Saya senang menjadi pengajar di HSG Khoiru Ummah 23 Bandung. Banyak
hal yang bisa saya pelajari ketika berinteraksi dengan anak-anak dari
berbagai macam kultur.Ketika di forum rapat guru, kami melakukan
evaluasi 2 siswa yang cukup luar biasa yaitu siswa pindahan dari Amerika
dan pindahan dari pesantren. Yang cukup mengejutkan adalah ternyata
siswa pindahan produk Amerika memiliki manner yang lebih baik dari pada
siswa pindahan pesantren, yang pindahan dari Amerika mampu berkata
ahsan, sangat sopan dan santun, selalu mengucapkan terima kasih untuk
apapun dan kepada siapapun, selalu senyum ceria yang selalu membuat saya
tersenyum ketika melihat senyumnya. Sedangkan siswa pindahan pesantren,
dari hafalannya memang sudah hampir 5 juz di jenjang pendidikan yang
baru kelas 4 SD. Tapi siswa pindahan dari pesantren selalu mencari
perhatian dengan nada bicara yang tinggi jadi seolah agak membentak
ketika bicara kepada siapapun,terkadang suka protes terhadap makanan
yang ada sedangkan yang dari Amerika selalu menghargai apapun termasuk
ketika berhadapan dengan makanan yang kurang pas di lidahnya. Dari
bahasa yang digunakan pun siswa pindahan dari pesantren belum bisa
berkata ahsan secara konsisten bahkan ketika kesal, dia bisa
mengeluarkan kata-kata yang membuat saya kaget. Apapun yang tidak
disukainya pasti akan diprotes dengan nada ketus.
Dengan
berjalannya waktu, kami melakukan evaluasi kenapa siswa pindahan dari
Amerika lebih mampu berakhlakul karimahdan mampu berkata ahsan dari pada
yang lulusan pesantren? That’s the bigquestion….
Ternyata
memang siswa pindahan dari Amerika mendapat full service dari orang
tuanya, untuk hal sederhana ketika kami ada outbond selama 2 hari 1
malam, Ibu dari siswa yang pindahan Amrik mengsms saya dan minta
disampaikan kepada anaknya bahwa beliau sangat cinta dan sangat
merindukan anaknya (smsnya dalam bahasa inggris). Saya cukup kaget dan
hati saya berkata “Wow ini baru berpisah beberapa jam dengan anak, tapi
care banget”. Ternyata, dirumahnya pun sudah terbiasa jika sebelum
tidur, siswa dari Amrik selalu mencium tangan ortunya, mengucapkan
salam, I love you so much & see you tomorrow, inilah ritual yang
selalu dilakukan sebelum tidur, jika ritual ini belum dilakukan maka dia
belum bisa tidur dengan nyenyak. Dan ketika pulang dari outbont yang
hanya 2 hari 1 malam, ketika bertemu anaknya, sang Ibu langsung memeluk
hangat dan mencium kedua pipi dan keningnya, pelukannya cukup lama…
seperti tidak bertemu anaknya berbulan-bulan heuheu. Tapi ketika kasih
sayang ortu kepada anaknya full, yang terjadi adalah sang anak tidak
caper(cari perhatian) diluar karena Nalurinya akan kasih sayang sudah
terpenuhi dirumah. Anaknya pun menjadi kalem, tenang dan selalu ceria.
Sedangkan
yang lulusan pesantren kenapa terkadang hobinya protes terhadap apapun
bisa jadi karena perlakuan dan pola pendidikan yang didapatkan sang anak
tersebut ketika dipesantren. Siswa ini di pesantren sejak SD kelas 1.
Saya pun sempat mendengarkan cerita darinya bahwa jika disana ada yang
salah langsung dihukum fisik. Tanpa ditanya dulu apakah benar melakukan
kesalahan atau tidak. Meski pun entahlah dengan ceritanya apakah benar
adanya atau hanya sekedar cerita anak yang kadang suka berimajinasi.
Saya membayangkan bahwa dipesantren itu tenaga pendidiknya terbatas tapi
harus mengurusi ratusan anak. Otomatis kebutuhan anak akan kasih sayang
dan perhatian tidak bisa diperoleh seluruh anak dengan full service.
Sehingga wajar jika akhirnya ada anak yang caper meski hafalan quran
nya good.
Setelah kami melakukan evaluasi,kami
memutuskan untuk tidak memberi sanksi fisik apapun ketika sang anak yang
pindahan pesantren ‘berulah’. Karena hukuman fisik sudah biasa
dipesantren, kami mencoba komunikasi dua arah agar sang anak bisa
berpikir benar ketika melakukan aktivitas apapun, selalu ditanya apa
tujuan dan maksud dia melakukan A atau B, niatnya apa? Dan selalu kami
kaitkan dengan hadist atau ayat quran bahwa Allah suka kepada anak yang
mampu mengendalikan diri dan bla bla bla juga kami selalu berikan reward
berupa hadiah jika ada peningkatan dalam berprestasi. Kami selalu
menggunakan bahasa positive meski kadang sang anak berkomentar negatif
dengan nada ketus. Tapi ok lah... namanya juga tantangan bagi kami untuk
'menaklukannya'. kami mencoba fokus pada kelebihannya dan ketika ada
acara pembagian rapot disekolah, kami memberinya tugas sebagai MC di
acara pembagian rapot dan siswa yang masih kelas 4 ini mampu menjadi MC
dengan penuh percaya diri. Sempat selama seminggu mendapat hadiah setiap
hari Karena selalu datang diawal waktu. Memang yang namanya anak-anak
masih "On- Off"
Yaa…. memang ada-ada saja ulah anak
yang kadang membuat kita greget dan membuat hati kita sesak haha tapi
mereka tetaplah anak-anak lucu dan selalu membuat hidup saya semakin
berwarna. Meskipun mereka banyak tingkah tapi justru disanalah sarana
pembelajaran kita agar belajar untuk mengendalikan diri, belajar untuk
tetap sayang, belajar tetap berbahasa ahsan meski dalam keadaan 'hati
panas' melihat tingkah bocah yang berulah, belajar untuk tetap
menghargainya, belajar untuk tetap memuliakannya, belajar untuk tetap
sabar menghadapinya tanpa harus menggunakan hukuman fisik. Perlahan tapi
pasti semua anak bisa berubah menjadi lebih baik ketika kita mampu
mengajak anak untuk berpikir benar. Kerjasama antara sekolah dan orang
tua dirumah pun sangat penting. Ortu siswa pindangan pesantren pun sudah
berusaha ‘mengontrol’ agar sang anak bisa menjadi lebih baik, sang Ibu
selalu memberikan perhatian dan juga mengajak dialog sehingga anak bisa
diajak berpikir dan ‘negosiasi’ sehingga akhirnya sekarang sang anak
pindahan pesantren bisa diajak dialog meski kadang masih suka mendumel
heuheu. Tapi It'sok lah namanya juga proses pembelajaran....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar