Rabu, 30 April 2014

Ketika Akal Menyinari Proses Keimanan

Dalam buku Jeffery Lang yang berjudul “Aku Bertanya, maka Aku Beriman” ada sebuah deskripsi tentang fenomena proses keimanan yang luar biasa. Setelah mengkaji Islam, Jeffry Lang akhirnya memutuskan untuk menjadi mu’alaf. Beliau adalah seorang Profesor matematika di Universitas Harvard, beliau meneliti isi Al-qur’an secara menyeluruh sebelum menjadi seorang muslim dan kesimpulan yang beliau dapatkan bahwa yang membuat Al-qur’an adalah yang ahli matematika. Intinya beliau jatuh hati pada isi al-qur’an yang berimbas pada keputusan beliau untuk memeluk Islam yaitu menjadi seorang muslim ditengah-tengah masyarakat yang sekuler. Jeffry Lang masuk Islam melalui proses berpikir yaitu dengan mengkaji Al-Qur’an.

Begitu juga dengan Ibu Irene Handono, awalnya beliau adalah seorang Biarawati dan kemudian masuk Islam setelah mengkaji Al-qur’an. Ibu Irene Handono memutuskan menjadi seorang muslimah melalui proses berpikir yang disandarkan pada al-Quran.

Lalu bagaimana dengan kita yang sudah dari bayi mendapatkan predikat seorang Muslim? Proses keimanan seperti apakah yang sudah kita tempuh untuk mendapat predikat seorang muslim? Sebagai manusia yang dianugrahi akal, sudah seharusnya proses keimanan yang dijalani adalah melalui proses berpikir berlandaskan pada dalil yang bisa dipertanggungjawab yaitu Al-qur’an dan sunnah, sehingga keimanan yang terbangun pun merupakan keimanan yang kokoh tak tergoyahkan oleh romantisme dan fatamorgana dunia.

Tapi terkadang, manusia itu memang kurang menghargai sesuatu yang didapat dengan mudah. Seperti keimanan kita di Indonesia, begitu mudahnya kita menjadi seorang muslim karena orang tua kita muslim, lingkungan kita muslim dan mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim. Bahkan, Indonesia merupakan jumlah muslim terbesar didunia. Tapi Sudahkah pemikiran dan sikap kita pun sesuai dengan aturan Islam? Sudahkah kita mengkaji tentang Islam secara komprehensif? Sudahkah kita menjadikan Islam sebagai solusi atas permasalahan hidup kita?

Jika proses keimanan kita lahir dari sesuatu yang instan tanpa adanya proses berpikir yang cemerlang, maka ada kemungkian bahwa keimanan yang lahir pun adalah keimanan yang instan, mudah datang dan mudah pergi.

Ketika ada yang bertanya kepada kita, “Kenapa Anda memilih Islam sebagai Agama?” dan kita menjawab “Karena orang tua saya Islam”. Tentu jawaban “Karena orang tua saya Islam” adalah jawaban yang boleh-boleh saja. Tapi alangkah lebih bijak jika kita menjadi Muslim karena merupakan hasil dari proses berpikir secara cemerlang yang berlandaskan dalil shohih, sehingga keimanan kita bukanlah keimanan yang instan tapi semoga saja dengan proses keimanan menggunakan akal sehat dan didasarkan pada dalil yang shahih (Al-Qur’an dan sunnah) mampu mengokohkan keimanan kita dalam kondisi apapun seperti halnya keimanan para sahabat Rasul Saw yang begitu kokoh memperjuangkan Islam karena mereka sudah memahami hakikat dari keimanan.

Komponen Berpikir
Sekarang, mari kita bahas bersama tentang jalan menuju keimanan melalui proses berpikir yang berlandaskan dalil. Sebelum kita membahas lebih jauh tentang berpikir. Coba perhatikan benda yang ada di dekat Anda, misal Handphone. Katakanlah Handphone Anda seharga satu milyar dolar (sudah semilyar, dolar pula..) Hp yang harganya semilyar dolar itu ternyata pulsanya nol rupiah, pertanyaanya; bisakah hp itu digunakan untuk menelpon atau sms? Pastinya tidak kan? Karena ada salah satu komponennya yang tidak lengkap yaitu pulsa. Atau katakanlah hp tersebut pulsanya sejuta dolar tapi keypednya tidak ada, bisakah hp tersebut digunakan untuk mengetik sms? Pastinya tidak bisa digunakan bukan? Karena komponennya tidak lengkap.

Benda apapun yang ada disekitar kita, entah itu handphone, komputer, mobil, pulpen dan lain sebagainya tidak bisa digunakan dengan baik jika komponenya tidak lengkap.

Sama halnya dengan berpikir, kita tidak akan pernah bisa berpikir dengan baik jika salah satu komponen berpikirnya tidak lengkap. Bisakah Anda melihat warna disekitar Anda tanpa mata? Bisakah Anda mendengar tanpa telinga? Bisakah Anda mencium wanginya parfum tanpa hidung? Bisakah Anda merasakan lezatnya makanan tanpa lidah? Sebagai manusia biasa yang normal pastinya tidak bisa melihat warna tanpa mata, tidak bisa mendengar suara tanpa telinga dan lain lain tanpa panca indera. Inilah komponen berpikir yang pertama yaitu Panca Indra.

Ketika Anda melihat benda berwarna, dan ditanya itu warna apa? Anda pasti bisa menjawabnya dengan baik jika warna suatu benda tersebut jelas, misal warna hijau, biru dan lain sebagainya. Warna tadi merupakan fakta, fakta didunia ini ada dua yaitu fakta berupa benda dan perbuatan. Fakta berupa benda, seperti meja, kursi, rumah dan lain sebagainya (benda dalam arti apapun yang bisa diindera oleh panca indera kita). Sedangkan fakta berupa perbuatan adalah aktifitas yang sedang dilakukan, misalnya Anda sedang membaca, menulis, berlari dan aktifitas lainnya.

Keberadaan Fakta inilah yang akan memicu manusia untuk berpikir dalam menghukumi suatu realitas. Manusia yang memiliki akal sehat tidak bisa terlepas dari aktifitas berpikir, entah itu berpikir secara dangkal maupun berpikir serius. Tergantung dari kondisi psikologis dan kebutuhan manusia tersebut dalam memahami hakikat dari segala sesuatu. Tanpa adanya fakta yang nyata, tentu manusia tidak bisa memikirkannya dengan baik. Seperti halnya pembahasan mahluk ghaib tanpa dilandaskan dalil yang shohih menyebabkan kaum muslimin di Indonesia berimajinasi tingkat tinggi, seperti di film layar lebar saat ini yang cukup marak yaitu film tentang pocong hingga macam-macam film tentang kuntilanak sudah cukup banyak.

Film bertemakan hal-hal yang bernuansa mahluk ghaib ini, jika kita tidak hati-hati mencernanya tentu akan meracuni pemahaman kita yang harusnya kita takut dan taat pada Allah SWT menjadi takut pada kuntilanak atau mak lampir yang tidak jelas keberadaannya karena terkooptasi oleh film bahwa mak lampir bisa membunuh manusia misalnya, padahal dalam Islam bahwa yang memiliki kuasa untuk menghidupkan dan mematikan hanya Allah SWT.

Bahkan yang lebih miris lagi adalah ketika ada orang tua muslim yang menakut nakuti anaknya dengan genderewo atau mahluk ghaib sejenisnya ketika anaknya tidak mau berhenti nangis karena rewel, tentu pola pendidikan anak seperti ini akan menanamkan rasa takut yang salah yaitu takut pada setan bukan lagi takut atau taat pada Sang Khalik yaitu Allah SWT.

Maka, kualifikasi fakta dalam ruang lingkup berpikir adalah fakta yang bisa diindera oleh panca indera manusia dalam bentuk fakta nyata yaitu baik berupa benda maupun fakta berupa perbuatan/ aktifitas. Pembahasan tentang sesuatu yang metafisika dalam perspektif Islam harus dilandaskan pada dalil shahih karena akal manusia memiliki keterbatasan yaitu akal tidak bisa menjangkau sesuatu diluar stok of knowledge manusia. Maka komponen berpikir yang kedua yaitu fakta yang bisa berupa benda atau perbuatan.

Kemudian jika Anda memberikan soal Matematika SMU pada orang gila, bisakah orang gila tersebut menjawabnya dengan benar? Jika orang gilanya benar-benar gila, pastinya orang gila tersebut tidak akan pernah bisa menjawab soal matematika SMU dengan benar, karena otaknya bermasalah. Inilah komponen berpikir yang ketiga yaitu otak yang sehat.

Sekarang saya bertanya “Hai, How are you?” jika Anda sudah pernah belajar bahasa Inggris sebelumnya, pastinya Anda bisa menjawab dengan mudah minimal Anda menjawab; “I’m fine thanks ..bla bla bla” sekarang bisakah Anda menjawab pertanyaan saya; “Ni hao Ma?” jika Anda belum pernah belajar bahasa Mandarin sama sekali, maka ketika Anda mendengar kata “Ni hao ma?” Anda akan bingung atau bahkan Anda balik bertanya tentang arti “Ni hao ma.”

Kenapa pertanyaan “Hai, How are you?” bisa Anda pahami dengan mudah? Karena bisa jadi Anda sudah pernah belajar bahasa Inggris sebelumnya sedangkan pertanyaan “Ni hao Ma?” tidak bisa Anda pahami, karena Anda belum pernah belajar bahasa mandarin sama sekali. Bahasa Mandarin menjadi sulit dimengerti karena tidak ada data base atau informasi sebelumnya dalam otak kita.

Berbeda jika Anda sudah pernah belajar bahasa Mandarin sebelumnya dan tahu arti dari pertanyaan “Ni hao Ma?’. Inilah komponen berpikir yang ke-empat yaitu informasi sebelumnya atau dalam bahasa arab biasa disebut dengan istilah matlumat stabiqah

Berdasarkan pemaparan diatas, bisa kita simpulkan 4 komponen berpikir yaitu;
1. Panca Indra
2. Fakta
3. Otak
4. Informasi sebelumnya

Level Berpikir

Ketika 4 komponen diatas kita miliki, maka Insya Allah kita bisa berpikir dengan baik. Semua orang memang berpikir, tapi pertanyaannya adalah berpikir yang bagaimana satu?

Sekarang, mari kita masuk pada pembahasan selanjutnya yaitu tentang tingkatan berpikir. Ada 3 tingkatan atau level berpikir;
1. Berpikir dangkal
2. Berpikir mendalam
3. Berpikir menyeluruh / cemerlang / holistik/ mustanir

Untuk memahami dengan mudah 3 level berpikir diatas, mari kita bahas bersama satu per satu level berpikir.

Pertama, tentang orang yang berpikir dangkal adalah orang yang langsung mengeluarkan kesimpulan berdasarkan sesuatu yang kasat mata tanpa ditelaah lebih lanjut kebenarannya apakah fakta tersebut memang benar atau salah. Untuk lebih memahami proses berpikir dangkal, kita ambil contoh fakta yang sederhana misalnya ada pohon yang memiliki buah berduri. Orang yang berpikir dangkal, ketika menemukan fakta berupa pohon yang memiliki buah berduri, dia langsung ambil kesimpulan bahwa pohon yang memiliki buah berduri adalah pohon durian.

Berpikir dangkal muncul sebagai akibat dari kurangnya pengkajian yang mendalam dan menyeluruh terhadap informasi-informasi tentang fakta yang dihadapi. Orang yang berpikir dangkal seringkali merasa puas hanya dengan melihat permukaan atau sifat-sifat lahiriah dari fakta yang terjadi.

Level berpikir yang kedua yaitu berpikir mendalam, Orang yang berpikir mendalam adalah orang yang mampu menghukumi suatu realitas melalui proses berpikir berdasarkan penela’ahan terhadap objek berpikirnya terlebih dahulu, sehingga kesimpulan yang didapat merupakan kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual.

Ambil contoh fakta yang sama misalnya ada pohon memiliki buah berduri. Orang yang berpikir mendalam ketika menemukan fakta berupa pohon yang memiliki buah berduri, dia tidak langsung mengambil kesimpulan bahwa pohon tersebut adalah pohon durian. Tapi dia terlebih dahulu meneliti pohon tersebut mulai dari struktur daun, batang, rasa buah, biji dll. Sampai akhirnya dia mempunyai data yang bisa dipertanggungjawabkan bahwa pohon yang memiliki buah berduri adalah benar-benar pohon durian karena dilihat dari struktur daun, batang, rasa dan lain sebagainya menunjukkan bahwa pohon tersebut adalah pohon durian.

Berpikir mendalam ini biasanya digunakan oleh para ilmuan atau mahasiswa ketika mengerjakan TA (Tugas Akhir) maupun penelitian ilmiah.

Level berpikir yang ketiga yaitu berpikir cemerlang/mustanir. Orang yang berpikir cemerlang adalah orang yang mampu mengaitkan realitas apapun didunia ini dengan hakikat transendental, yaitu dibalik segala sesuatu yang terjadi didunia ini ada yang menciptakan yaitu Allah SWT sesuai dengan yang dikabarkan dari sumber terpercaya yaitu al-Qur’an.

Untuk memahami dengan mudah tentang berpikir cemerlang ini, ambil contoh fakta yang sama yaitu ada pohon memiliki buah berduri, orang yang berpikir cemerlang ketika menemukan fakta tadi, kali pertama dia melakukan proses berpikir mendalam dan ketika dia sudah menemukan jawaban yang bisa dipertanggujawabkan bahwa pohon tersebut adalah pohon durian, dia tidak berhenti sampai disana. Tapi dia mencari tahu hingga kehakikat buah tersebut. Dalam dunia akademis, berpikir cemerlang seharusnya dimiliki oleh mereka yang memiliki gelar Ph.D atau Doctor of Philosophy, karena kerjaan gelar Ph. D itu memang memahami hakikat bidang ilmunya bukan?

Kembali pada pembahasan kita tentang durian, ketika orang yang berpikir cemerlang sudah mendapatkan jawaban bahwa pohon tersebut benar-benar pohon durian, dia tidak berhenti sampai disana tapi dia mencari tahu hingga ke hakikat pohon durian tersebut. Misal; kenapa durian ini ada? Dari manakah durian ini? Oh dari pohon. Pohon durian dari mana? Oh dari biji mati yang ditanam ditanah yang mati kemudian disiram dengan air dan diberi pupuk. Ko’ bisa yaa biji yang mati kemudian ditanam ditanah yang mati menumbuhkan pohon durian yang luar biasa? Adakah pohon durian tumbuh dengan sendirinya? Ataukah ada yang menumbuhkan? Jika ada yang menumbuhkan pohon durian, siapakah yang menumbuhkannya dan untuk apa menumbuhkan pohon durian tersebut?

Sebelum kita menyimpulkan tentang hakikat pohon durian tadi apakah tumbuh dengan sendirinya ataukah ada yang menciptakan dan mengatur pertumbuhannya? Mari kita perhatikan benda yang ada disekitar kita misalnya buku yang acak-acakan. Adakah buku yang acak-acakan itu kacau balau dengan sendirinya atau ada yang ngacak-ngacak? Pastinya buku tersebut berantakan karena ada yang memberantakan buku tersebut, ya kan? Secara akal sehat, buku yang acak-acakan saja berantakan karena ada yang ngacak-ngacak, apalagi untuk siklus pertumbuhan pohon durian yang sangat mengagumkan tadi. Pastinya ada yang menciptakan dan mengaturnya.

Makanan yang kita makan sehari-hari saja, kita yakin bahwa makanan tadi ada karena ada yang memasaknya yaitu ada orang yang menciptakan makanan tersebut, apalagi dengan pohon durian yang memiliki sistem dan struktur dalam pohon yang luar biasa. Coba perhatikan daunnya, batangnya, biji dan rasanya, luar biasa bukan?

Sungguh tidak masuk akal sehat jika segala sesuatu yang luar biasa di alam semesta ini seperti pohon, bunga, manusia, matahari, semut dan lain sebagainya ada dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu didunia ini yaitu sesuai dengan kabar yang dikabarkan dari Al-qur’an bahwa Allah SWT yang menciptakan segala sesuatu didunia ini. Orang yang berpikir cemerlang mampu mengaitkan realitas apapun dengan hakikat penciptaan sesuai dengan yang dikabarkan Al-qur’an.

“Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” [Al-Baqarah:22]

Allah SWT memberitakan dalam Al-qur’an bahwa Allah-lah yang menciptakan siang, malam, matahari, bulan, angin, hujan, udara, langit, jari tangan kita yang lentik, wajah kita yang rupawan, tubuh kita yang kokoh, mata kita yang sangat luar biasa, kulit kita yang halus dan lain sebagainya, sudahkah manusia berpikir tentang hakikat mengapa Allah menciptakan Alam semesta yang sangat luar biasa ini? Ataukah manusia masih ragu dengan kebenaran isi Al-Qur’an? Allah menantang siapapun yang meragukan Al-qur’an...

Allah SWT berfirman..

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” [Al-Baqarah:23-24]

Metode Berpikir
Kembali pada pembahasan kita tentang berpikir, komponen berpikir sudah dibahas, kemudian level berpikir sudah dibahas dan sekarang adalah saatnya membahas tentang metode berpikir. Metode merupakan suatu cara yang baku. Dalam dunia akademik seperti mahasiswa yang sedang menyusun TA pastinya sudah tidak asing dengan istilah metode penelitian kualitatif atau metode penelitian kuantitatif dan sejenisnya.

Kenapa metode berpikir harus dipahami bersama? karena seperti halnya kita akan melakukan penelitian entah itu kualitatif maupun kuantitatif, jika niat awal kita melakukan metode penelitian kualitatif tapi metode yang digunakannya salah maka sudah dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang dihasilkan adalah salah, meskipun referensi atau data yang kita punya itu sangat luar biasa. Begitu juga dengan berpikir, meskipun referensi kita canggihnya luar biasa tetapi ketika metode berpikir kita salah maka kesimpulannya pun bisa jadi akan salah.

Ada 2 Metode berpikir yaitu;
1. Metode berpikir ilmiah
2. Metode berpikir rasional

Metode berpikir ilmiah dipersilahkan untuk digunakan dalam kajian bidang ilmu sains dan bidang ilmu eksperimen, tapi tidak boleh digunakan untuk memahami ilmu agama tentu saja. Karena dalam metode berpikir ilmiah ketika akan menghukumi sebuah realitas dengan cara melakukan eksperimen terhadap realitas yang ingin dicari kebenarannya seperti menggunakan premis mayor dan premis minor, kebenaran yang dihasilkan dari berpikir ilmiah adalah kebenaran relatif. Bisa jadi hari ini teorinya benar tapi besok atau lusa bisa jadi salah jika ada penelitian orang lain yang lebih benar berdasarkan data yang bisa dipertanggungjawabkan. Seperti teori evolusi Darwin yang sudah diruntuhkan oleh Harun Yahya, dahulu kala Darwin berpendapat bahwa nenek moyang dia itu monyet, saya pikir mungkin benar bahwa nenek moyang Darwin memang monyet, tapi untuk saya pribadi karena saya seorang muslim, Allah SWT sudah mengabarkan dalam Al-qur’an bahwa nenek moyang saya adalah seorang Nabi Adam As.

Dalam memahami agama Islam, metode berpikir yang harus digunakan adalah metode berpikir rasional. Metode berpikir rasional adalah menggunakan 4 komponen berpikir yaitu adanya fakta, panca indera, otak dan informasi sebelumnya(Al-qur’an dan sunnah sebagai rujukan) ketika mengambil solusi dari setiap permasalahan apapun yang sedang dihadapi dalam hidup. Tujuan dari berpikir adalah mencari kebenaran. Dalam Islam, kebenaran adalah segala sesuatu yang datang dari Allah SWT.

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang dzalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. [TQS. Al Kahfi:29]

Kenapa kebenaran dalam Islam adalah hak mutlak milik Allah SWT sesuai dengan yang dikabarkan Al-qur’an? Tentu saja karena Allah SWT lah yang memiliki Langit dan Bumi. Allah lah pemilik kehidupan yang telah menciptakan segala sesuatu didunia ini dengan sangat sempurna.

Secara akal sehat ketika kita adalah pemilik suatu perusahaan, otomatis merupakan sesuatu yang lumrah ketika kitalah yang membuat aturan untuk perusahaan kita. Mulai dari apakah kita mau menggaji cleaning service lebih tinggi dari manajer perusahaan yah tentu sah-sah saja, toh kita yang punya uang kan?

Tapi tentu saja, Allah SWT tidak bisa disamakan dengan pemilik perusahaan yang berhak menentukan gaji sesuka hati pada karyawannya. Karena Allah SWT Maha Adil, Maha Sempurna, Maha Cerdas dan Maha Segala-galanya. Perbandingan diatas hanya sebuah alur berpikir sederhana tentang siapakah yang berhak menentukan sebuah kebenaran dalam beragama? Manusia? Atau Allah SWT?

Pastinya, apa yang saya paparkan diatas tidak bisa menjadikan siapapun didunia ini menjadi manusia yang beriman jika dari dalam dirinya sendiri tidak tergerak untuk mencari kebenaran hakiki yang akan menggerakkan dirinya untuk tunduk kepada Allah SWT. Orang yang mau, pasti ada jalan dan orang yang tidak mau, banyak alasan. Sungguh, keimanan tidak bisa dibeli dengan uang, keimanan tidak bisa didapat dari seorang Ayah yang shaleh, keimanan tidak bisa dicapai dengan sebuah retorika. Keimanan hanya bisa dicapai dengan memahami hakikat keimanan yang kemudian diaplikasikan dalam hidup hingga akhir hayat.

Begitu mahalnya keimanan sehingga seorang Bilal lebih memilih ditindih oleh batu yang besar ditengah teriknya panas matahari di gurun padang pasir dari pada keluar dari agama Islam, karena Bilal sudah memahami hakikat keimanan yang didapat dari Rasul Saw.

Berbeda dengan realitas kaum muslimin saat ini, ketika ada yang dengan mudahnya keluar dari agama Islam hanya karena masalah duniawi ditambah lagi tidak adanya pemahaman yang shahih tentang Islam. Jika memang tidak tahu tentang Islam yang sebenarnya, kenapa tidak mencari tahu? Bukankah Allah sudah menganugrahkan akal? Bahkan Allah SWT sudah menganugrahkan Al-Qur’an kepada siapapun yang mau menggunakan akalnya untuk berpikir tentang hakikat dari segala sesuatu yang ada didunia ini. Dalam Islam, orang yang tidak tahu tidak dosa tapi akan menjadi dosa ketika tidak mencari tahu.

Definisi dan Ruang Lingkup Aqidah Islam

Jika kita menelaah definisi tentang keimanan atau Aqidah yang dalam bahasa arab berasal dari lafadz ‘aqada (mengikat). Aqidah adalah iman yang merupakan pembenaran (keyakinan) yang utuh, diaplikasikan dalam hidup dan bersumber dari dalil. Dalil terdiri dari dua yaitu dalil aqli dan dalil naqli. Dimana dalil aqli (akal) adalah sebagai alat untuk memahami keimanan yang bisa dibuktikan oleh akal untuk mencapai kebenaran yang bersifat pasti pada salah satu rukun-rukun akidah seperti hakikat penciptaan, masuk akal bukan? Kemudian dalil naqli yaitu suatu berita yang bersifat pasti yang memberitakan kepada kita tentang rukun-rukun akidah seperti ayat-ayat al-Qur’an.

Aqidah Islam secara istilah adalah pemikiran menyeluruh tentang segala sesuatu didunia ini seperti alam semesta, manusia dan kehidupan ada yang menciptakannya yaitu Allah SWT dan setelah dunia ini berakhir (hari kiamat) akan ada alam akhirat dimana seluruh manusia didunia ini akan dibangkitkan dari kubur untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya dihadapan Allah Yang Maha perkasa yang akan berbuah pahala atau dosa. Jika pahala seorang hamba lebih banyak dari dosanya maka Allah sudah menyediakan tempat tinggal yang kekal abadi yaitu surga dan bagi siapapun yang sombong selama didunia karena tidak mau tunduk pada aturan yang sudah Allah tetapkan yaitu Islam, maka tempat terakhirnya yang kekal abadi adalah Neraka. Naudzubillah himin dzalik.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.[TQS Ali-Imran:185]

Pemahaman tentang aqidah Islam yang berdasarkan kabar terpercaya (Al-qur’an) akan mendorong tingkah laku seorang muslim didunia agar berusaha sesuai dengan apa yang Allah perintahkan karena dia menyadari bahwa apa yang manusia perbuat dalam kehidupan didunia ini akan berbuah pahala dan dosa diakhirat nanti yang akan menghantarkan manusia pada tempat kebahagiaan hakiki (surga) ataukah penderitaan hakiki (neraka)?

Secara akal sehat, pastinya kita menyukai keindahan, menyukai kemapanan, menyukai sesuatu yang baik, termasuk surga. Pastinya setiap manusia menginginkan bisa hidup kekal abadi di surga yang penuh kenikmatan dan keindahan. Dan pertanyaan yang harus direnungkan yaitu: “Sudahkah kita melayakkan diri menjadi penghuni surga?” pengorbanan dan perjuangan seperti apakah yang sudah kita persembahkan untuk Islam? pastinya kita memang tidak bisa menyamai amal shaleh para generasi terbaik Rasul Saw, tapi setidaknya sudahkah kita mengikuti jejak perjuangan mereka meskipun tak sampai seperti sahabat Nabi Saw?

Kadar keimanan seseorang akan nampak dari kepribadiannya, kepribadian yang dimaksud disini adalah pola pikir dan pola sikap dalam menjalani kehidupannya. Ketika pola pikir dan pola sikapnya sesuai dengan Islam, maka kepribadian seseorang dikatakan sebagai kepribadian Islami. Sejauh mana perjuangan dan ketaatan seorang muslim untuk mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka sejauh itulah kadar keimanannya terhadap Allah SWT.

Dalam Islam, ada 3 karakteristik tentang kepribadian Islam, yaitu:
1. Orang Beriman: adalah orang yang yakin bahwa Islam sebagai kebenaran yang hakiki dan manifestasi dari keyakinannya ini diimplementasikan dalam sikapnya yang sesuai dengan tuntunan Islam.
2. Orang Fasik/ Dzalim: adalah seorang muslim yang sudah tahu tentang aturan Islam seperti apa, tapi tidak mau tunduk pada aturan Islam.
3. Orang Kafir: adalah orang yang tidak percaya akan cahaya kebenaran Islam dan tidak mau tunduk pada aturan Islam.

Dari ketiga kategori diatas, kita termasuk kategori yang mana? Semoga saja kita semua termasuk dalam kategori manusia beriman.

Didunia ini, kita hanya merasakan kebahagiaan dan kesedihan yang sementara karena bisa jadi hari ini kita dilanda duka dan bisa jadi besok paginya kita mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa. Sedangkan diakhirat hanya ada dua tempat abadi yaitu surga dan neraka. Surga adalah kenikmatan yang kekal abadi dan neraka adalah penderitaan abadi. Bisa kita bayangkan bahwa penderitaan kita ketika sakit gigi atau sakit kepala yang dahsyat. Pastinya kita tidak tahan merasakan rasa sakit fisik yang sementara bukan? Ketika kita sakit pastinya kita berusaha agar rasa sakit kita hilang dengan pergi kedokter atau dengan meminum obat penghilang rasa sakit.

Tapi jika sudah ada dalam neraka karena akibat dari ketidakpedulian manusia untuk memperjuangkan keIslamannya didunia. Dokter manakah yang mampu menghilangkan rasa sakit dari siksaan neraka?

(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya? [TQS Muhammad: 15]

Rukun Iman
Kembali pada pembahasan kita tentang keimanan, dalam Islam ada yang namanya rukun iman. Keimanan/keyakinan adalah bermakna pembenaran yang bersifat pasti, sesuai dengan fakta, serta berdasarkan bukti (berdasarkan dalil baik berupa dalil aqli maupun dalil naqli).

Di dalam sebuah hadits yang panjang, Jibril as pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Beritahukanlah kepadaku tentang iman!” lalu Rasul saw menjawab, “Iman itu adalah percaya kepada adanya Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan percaya kepada al-qadar (takdir) baik dan buruknya berasal dari Allah SWT”. Jibril berkata, “Engkau benar” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan an-Nasai)

Allah SWT berfirman:

Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya". (TQS. Al-Baqarah [2]:285)

Berdasarkan dalil naqli diatas, bisa kita simpulkan bahwa rukun Iman itu ada enam yaitu Iman kepada adanya Allah, Malaikat, kitab-kitab samawi, Rasul-rasul, hari akhir/kiamat dan iman kepada takdir (baik buruknya berasal dari Allah Swt). Rukun iman yang enam ini bisa kita fahami dengan menggunakan dalil aqli maupun naqli. Dalil naqli digunakan untuk memahami keimanan yang berada diluar stok of knowlegde manusia seperti iman kepada malaikat yang tidak bisa dilihat wujud asli malaikat dengan mata tapi kita meyakini bahwa malaikat itu ada berdasarkan kabar yang Allah Swt kabarkan dalam al-Qur’an.

Sungguh, bahwa keimanan yang kokoh tidak akan dapat terwujud jika hanya melalui doa dan ibadah semata yang bersifat ritual tanpa memahami ilmunya terlebih dahulu terkait hakikat keimanan dan mengimplementasikan amal ibadah dalam kehidupan. Akan tetapi semoga saja keimanan yang lahir dari proses berpikir cemerlang berlandaskan dalil shohih dan diraih melalui berbagai perjuangan tanpa kenal lelah akan menjadikan kita sebagai seorang mukmin sejati yaitu dengan menuntut ilmu agama tanpa melihat siapa yang berbicara, tapi lebih melihat pada apa yang dia bicarakan. Prinsip yang diazamkan ketika mendalami ilmu agama adalah untuk mencari kebenaran, bukan untuk mencari pembenaran atas apa yang kita inginkan. Pastinya melakukan pembinaan diri tanpa henti hingga akhir hayat adalah sebuah harga mutlak yang harus diperjuangkan agar memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (TQS. Ar-Ra’du [13]:11)

Semoga Allah mendidik kita menjadi manusia yang di Ridhai-Nya. Wallahu a’lam bishowab

--- yang masih dalam pengkajian saya hingga detik ini adalah tentang rukun iman dalam Islam, rukun iman yang saya paparkan dalam bab ini masih sangat global dan belum mengupas hakikat maupun aplikasi praktis dari rukun Iman dalam kehidupan seorang muslim. Jika ada yang mau berbagi pengalaman tentang rukun Iman ataupun memiliki referensi buku, silahkan tulis komentar...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar