Rabu, 23 April 2014

Setiap Anak Memang Luar Biasa

Hakekat Penciptaan Anak

Anak pada fitrahnya adalah anugrah yang sangat berharga dalam sebuah keluarga, dimana rumah yang tadinya sepi menjadi riang gembira dengan suara tangis dan tawa anak-anak dalam sebuah keluarga. Begitu juga dengan hakekat penciptaan Anak dalam Islam merupakan anugrah dan amanah yang harus dijaga sesuai dengan apa yang Allah SWT ridhai.

Anak bukanlah robot apalagi hewan, anak adalah mahluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia. Maka, sudah seharusnya para orang tua mendidik anak dengan cara memuliakan mereka, bukan mendikte seperti bos kepada karyawannya dengan menuntut anak harus ini dan harus itu tanpa melihat apakah anak tersebut  'enjoy' atau tidak dengan segala tuntutan tersebut?

Anak juga bukan hewan yang bebas berprilaku apalagi liar tanpa aturan. Tentu tidak boleh demikian, anak  tidak boleh dibiarkan hidup liar tanpa pendidikan dan tanpa di ajari akhlaq mulia seperti yang diwajibkan Islam. Anak adalah mahluk yang Allah SWT muliakan karena keberadaan akal mereka. Maka sudah seharusnya para orang tua mendidik anak mereka sesuai dengan yang Allah SWT ridhai yaitu dengan mengajarkan dan membimbing mereka kepada Ridha Nya Allah SWT sesuai dengan perkembangan  akal anak. Agar kelak anak kita mampu mengenal Rob-nya, bisa menjalani kehidupan dengan penuh semangat dan mampu berkarya cemerlang tanpa bimbang apalagi kehampaan dalam menjalani hidup.

Mengenal Potensi Anak

Anak memiliki potensi hidup dan tentu saja potensi hidup ini harus dipenuhi dengan benar, jika tidak? maka akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak tanpa kendali. Sebagai contoh sederhana ada seorang anak yang dipukul temannya padahal dia tidak salah, terkadang banyak orang tua ketika melihat anaknya dipukul oleh anak orang lain menasehatinya dengan 'Sabar ya Nak...' padahal sudah jelas anak kita tidak salah, anak di bawah usia 10 tahun belum bisa faham makna kata 'Sabar'. Efek negatif ketika seorang anak yang didzalimi temannya dan kita suruh sabar, maka akan ada 2 sikap mental yang melekat yaitu si anak bisa jadi  memiliki mental jajahan (jika suatu hari ada yang mendzoliminya maka dia hanya akan diam, bahkan pasrah bukannya mempertahankan kemerdekaan diri) atau bisa jadi dia jadi uring-uringan ketika dirumah karena ketika di sekolah dia 'gendok' disuruh sabar ketika dipukul temannya.

Seharusnya, ketika seorang tidak salah dan tiba-tiba dipukul anak orang lain maka anak yang tidak salah berhak memukul kembali anak yang tiba-tiba mukul tersebut, ini bukan untuk mengajarkan anak berkelahi tapi untuk mendidik anak dalam mempertahankan diri, jika tidak salah kenapa diam? tentu saja konsep tentang sesama muslim adalah saudara juga harus ditanamkan. Sehingga energi negatif seperti 'gendok' atau bahkan dendam tidak bersemayam dalam diri anak jika memang seluruh aspek kebutuhan jasmani dan nalurinya terpenuhi dengan benar dan baik.

Terkadang juga, banyak orang tua yang menyalahkan sang kakak ketika adenya menangis padahal belum tentu anak yang nangis itu yang tertindas, disinilah peran orangtua, lingkungan dan juga peran guru dalam mendampingi tumbuh kembang anak dengan suasana yang menyenangkan tanpa timbul rasa iri maupun dendam dalam diri anak, karena ini akan berefek negaif bagi anak dikemudian hari jika kita salah memperlakukan anak. Niat awal ingin mencerdaskan tapi malah menindas anak, Naudzubillah...

Potensi Hidup Anak; Jasmani, Naluri dan Akal

Anak memiliki potensi hidup berupa kebutuhan Jasmani, naluri dan akal. Potensi hidup ini harus dipenuhi dengan benar dan baik. Seperti potensi hidup anak berupa tidur (proporsional), makanan (halal dan sehat) karena kebutuhan akan tidur dan makanan yang dikonsumsi anak akan mempengaruhi fisik dan perkembangan otak maupun mental anak, bagaimana bisa anak kita belajar dengan baik jika perutnya lapar? atau terlalu kenyang. Menu makan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kesukaan anak.

Sedangkan untuk kebutuhan naluri, ada 3 jenis naluri yaitu Baqa, Tadayun dan Na'u. Dimana naluri ini muncul dari rangsangan luar diri manusia, tuntutan pemenuhanna pun tidak bersifat pasti, bisa ditunta atau dialihkan. Kadarnya pun tergantung pada kuat atau lemahnya rangsangan dari luar diri manusia.

Kebutuhan Naluri
Naluri Tadayun; kecenderungan untuk mengkultuskan, yang meruoakan dasar ketaatan kepada Sang Khalik
Naluri Baqa; kecenderungan untuk mempertahankan diri seperti rasa takut, rasa memiliki, marah, suka memimpin, senang, sedih, tanggung jawab dll
Naluri Na'u; kecenderungan untuk melestarikan keturunan seperti rasa sayang kepada orang tua, keluarga, rasa cinta kepada lawan jenis yang merupakan dasar dari rasa kasih sayang.

Ketiga naluri ini harus dipenuhi dengan baik dan benar sesuai dengan apa yang Allah SWT ridhai, landasan untuk memenuhi ketiga naluri ini yaitu dengan mempelajari ushul fiqh karena disana akan dipaparkan dengan jelas tentang perilaku perbuatan seorang hamba yang terikat dengan aturan ALlah SWT dimana setelah kematian didunia, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang sudah dilakukan yang berkonsekuensi pada pahala dan dosa. Pemahaman terkait pahala dan dosa tidak bisa dipahami oleh kaca mata manusia, hanya dengan mempelajari ushul fiqhlah setiap muslim akan mengetahui dan faham terkait halal, haram, makruh, mubah maupun sunnah. Karena setiap aktifitas seorang hamba pasti tidak terlepas dari status hukum apakah mengerjakan yang mubah, sunah, wajib, haram atau makruh.

Fungsi Akal Pada Anak

Akal yang ada pada diri anak maupun manusia dewasa adalah sebagai pengendali dari setiap perbuatannya dalam memenuhi kebutuhan fisik maupun kebutuhan naluri. Kecenderungan manusia adalah untuk meraih ketenangan, kebahagiaan dan keselamatan hidup. Akal inilah berfungsi untuk memilih pilihan hidup, maupun berperilaku agar meraih martabat mulia dihadapan Sang Pencipta yaitu Allah SWT. 

Akal manusia hanya akan berfungsi ketika ada 4 komponen berpikir yaitu; fakta, panca indera, otak dan informasi sebelumnya. Pemahaman tentang akal bisa Anda baca di buku Hakikat berpikir karya Taqiyuddin an-Nabhani.

Penutup
Orang tua adalah orang yang utama dan bertanggung jawab penuh dalam perkembangan anak, baik dari sisi jasmani, mental dan akal anak. Selain orang tua, lingkungan dan para guru yang mendidik anak kita pun memang harus sejalan dengan visi misi orang tua dalam mendidik anak, begitu juga peran orang tua dalam memilih teman bermain anak. Karena teman itu akan mencuri tabiat temannya. Otomatis jika kita ingin tahu perkembangan anak kita seperti apa, kita bisa menilainya dari kualitas teman-temannya. Tugas yang berat memang tapi jika dijalani dengan landasan Iman Kepada Allah SWT, Insya ALlah apapun akan 'dilakoni' dengan ilmu maka akan membuat kita'easy going'.Wallahu a'lam

* ini adalah oleh-oleh dari seminar "Melejitkan Potensi Anak Tanpa Beban" yang di adakan oleh Tim Kurikulum HSG Khoiru Ummah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar