Hakekat Penciptaan Anak
Anak
pada fitrahnya adalah anugrah yang sangat berharga dalam sebuah
keluarga, dimana rumah yang tadinya sepi menjadi riang gembira dengan
suara tangis dan tawa anak-anak dalam sebuah keluarga. Begitu juga
dengan hakekat penciptaan Anak dalam Islam merupakan anugrah dan amanah
yang harus dijaga sesuai dengan apa yang Allah SWT ridhai.
Anak
bukanlah robot apalagi hewan, anak adalah mahluk ciptaan Allah SWT yang
paling mulia. Maka, sudah seharusnya para orang tua mendidik anak
dengan cara memuliakan mereka, bukan mendikte seperti bos kepada
karyawannya dengan menuntut anak harus ini dan harus itu tanpa melihat
apakah anak tersebut 'enjoy' atau tidak dengan segala tuntutan tersebut?
Anak
juga bukan hewan yang bebas berprilaku apalagi liar tanpa aturan. Tentu
tidak boleh demikian, anak tidak boleh dibiarkan hidup liar tanpa
pendidikan dan tanpa di ajari akhlaq mulia seperti yang diwajibkan
Islam. Anak adalah mahluk yang Allah SWT muliakan karena keberadaan akal
mereka. Maka sudah seharusnya para orang tua mendidik anak mereka
sesuai dengan yang Allah SWT ridhai yaitu dengan mengajarkan dan
membimbing mereka kepada Ridha Nya Allah SWT sesuai dengan perkembangan
akal anak. Agar kelak anak kita mampu mengenal Rob-nya, bisa menjalani
kehidupan dengan penuh semangat dan mampu berkarya cemerlang tanpa
bimbang apalagi kehampaan dalam menjalani hidup.
Mengenal Potensi Anak
Anak
memiliki potensi hidup dan tentu saja potensi hidup ini harus dipenuhi
dengan benar, jika tidak? maka akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu
bisa meledak tanpa kendali. Sebagai contoh sederhana ada seorang anak
yang dipukul temannya padahal dia tidak salah, terkadang banyak orang
tua ketika melihat anaknya dipukul oleh anak orang lain menasehatinya
dengan 'Sabar ya Nak...' padahal sudah jelas anak kita tidak salah, anak
di bawah usia 10 tahun belum bisa faham makna kata 'Sabar'. Efek
negatif ketika seorang anak yang didzalimi temannya dan kita suruh
sabar, maka akan ada 2 sikap mental yang melekat yaitu si anak bisa
jadi memiliki mental jajahan (jika suatu hari ada yang mendzoliminya
maka dia hanya akan diam, bahkan pasrah bukannya mempertahankan
kemerdekaan diri) atau bisa jadi dia jadi uring-uringan ketika dirumah
karena ketika di sekolah dia 'gendok' disuruh sabar ketika dipukul
temannya.
Seharusnya,
ketika seorang tidak salah dan tiba-tiba dipukul anak orang lain maka
anak yang tidak salah berhak memukul kembali anak yang tiba-tiba mukul
tersebut, ini bukan untuk mengajarkan anak berkelahi tapi untuk mendidik
anak dalam mempertahankan diri, jika tidak salah kenapa diam? tentu
saja konsep tentang sesama muslim adalah saudara juga harus ditanamkan.
Sehingga energi negatif seperti 'gendok' atau bahkan dendam tidak
bersemayam dalam diri anak jika memang seluruh aspek kebutuhan jasmani
dan nalurinya terpenuhi dengan benar dan baik.
Terkadang
juga, banyak orang tua yang menyalahkan sang kakak ketika adenya
menangis padahal belum tentu anak yang nangis itu yang tertindas,
disinilah peran orangtua, lingkungan dan juga peran guru dalam
mendampingi tumbuh kembang anak dengan suasana yang menyenangkan tanpa
timbul rasa iri maupun dendam dalam diri anak, karena ini akan berefek
negaif bagi anak dikemudian hari jika kita salah memperlakukan anak.
Niat awal ingin mencerdaskan tapi malah menindas anak, Naudzubillah...
Potensi Hidup Anak; Jasmani, Naluri dan Akal
Anak
memiliki potensi hidup berupa kebutuhan Jasmani, naluri dan akal.
Potensi hidup ini harus dipenuhi dengan benar dan baik. Seperti potensi
hidup anak berupa tidur (proporsional), makanan (halal dan sehat) karena
kebutuhan akan tidur dan makanan yang dikonsumsi anak akan mempengaruhi
fisik dan perkembangan otak maupun mental anak, bagaimana bisa anak
kita belajar dengan baik jika perutnya lapar? atau terlalu kenyang. Menu
makan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kesukaan anak.
Sedangkan
untuk kebutuhan naluri, ada 3 jenis naluri yaitu Baqa, Tadayun dan
Na'u. Dimana naluri ini muncul dari rangsangan luar diri manusia,
tuntutan pemenuhanna pun tidak bersifat pasti, bisa ditunta atau
dialihkan. Kadarnya pun tergantung pada kuat atau lemahnya rangsangan
dari luar diri manusia.
Kebutuhan Naluri
Naluri Tadayun; kecenderungan untuk mengkultuskan, yang meruoakan dasar ketaatan kepada Sang Khalik
Naluri
Baqa; kecenderungan untuk mempertahankan diri seperti rasa takut, rasa
memiliki, marah, suka memimpin, senang, sedih, tanggung jawab dll
Naluri
Na'u; kecenderungan untuk melestarikan keturunan seperti rasa sayang
kepada orang tua, keluarga, rasa cinta kepada lawan jenis yang merupakan
dasar dari rasa kasih sayang.
Ketiga
naluri ini harus dipenuhi dengan baik dan benar sesuai dengan apa yang
Allah SWT ridhai, landasan untuk memenuhi ketiga naluri ini yaitu dengan
mempelajari ushul fiqh karena disana akan dipaparkan dengan jelas
tentang perilaku perbuatan seorang hamba yang terikat dengan aturan
ALlah SWT dimana setelah kematian didunia, setiap manusia akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang sudah dilakukan yang berkonsekuensi
pada pahala dan dosa. Pemahaman terkait pahala dan dosa tidak bisa
dipahami oleh kaca mata manusia, hanya dengan mempelajari ushul fiqhlah
setiap muslim akan mengetahui dan faham terkait halal, haram, makruh,
mubah maupun sunnah. Karena setiap aktifitas seorang hamba pasti tidak
terlepas dari status hukum apakah mengerjakan yang mubah, sunah, wajib,
haram atau makruh.
Fungsi Akal Pada Anak
Akal
yang ada pada diri anak maupun manusia dewasa adalah sebagai pengendali
dari setiap perbuatannya dalam memenuhi kebutuhan fisik maupun
kebutuhan naluri. Kecenderungan manusia adalah untuk meraih ketenangan,
kebahagiaan dan keselamatan hidup. Akal inilah berfungsi untuk memilih
pilihan hidup, maupun berperilaku agar meraih martabat mulia dihadapan
Sang Pencipta yaitu Allah SWT.
Akal
manusia hanya akan berfungsi ketika ada 4 komponen berpikir yaitu;
fakta, panca indera, otak dan informasi sebelumnya. Pemahaman tentang
akal bisa Anda baca di buku Hakikat berpikir karya Taqiyuddin
an-Nabhani.
Penutup
Orang
tua adalah orang yang utama dan bertanggung jawab penuh dalam
perkembangan anak, baik dari sisi jasmani, mental dan akal anak. Selain
orang tua, lingkungan dan para guru yang mendidik anak kita pun memang
harus sejalan dengan visi misi orang tua dalam mendidik anak, begitu
juga peran orang tua dalam memilih teman bermain anak. Karena teman itu
akan mencuri tabiat temannya. Otomatis jika kita ingin tahu perkembangan
anak kita seperti apa, kita bisa menilainya dari kualitas
teman-temannya. Tugas yang berat memang tapi jika dijalani dengan
landasan Iman Kepada Allah SWT, Insya ALlah apapun akan 'dilakoni' dengan ilmu maka akan membuat kita'easy going'.Wallahu a'lam
* ini adalah oleh-oleh dari seminar "Melejitkan Potensi Anak Tanpa Beban" yang di adakan oleh Tim Kurikulum HSG Khoiru Ummah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar