Buku ini merupakan
buku berbahasa Arab yang berjudul Sur’atul Badihah karya Taqiyudin An-Nabhani,
selamat membaca...
Kelambanan dalam
berpikir adalah penyebab utama kemunduran sebuah bangsa termasuk umat Islam.
Umat Islam menjadi tidak cepat tanggap saat dihadapakan pada berbagai
konspirasi Barat yang ditujukan kepada mereka. Akibatnya mereka tidak segera
menyadari bahaya yang sedang mengancam mereka. Celakanya, kelambanan berpikir
ini kemudian menjadi semacam ‘tradisi’ umat Islam. inilah yang menyebabkan
mengapa mereka begitu sulit untuk dapat melepaskan diri dari ‘jeratan’ Barat
yang saat ini menelikung mereka.
Tradisi berpikir
lamban umat ini disebabkan oleh 2 faktor yaitu secara internal, karena umat
Islam telah kehilangan ideologi berpikirnya. Padahal berpikir ideologis inilah
yang bisa mendorong umat manapun untuk terbiasa berpikir secara cepat. Secara
eksternal, karena Barat memang sengaja menciptakan tradisi berpikir lamban
dikalangan umat. Tidak banyak disadari, bahwa filsafat & tradisi berpikir
ilmiah melalui keharusan untuk mengkaji & meneliti secara mendalam semua
perkara sesungguhnya sengaja ditanamkan oleh pihak Barat ditubuh umat Islam
untuk menghilangkan kecepatan berpikir mereka
Keberhasilan dalam mengarungi
kehidupan membutuhkan 2 perkara berikut ini :
1. Kecepatan dalam memberikan justifikasi terhadap sesuatu dan kecepatan
dalam mengambil suatu tindakan yang relevan. Jika hal ini tidak dilakukan, maka
seseorang telah gagal dan ia tidak akan berhasil memikul tugas yang berat.
Ketika waktu terus bergerak maka beban itu bertambah semakin berat. Ketika
beban itu semakin berat, hal ini tentu akan mengakibatkan kegagalan dalam
mengarungi medan kehidupan
2. Peluang emas yang didapatkan oleh seseorang dalam medan kehidupan
merupakan faktor yang menjadikan dirinya mampu bertransformasi secara cepat
kearah yang lebih tinggi. Peluang emas juga merupakan faktor yang bisa
menghindarkan dirinya dari kebinasaan. Jika peluang emas tersebut tidak
dimanfaatkan maka ia telah gagal. Padahal bisa jadi peluang emas tersebut tidak
akan berulang lagi. Hilangnya peluang emas karena tidak adanya kecepatan dalam
berpikir
Barat telah
berhasil menyibukkan seluruh umat dalam aktivitas berangan-angan, berpikir
keras, merenung dan menunggu sampai akhirnya umat mengalami kegagalan dalam
seluruh medan kehidupan.
Kecerdasan dan
kecepatan berpikir
Kecerdasan adalah
kecepatan dalam pencerapan dan kecepatan dalam mengaitkan informasi.
Akal/berpikir adalah upaya memindahkan fakta kedalam otak dengan perantaraan
indera yang disertai dengan adanya informasi pendahulu untuk menafsirkan fakta
tersebut. Sedangkan Kecepatan pencerapan adalah kecepatan dalam
mentransformasikan suatu fakta kedalam otak.
Penggunaan
Kecerdasan dan Kecepatan Berpikir
Faktor yang dapat
mewujudkan berpikir cepat adalah penggunaan kecerdasan. Kecepatan berpikir =
kecepatan dalam mengambil suatu tindakan sebagai hasil dari berpikir cepat.
Penggunaan kecerdasan adalah kecepatan dalam penginderaan dan kecepatan dalam
mengaitkan suatu informasi. Pencermatan adalah kesengajaan untuk mencermati dan
memahami, sedetail mungkin objek yang bisa di indera. Kecepatan mengaitkan
informasi akan terjadi jika dalam otak terdapat pengetahuan sebelumnya tentang
sesuatu. Penggunaan kecerdasan hanya akan muncul dari pencermatan. Pencermatan
inilah yang akan menghasilkan penginderaan yang cepat.
Kecepatan Berpikir
: Yang Alami & Yang Buatan
·
Adanya kondisi kritis (bahaya)
mengharuskan adanya pengambilan keputusan secara cepat, dengan itu, seseorang
bisa secepat mungkin mengambil suatu tindakan untuk mengatasi kondisi
kritis/bahaya yang ada.
·
Ketika Barat menyerang
negeri-negeri Islam dengan serangan politis dan mulai menguasai negeri-negeri
Islam, Barat mulai menanamkan metodologi berpikir lambat dan metodologi
berpikir yang mengarah pada pengkajian (perenungan) yang memakan waktu lama
sedangkan permasalahan kehidupan begitu cepat dan banyak yang harus segera
diselesaikan. Sehingga berpikir lambat inilah yang menyebabkan sebuah bangsa
mengjadi bangsa yang lamban dalam mengambil keputusan yang menyebabkan
‘membiarkan mati orang yang sebenarnya bisa diselamatkan’ jika saja kita
menjadi bangsa yang cepat tanggap!
Masalah kita hari
ini adalah dari bahaya/kerusakan dalam berpikir yang terbiasa berpikir lambat,
sehingga menjadi bangsa terbelakang yang terlalu bertele-tele dalam menyikapu
permasalah yang ada.
Sehingga pemecahan
masalahnya adalah dengan membiasakan diri untuk berpikir cepat yaitu kecepatan
dalam memahami ucapan. Perbuatan/perkara yang lain juga kecepatan dalam
menyimpulkan bahwa maksud perkara itu adalah demikian. Harus ada kebiasaan itu
cepat memahami & menyimpulkan.
Mewujudkan
kecepatan berpikir pada diri umat harus dimulai dengan mentransformasikan
akidah dari sekedar keberadaannya sebagai asas pembahasan ke keberadaannya
sebagai pemikiran politik. Ini harus dilakukan sampai pemikiran-pemikiran/
aturan-aturan yang terpancar dan terbangun dari akidah dijadikan sebagai
pemikiran politik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar