Rabu, 30 April 2014

Siswa Pindahan Produk Amerika Versus Produk Pesantren

Saya senang menjadi pengajar di HSG Khoiru Ummah 23 Bandung. Banyak hal yang bisa saya pelajari ketika berinteraksi dengan anak-anak dari berbagai macam kultur.Ketika di forum rapat guru, kami melakukan evaluasi 2 siswa yang cukup luar biasa yaitu siswa pindahan dari Amerika dan pindahan dari pesantren. Yang cukup mengejutkan adalah ternyata siswa pindahan produk Amerika memiliki manner yang lebih baik dari pada siswa pindahan pesantren, yang pindahan dari Amerika mampu berkata ahsan, sangat sopan dan santun, selalu mengucapkan terima kasih untuk apapun dan kepada siapapun, selalu senyum ceria yang selalu membuat saya tersenyum ketika melihat senyumnya. Sedangkan siswa pindahan pesantren, dari hafalannya memang sudah hampir 5 juz di jenjang pendidikan yang baru kelas 4 SD. Tapi siswa pindahan dari pesantren selalu mencari perhatian dengan nada bicara yang tinggi jadi seolah agak membentak ketika bicara kepada siapapun,terkadang suka protes terhadap makanan yang ada sedangkan yang dari Amerika selalu menghargai apapun termasuk ketika berhadapan dengan makanan yang kurang pas di lidahnya. Dari bahasa yang digunakan pun siswa pindahan dari pesantren belum bisa berkata ahsan secara konsisten bahkan ketika kesal, dia bisa mengeluarkan kata-kata yang membuat saya kaget. Apapun yang tidak disukainya pasti akan diprotes dengan nada ketus.

Dengan berjalannya waktu, kami melakukan evaluasi kenapa siswa pindahan dari Amerika lebih mampu berakhlakul karimahdan mampu berkata ahsan dari pada yang lulusan pesantren? That’s the bigquestion….

Ternyata memang siswa pindahan dari Amerika mendapat full service dari orang tuanya, untuk hal sederhana ketika kami ada outbond selama 2 hari 1 malam, Ibu dari siswa yang pindahan Amrik mengsms saya dan minta disampaikan kepada anaknya bahwa beliau sangat cinta dan sangat merindukan anaknya (smsnya dalam bahasa inggris). Saya cukup kaget dan hati saya berkata “Wow ini baru berpisah beberapa jam dengan anak, tapi care banget”. Ternyata, dirumahnya pun sudah terbiasa jika sebelum tidur, siswa dari Amrik selalu mencium tangan ortunya, mengucapkan salam, I love you so much & see you tomorrow, inilah ritual yang selalu dilakukan sebelum tidur, jika ritual ini belum dilakukan maka dia belum bisa tidur dengan nyenyak. Dan ketika pulang dari outbont yang hanya 2 hari 1 malam, ketika bertemu anaknya, sang Ibu langsung memeluk hangat dan mencium kedua pipi dan keningnya, pelukannya cukup lama… seperti tidak bertemu anaknya berbulan-bulan heuheu. Tapi ketika kasih sayang ortu kepada anaknya full, yang terjadi adalah sang anak tidak caper(cari perhatian) diluar karena Nalurinya akan kasih sayang sudah terpenuhi dirumah. Anaknya pun menjadi kalem, tenang dan selalu ceria.

Sedangkan yang lulusan pesantren kenapa terkadang hobinya protes terhadap apapun bisa jadi karena perlakuan dan pola pendidikan yang didapatkan sang anak tersebut ketika dipesantren. Siswa ini di pesantren sejak SD kelas 1. Saya pun sempat mendengarkan cerita darinya bahwa jika disana ada yang salah langsung dihukum fisik. Tanpa ditanya dulu apakah benar melakukan kesalahan atau tidak. Meski pun entahlah dengan ceritanya apakah benar adanya atau hanya sekedar cerita anak yang kadang suka berimajinasi. Saya membayangkan bahwa dipesantren itu tenaga pendidiknya terbatas tapi harus mengurusi ratusan anak. Otomatis kebutuhan anak akan kasih sayang dan perhatian tidak bisa diperoleh seluruh anak dengan full service. Sehingga wajar jika akhirnya ada anak yang caper meski hafalan quran nya good.

Setelah kami melakukan evaluasi,kami memutuskan untuk tidak memberi sanksi fisik apapun ketika sang anak yang pindahan pesantren ‘berulah’. Karena hukuman fisik sudah biasa dipesantren, kami mencoba komunikasi dua arah agar sang anak bisa berpikir benar ketika melakukan aktivitas apapun, selalu ditanya apa tujuan dan maksud dia melakukan A atau B, niatnya apa? Dan selalu kami kaitkan dengan hadist atau ayat quran bahwa Allah suka kepada anak yang mampu mengendalikan diri dan bla bla bla juga kami selalu berikan reward berupa hadiah jika ada peningkatan dalam berprestasi. Kami selalu menggunakan bahasa positive meski kadang sang anak berkomentar negatif dengan nada ketus. Tapi ok lah... namanya juga tantangan bagi kami untuk 'menaklukannya'. kami mencoba fokus pada kelebihannya dan ketika ada acara pembagian rapot disekolah, kami memberinya tugas sebagai MC di acara pembagian rapot dan siswa yang masih kelas 4 ini mampu menjadi MC dengan penuh percaya diri. Sempat selama seminggu mendapat hadiah setiap hari Karena selalu datang diawal waktu. Memang yang namanya anak-anak masih "On- Off" 

Yaa…. memang ada-ada saja ulah anak yang kadang membuat kita greget dan membuat hati kita sesak haha tapi mereka tetaplah anak-anak lucu dan selalu membuat hidup saya semakin berwarna. Meskipun mereka banyak tingkah tapi justru disanalah sarana pembelajaran kita agar belajar untuk mengendalikan diri, belajar untuk tetap sayang, belajar tetap berbahasa ahsan meski dalam keadaan 'hati panas' melihat tingkah bocah yang berulah, belajar untuk tetap menghargainya, belajar untuk tetap memuliakannya, belajar untuk tetap sabar menghadapinya tanpa harus menggunakan hukuman fisik. Perlahan tapi pasti semua anak bisa berubah menjadi lebih baik ketika kita mampu mengajak anak untuk berpikir benar. Kerjasama antara sekolah dan orang tua dirumah pun sangat penting. Ortu siswa pindangan pesantren pun sudah berusaha ‘mengontrol’ agar sang anak bisa menjadi lebih baik, sang Ibu selalu memberikan perhatian dan juga mengajak dialog sehingga anak bisa diajak berpikir dan ‘negosiasi’ sehingga akhirnya sekarang sang anak pindahan pesantren bisa diajak dialog meski kadang masih suka mendumel heuheu. Tapi It'sok lah namanya juga proses pembelajaran....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar