Beberapa waktu lalu ada 2 siswi saya (inisial N (Usia 7 tahun) & K
(usia 8 thn) ) yang berkelahi saling menendang + saling nyubit. Diawali
dengan N yang mengejek K kemudian K tersinggung dan membalas ejekan N
kemudian N makin emosi mendengar balasan ejekan dari K dan N menyerang K
dengan mencubit K, K pun marah karena perlakuan N yang tiba-tiba nyubit
maka terjadilah perkelahian saling nyubit & menendang dengan mata
yang saling melotot tajam.
Melihat mereka berkelahi, saya dan jeng Windi langsung memisahkan mereka berdua dengan menggotong N dan mengajak N keluar kelas agar perkelahian terhenti. karena N tenaganya besar sehingga saya cukup kewalahan untuk mencegah N masuk kembali ke kelas sebelum dia tenang. Akhirnya saya tanya N, inilah dialognya:
Saya : "Antum marah? kenapa Antum marah?"
N : "tangan aku sakit, tadi aku dicubit sama K !"
Saya : "Coba kita lihat, mana yang sakit? ada yang berdarah? yuk kita obati dulu"
N : "ga ada yg berdarah... tapi hati aku juga sakit...."
Saya : "tau kenapa hati antum sakit?"
N terdiam mendengar pertanyaan saya.
Saya : "Tadi Ustadzah melihat, K sedang asik mengerjakan tugas eskul kemudian antum datang mendekati dan mengejek K duluan sehingga K marah dan kalian jadi berkelahi. Tahu yang menyebabkan kalian berkelahi?"
N terdiam dan saya langsung mengajak N berpikir dengan diawali pertanyaan dengan bahasa yang ringan agar N bisa belajar mengendalikan emosinya.
Saya : " hati dan tangan Antum sakit karena antum berkelahi dan saling mengejek, perkelahian terjadi karena Antum mengejek K duluan sehingga K marah dan antum mencubit K duluan sehingga K pun membalas cubitan Antum, perkelahian tadi terjadi karena salah Antum yang mengejek K duluan. Coba pikir jika ada yang mengejek Antum, pasti antum marah kan? begitu juga K. Sekarang Ustadzah tanya, Antum mau menabung pahala atau dosa?"
N : "ingin pahala"
Saya : "Jika ingin pahala harusnya mengejek teman atau menyayangi teman?"
N pun terdiam dalam kemarahannya, saya mengelus punggungnya dan kembali berkata
Saya : "Antum itu anak baik, yang membuat antum marah karena godaan setan, makanya jika antum kesal atau marah, antum harus mengucapkan A udzubillahiminasyaitoonirrojim.... Ya Allah... aku berlindung kepadaMu dari godaan syetan yang terkutuk. Antum harus berjuang melawan godaan syetan yang suka melihat muslim bermusuhan dan berkelahi. Antum itu anak hebat yang baik... jika kesal kepada teman atau marah, kan antum bisa cerita ke Ustadzah, nanti ustadzah bantu selesaikan masalah antum dengan baik-baik tanpa harus saling menyakiti, OK?"
Mendengar cerocosan saya, N terdiam sambil merenung kemudian tangisan K terdengar begitu keras maka saya pun langsung mendatangi K
Saya : "kenapa Antum menangis?"
K : "lengan aku sakit, tadi dicubit N !" -keluh K sambil memegang lengan dan menangis bombay-
Saya : "Ok kita lihat lengannya ya, jika ada yang luka kita obati " -saya pun melihat lengan K dan ternyata memar-
Saya : "ok kita olesi dengan minyak tawon ya, agar luka memar dan sakitnya berkurang" -sambil saya mengoles memar lengannya yang bekas cubitan dengan minyak tawon, saya kembali nyerocos
saya : "syafakillah ya.. semoga lukanya segera sembuh...." -setelah lengannya saya olesi dengan minyak tawon, saya kembali bertanya-
Saya : "selain lengan, ada lagi yang sakit?" -ini untuk memastikan bahwa fisiknya yang terluka diobati dulu sebelum nantinya mengobati luka 'hati'nya- K pun menyodorkan lututnya, saya pun mengoles lutut yang menurut K sakit. setelah itu saya bertanya ke K
Saya: "Antum tahu kenapa N marah ke antum?"
K : "Ga tau, tadi aku kan lagi ngerjain tugas eskul, N yang duluan ngejek dan nyubit Aku !"
Saya : "Antum ingin nabung pahala atau dosa?" -saya tanya pahala dan dosa karena K sudah paham bahwa tiket masuk surga itu harus nabung pahala-
K : "ingin pahala" -setelah saya obati seluruh luka fisiknya, K berhenti menangis, entah lupa sama nangisnya karena saya nanya melulu heuheu-
Saya: "Ok, Antum ingin menjadi manusia hebat yang di sayang ALlah? "
K : "Iya mau" -sambil menganggukkan kepala dan tanpa menangis-
saya : "Ok, ketika ada yang dzolim ke kita, seharusnya yang mendzolimi kita kan yang duluan minta maaf, sekarang Antum mau menjadi anak hebat yang meminta maaf duluan meskipun antum tidak salah?"
K : "iya, aku mau"
Saya : "Ok sekarang, ustadzah temani Antum untuk berdamai dan bersalaman dengan N meskipun antum ga salah ya"
saya mengantar K kelas untuk bertemu N dan saya kembali nyerocos :
Saya : "N... K ingin disayang Allah dengan cara menyayangi teman, N ingin minta maaf duluan meski K yang di ejek duluan, K ingin masuk surga bareng N, sekarang Antum mau dapat pahala dengan menerima permintaan maaf K? "
N hanya mengangguk setelah mendengarkan penjelasan singkat saya kemudian K mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan N. Mereka saling bersalaman meski N tidak mau melihat wajah K. saya kembali nyerocos...
Saya : "ini keduanya sudah saling ikhlas dan berdamai?"
K dan N saling mengangguk
Saya : "Yakin? ada yang masih dendam ga?" -K dan N terdiam-
Saya : "Ok, jika sudah saling ikhlas, setelah salaman, berpelukan ya... senyum dong... senyum kan pahala... biar dapat tambahan pahala ..."
akhirnya mereka pun memaksakan diri buat senyum heuheu... so swett, tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua karena sudah saling bermaafan dan saya memuji mereka berdua karena berhasil melawan godaan syetan yang suka menggoda manusia untuk saling dendam dan saling ejek. setelah 5 menit berlalu mereka kompak bermain seolah sebelumnya tidak pernah terjadi perkelahian bombay, mereka seolah lupa kalo mereka sebelumnya saling melotot, saling ejek dan saling menendang... huaa dasar anak-anak... sesuatu deh...
Makasih ya... Allah... sudah menghadirkan N dan K...dalam kehidupan saya, saya jadi belajar banyak untuk melatih bahasa ketika menyelesaikan anak yang sedang 'perang' :D
Melihat mereka berkelahi, saya dan jeng Windi langsung memisahkan mereka berdua dengan menggotong N dan mengajak N keluar kelas agar perkelahian terhenti. karena N tenaganya besar sehingga saya cukup kewalahan untuk mencegah N masuk kembali ke kelas sebelum dia tenang. Akhirnya saya tanya N, inilah dialognya:
Saya : "Antum marah? kenapa Antum marah?"
N : "tangan aku sakit, tadi aku dicubit sama K !"
Saya : "Coba kita lihat, mana yang sakit? ada yang berdarah? yuk kita obati dulu"
N : "ga ada yg berdarah... tapi hati aku juga sakit...."
Saya : "tau kenapa hati antum sakit?"
N terdiam mendengar pertanyaan saya.
Saya : "Tadi Ustadzah melihat, K sedang asik mengerjakan tugas eskul kemudian antum datang mendekati dan mengejek K duluan sehingga K marah dan kalian jadi berkelahi. Tahu yang menyebabkan kalian berkelahi?"
N terdiam dan saya langsung mengajak N berpikir dengan diawali pertanyaan dengan bahasa yang ringan agar N bisa belajar mengendalikan emosinya.
Saya : " hati dan tangan Antum sakit karena antum berkelahi dan saling mengejek, perkelahian terjadi karena Antum mengejek K duluan sehingga K marah dan antum mencubit K duluan sehingga K pun membalas cubitan Antum, perkelahian tadi terjadi karena salah Antum yang mengejek K duluan. Coba pikir jika ada yang mengejek Antum, pasti antum marah kan? begitu juga K. Sekarang Ustadzah tanya, Antum mau menabung pahala atau dosa?"
N : "ingin pahala"
Saya : "Jika ingin pahala harusnya mengejek teman atau menyayangi teman?"
N pun terdiam dalam kemarahannya, saya mengelus punggungnya dan kembali berkata
Saya : "Antum itu anak baik, yang membuat antum marah karena godaan setan, makanya jika antum kesal atau marah, antum harus mengucapkan A udzubillahiminasyaitoonirrojim.... Ya Allah... aku berlindung kepadaMu dari godaan syetan yang terkutuk. Antum harus berjuang melawan godaan syetan yang suka melihat muslim bermusuhan dan berkelahi. Antum itu anak hebat yang baik... jika kesal kepada teman atau marah, kan antum bisa cerita ke Ustadzah, nanti ustadzah bantu selesaikan masalah antum dengan baik-baik tanpa harus saling menyakiti, OK?"
Mendengar cerocosan saya, N terdiam sambil merenung kemudian tangisan K terdengar begitu keras maka saya pun langsung mendatangi K
Saya : "kenapa Antum menangis?"
K : "lengan aku sakit, tadi dicubit N !" -keluh K sambil memegang lengan dan menangis bombay-
Saya : "Ok kita lihat lengannya ya, jika ada yang luka kita obati " -saya pun melihat lengan K dan ternyata memar-
Saya : "ok kita olesi dengan minyak tawon ya, agar luka memar dan sakitnya berkurang" -sambil saya mengoles memar lengannya yang bekas cubitan dengan minyak tawon, saya kembali nyerocos
saya : "syafakillah ya.. semoga lukanya segera sembuh...." -setelah lengannya saya olesi dengan minyak tawon, saya kembali bertanya-
Saya : "selain lengan, ada lagi yang sakit?" -ini untuk memastikan bahwa fisiknya yang terluka diobati dulu sebelum nantinya mengobati luka 'hati'nya- K pun menyodorkan lututnya, saya pun mengoles lutut yang menurut K sakit. setelah itu saya bertanya ke K
Saya: "Antum tahu kenapa N marah ke antum?"
K : "Ga tau, tadi aku kan lagi ngerjain tugas eskul, N yang duluan ngejek dan nyubit Aku !"
Saya : "Antum ingin nabung pahala atau dosa?" -saya tanya pahala dan dosa karena K sudah paham bahwa tiket masuk surga itu harus nabung pahala-
K : "ingin pahala" -setelah saya obati seluruh luka fisiknya, K berhenti menangis, entah lupa sama nangisnya karena saya nanya melulu heuheu-
Saya: "Ok, Antum ingin menjadi manusia hebat yang di sayang ALlah? "
K : "Iya mau" -sambil menganggukkan kepala dan tanpa menangis-
saya : "Ok, ketika ada yang dzolim ke kita, seharusnya yang mendzolimi kita kan yang duluan minta maaf, sekarang Antum mau menjadi anak hebat yang meminta maaf duluan meskipun antum tidak salah?"
K : "iya, aku mau"
Saya : "Ok sekarang, ustadzah temani Antum untuk berdamai dan bersalaman dengan N meskipun antum ga salah ya"
saya mengantar K kelas untuk bertemu N dan saya kembali nyerocos :
Saya : "N... K ingin disayang Allah dengan cara menyayangi teman, N ingin minta maaf duluan meski K yang di ejek duluan, K ingin masuk surga bareng N, sekarang Antum mau dapat pahala dengan menerima permintaan maaf K? "
N hanya mengangguk setelah mendengarkan penjelasan singkat saya kemudian K mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan N. Mereka saling bersalaman meski N tidak mau melihat wajah K. saya kembali nyerocos...
Saya : "ini keduanya sudah saling ikhlas dan berdamai?"
K dan N saling mengangguk
Saya : "Yakin? ada yang masih dendam ga?" -K dan N terdiam-
Saya : "Ok, jika sudah saling ikhlas, setelah salaman, berpelukan ya... senyum dong... senyum kan pahala... biar dapat tambahan pahala ..."
akhirnya mereka pun memaksakan diri buat senyum heuheu... so swett, tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua karena sudah saling bermaafan dan saya memuji mereka berdua karena berhasil melawan godaan syetan yang suka menggoda manusia untuk saling dendam dan saling ejek. setelah 5 menit berlalu mereka kompak bermain seolah sebelumnya tidak pernah terjadi perkelahian bombay, mereka seolah lupa kalo mereka sebelumnya saling melotot, saling ejek dan saling menendang... huaa dasar anak-anak... sesuatu deh...
Makasih ya... Allah... sudah menghadirkan N dan K...dalam kehidupan saya, saya jadi belajar banyak untuk melatih bahasa ketika menyelesaikan anak yang sedang 'perang' :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar