbut
barang/mainannya
4.
Menggoda
(teasing): sebagai bentuk lain dari tingkah laku agresif, menggod merupakan
serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata
ejekan/cemoohan) sehingga menimbulkan reaksi marah pada orang yang diserangnya.
5.
Persaingan
(revatly) : keinginan untuk melebihi orang lain, dan selalu didorong
(distimulusi) oleh orang lain. Sikap persaingan ini mulai terlihat pada usia 4
tahun yaitu persaingan untuk prestise dan pada usia 6 tahun, semangat bersaing
ini berkembang dengan lebih baik
6.
Kerjasama
(cooperation): sikap mau bekerjasama dengan kelompok. Anak yang berusia 2/3
tahun belum berkembang sikap bekerjasamanya, mereka masih kuat sikal ‘self-centered’-nya.
Mulai usia 3 tahun akhir/ 4 tahun, anak sudah mulai menampakkan sikap
kerjasamanya dengan anak lain. Pada usia 6/ 7 tahun, sikap kerjasama ini sudah
berkembang dengan lebih baik lagi, pada usia ini anak mau bekerja kelompok
dengan temannya
7.
Tingkah
laku berkuasa (ascendant behavior), sejenis tingkah laku untuk untuk menguasai
situasi sosial, mendominasi/bersikap “bossiness”. Wujud dari tingkah laku ini,
seperti : meminta, menyuruh & mengancam/memaksa orang lain untuk memenuhi
kebutuhan dirinya.
8.
Mementingkan
diri sendiri (selfishness) : sikap egosentris dalam memenuhi
interest/keinginannya. Anak ingin selalu dipenuhi keinginannya & apabila
ditolak, maka dia protes dengan menangis, menjerit/ marah-marah.
9.
Simpati
(sympaty): sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian
terhadap orang lain, mau mendekati/bekerja sama dengan seiring bertambahnya
usia anak mulai dapat mengurangi sikap ‘selfish’nya dan dia mulai mengembangkan
sikap sosialnya dalam hal ini rasa simpati terhadap orang lain.
Lingkungan
sosial yang kurang kondusif seperti perlakuan ortu yang kasar, sering memarahi,
acuh tak acuh, tidak memberikan bimbingan, teladan, pengajaran/pembiasaan
terhadap anak dalam menerapkan norma-norma baik agama/tata krama/budi pekerti,
cenderung menampilkan perilaku seperti dibawah ini :
1.
Bersifat
minder
2.
Senang
mendominasi orang lain
3.
Bersifat
egois/selfish
4.
Senang
mengisolasi diri /menyendiri
5.
Kurang
memiliki perasaan tenggang rasa
6.
Kurang
mempedulikan norma dalam berperilaku
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kepribadian : baik hereditas maupun lingkungan seperti fisik,
sosial, kebudayaan, spiritual.
Individu
yang intelegensinya tinggi/normal, biasanya mampu menyesuaikan diri dengan
lingkungannya secara wajar sedangkan yang rendah biasanya sering mengalami
hambatan/kendala dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar