Dalam buku Jeffery Lang yang berjudul “Aku Bertanya, maka Aku
Beriman” ada sebuah deskripsi tentang fenomena proses keimanan yang luar
biasa. Setelah mengkaji Islam, Jeffry Lang akhirnya memutuskan untuk
menjadi mu’alaf. Beliau adalah seorang Profesor matematika di
Universitas Harvard, beliau meneliti isi Al-qur’an secara menyeluruh
sebelum menjadi seorang muslim dan kesimpulan yang beliau dapatkan bahwa
yang membuat Al-qur’an adalah yang ahli matematika. Intinya beliau
jatuh hati pada isi al-qur’an yang berimbas pada keputusan beliau untuk
memeluk Islam yaitu menjadi seorang muslim ditengah-tengah masyarakat
yang sekuler. Jeffry Lang masuk Islam melalui proses berpikir yaitu
dengan mengkaji Al-Qur’an.
Begitu juga dengan Ibu
Irene Handono, awalnya beliau adalah seorang Biarawati dan kemudian
masuk Islam setelah mengkaji Al-qur’an. Ibu Irene Handono memutuskan
menjadi seorang muslimah melalui proses berpikir yang disandarkan pada
al-Quran.
Lalu bagaimana dengan kita yang sudah dari
bayi mendapatkan predikat seorang Muslim? Proses keimanan seperti apakah
yang sudah kita tempuh untuk mendapat predikat seorang muslim? Sebagai
manusia yang dianugrahi akal, sudah seharusnya proses keimanan yang
dijalani adalah melalui proses berpikir berlandaskan pada dalil yang
bisa dipertanggungjawab yaitu Al-qur’an dan sunnah, sehingga keimanan
yang terbangun pun merupakan keimanan yang kokoh tak tergoyahkan oleh
romantisme dan fatamorgana dunia.
Tapi terkadang,
manusia itu memang kurang menghargai sesuatu yang didapat dengan mudah.
Seperti keimanan kita di Indonesia, begitu mudahnya kita menjadi seorang
muslim karena orang tua kita muslim, lingkungan kita muslim dan
mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim. Bahkan, Indonesia merupakan
jumlah muslim terbesar didunia. Tapi Sudahkah pemikiran dan sikap kita
pun sesuai dengan aturan Islam? Sudahkah kita mengkaji tentang Islam
secara komprehensif? Sudahkah kita menjadikan Islam sebagai solusi atas
permasalahan hidup kita?
Jika proses keimanan kita
lahir dari sesuatu yang instan tanpa adanya proses berpikir yang
cemerlang, maka ada kemungkian bahwa keimanan yang lahir pun adalah
keimanan yang instan, mudah datang dan mudah pergi.
Ketika
ada yang bertanya kepada kita, “Kenapa Anda memilih Islam sebagai
Agama?” dan kita menjawab “Karena orang tua saya Islam”. Tentu jawaban
“Karena orang tua saya Islam” adalah jawaban yang boleh-boleh saja. Tapi
alangkah lebih bijak jika kita menjadi Muslim karena merupakan hasil
dari proses berpikir secara cemerlang yang berlandaskan dalil shohih,
sehingga keimanan kita bukanlah keimanan yang instan tapi semoga saja
dengan proses keimanan menggunakan akal sehat dan didasarkan pada dalil
yang shahih (Al-Qur’an dan sunnah) mampu mengokohkan keimanan kita dalam
kondisi apapun seperti halnya keimanan para sahabat Rasul Saw yang
begitu kokoh memperjuangkan Islam karena mereka sudah memahami hakikat
dari keimanan.
Komponen Berpikir
Sekarang, mari
kita bahas bersama tentang jalan menuju keimanan melalui proses berpikir
yang berlandaskan dalil. Sebelum kita membahas lebih jauh tentang
berpikir. Coba perhatikan benda yang ada di dekat Anda, misal Handphone.
Katakanlah Handphone Anda seharga satu milyar dolar (sudah semilyar,
dolar pula..) Hp yang harganya semilyar dolar itu ternyata pulsanya nol
rupiah, pertanyaanya; bisakah hp itu digunakan untuk menelpon atau sms?
Pastinya tidak kan? Karena ada salah satu komponennya yang tidak lengkap
yaitu pulsa. Atau katakanlah hp tersebut pulsanya sejuta dolar tapi
keypednya tidak ada, bisakah hp tersebut digunakan untuk mengetik sms?
Pastinya tidak bisa digunakan bukan? Karena komponennya tidak lengkap.
Benda
apapun yang ada disekitar kita, entah itu handphone, komputer, mobil,
pulpen dan lain sebagainya tidak bisa digunakan dengan baik jika
komponenya tidak lengkap.
Sama halnya dengan berpikir,
kita tidak akan pernah bisa berpikir dengan baik jika salah satu
komponen berpikirnya tidak lengkap. Bisakah Anda melihat warna disekitar
Anda tanpa mata? Bisakah Anda mendengar tanpa telinga? Bisakah Anda
mencium wanginya parfum tanpa hidung? Bisakah Anda merasakan lezatnya
makanan tanpa lidah? Sebagai manusia biasa yang normal pastinya tidak
bisa melihat warna tanpa mata, tidak bisa mendengar suara tanpa telinga
dan lain lain tanpa panca indera. Inilah komponen berpikir yang pertama
yaitu Panca Indra.
Ketika Anda melihat benda berwarna,
dan ditanya itu warna apa? Anda pasti bisa menjawabnya dengan baik jika
warna suatu benda tersebut jelas, misal warna hijau, biru dan lain
sebagainya. Warna tadi merupakan fakta, fakta didunia ini ada dua yaitu
fakta berupa benda dan perbuatan. Fakta berupa benda, seperti meja,
kursi, rumah dan lain sebagainya (benda dalam arti apapun yang bisa
diindera oleh panca indera kita). Sedangkan fakta berupa perbuatan
adalah aktifitas yang sedang dilakukan, misalnya Anda sedang membaca,
menulis, berlari dan aktifitas lainnya.
Keberadaan
Fakta inilah yang akan memicu manusia untuk berpikir dalam menghukumi
suatu realitas. Manusia yang memiliki akal sehat tidak bisa terlepas
dari aktifitas berpikir, entah itu berpikir secara dangkal maupun
berpikir serius. Tergantung dari kondisi psikologis dan kebutuhan
manusia tersebut dalam memahami hakikat dari segala sesuatu. Tanpa
adanya fakta yang nyata, tentu manusia tidak bisa memikirkannya dengan
baik. Seperti halnya pembahasan mahluk ghaib tanpa dilandaskan dalil
yang shohih menyebabkan kaum muslimin di Indonesia berimajinasi tingkat
tinggi, seperti di film layar lebar saat ini yang cukup marak yaitu film
tentang pocong hingga macam-macam film tentang kuntilanak sudah cukup
banyak.
Film bertemakan hal-hal yang bernuansa mahluk
ghaib ini, jika kita tidak hati-hati mencernanya tentu akan meracuni
pemahaman kita yang harusnya kita takut dan taat pada Allah SWT menjadi
takut pada kuntilanak atau mak lampir yang tidak jelas keberadaannya
karena terkooptasi oleh film bahwa mak lampir bisa membunuh manusia
misalnya, padahal dalam Islam bahwa yang memiliki kuasa untuk
menghidupkan dan mematikan hanya Allah SWT.
Bahkan
yang lebih miris lagi adalah ketika ada orang tua muslim yang menakut
nakuti anaknya dengan genderewo atau mahluk ghaib sejenisnya ketika
anaknya tidak mau berhenti nangis karena rewel, tentu pola pendidikan
anak seperti ini akan menanamkan rasa takut yang salah yaitu takut pada
setan bukan lagi takut atau taat pada Sang Khalik yaitu Allah SWT.
Maka,
kualifikasi fakta dalam ruang lingkup berpikir adalah fakta yang bisa
diindera oleh panca indera manusia dalam bentuk fakta nyata yaitu baik
berupa benda maupun fakta berupa perbuatan/ aktifitas. Pembahasan
tentang sesuatu yang metafisika dalam perspektif Islam harus dilandaskan
pada dalil shahih karena akal manusia memiliki keterbatasan yaitu akal
tidak bisa menjangkau sesuatu diluar stok of knowledge manusia. Maka
komponen berpikir yang kedua yaitu fakta yang bisa berupa benda atau
perbuatan.
Kemudian jika Anda memberikan soal
Matematika SMU pada orang gila, bisakah orang gila tersebut menjawabnya
dengan benar? Jika orang gilanya benar-benar gila, pastinya orang gila
tersebut tidak akan pernah bisa menjawab soal matematika SMU dengan
benar, karena otaknya bermasalah. Inilah komponen berpikir yang ketiga
yaitu otak yang sehat.
Sekarang saya bertanya “Hai, How
are you?” jika Anda sudah pernah belajar bahasa Inggris sebelumnya,
pastinya Anda bisa menjawab dengan mudah minimal Anda menjawab; “I’m
fine thanks ..bla bla bla” sekarang bisakah Anda menjawab pertanyaan
saya; “Ni hao Ma?” jika Anda belum pernah belajar bahasa Mandarin sama
sekali, maka ketika Anda mendengar kata “Ni hao ma?” Anda akan bingung
atau bahkan Anda balik bertanya tentang arti “Ni hao ma.”
Kenapa
pertanyaan “Hai, How are you?” bisa Anda pahami dengan mudah? Karena
bisa jadi Anda sudah pernah belajar bahasa Inggris sebelumnya sedangkan
pertanyaan “Ni hao Ma?” tidak bisa Anda pahami, karena Anda belum pernah
belajar bahasa mandarin sama sekali. Bahasa Mandarin menjadi sulit
dimengerti karena tidak ada data base atau informasi sebelumnya dalam
otak kita.
Berbeda jika Anda sudah pernah belajar
bahasa Mandarin sebelumnya dan tahu arti dari pertanyaan “Ni hao Ma?’.
Inilah komponen berpikir yang ke-empat yaitu informasi sebelumnya atau
dalam bahasa arab biasa disebut dengan istilah matlumat stabiqah
Berdasarkan pemaparan diatas, bisa kita simpulkan 4 komponen berpikir yaitu;
1. Panca Indra
2. Fakta
3. Otak
4. Informasi sebelumnya
Level Berpikir
Ketika
4 komponen diatas kita miliki, maka Insya Allah kita bisa berpikir
dengan baik. Semua orang memang berpikir, tapi pertanyaannya adalah
berpikir yang bagaimana satu?
Sekarang, mari kita masuk pada pembahasan selanjutnya yaitu tentang tingkatan berpikir. Ada 3 tingkatan atau level berpikir;
1. Berpikir dangkal
2. Berpikir mendalam
3. Berpikir menyeluruh / cemerlang / holistik/ mustanir
Untuk memahami dengan mudah 3 level berpikir diatas, mari kita bahas bersama satu per satu level berpikir.
Pertama,
tentang orang yang berpikir dangkal adalah orang yang langsung
mengeluarkan kesimpulan berdasarkan sesuatu yang kasat mata tanpa
ditelaah lebih lanjut kebenarannya apakah fakta tersebut memang benar
atau salah. Untuk lebih memahami proses berpikir dangkal, kita ambil
contoh fakta yang sederhana misalnya ada pohon yang memiliki buah
berduri. Orang yang berpikir dangkal, ketika menemukan fakta berupa
pohon yang memiliki buah berduri, dia langsung ambil kesimpulan bahwa
pohon yang memiliki buah berduri adalah pohon durian.
Berpikir
dangkal muncul sebagai akibat dari kurangnya pengkajian yang mendalam
dan menyeluruh terhadap informasi-informasi tentang fakta yang dihadapi.
Orang yang berpikir dangkal seringkali merasa puas hanya dengan melihat
permukaan atau sifat-sifat lahiriah dari fakta yang terjadi.
Level
berpikir yang kedua yaitu berpikir mendalam, Orang yang berpikir
mendalam adalah orang yang mampu menghukumi suatu realitas melalui
proses berpikir berdasarkan penela’ahan terhadap objek berpikirnya
terlebih dahulu, sehingga kesimpulan yang didapat merupakan kesimpulan
yang bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual.
Ambil
contoh fakta yang sama misalnya ada pohon memiliki buah berduri. Orang
yang berpikir mendalam ketika menemukan fakta berupa pohon yang memiliki
buah berduri, dia tidak langsung mengambil kesimpulan bahwa pohon
tersebut adalah pohon durian. Tapi dia terlebih dahulu meneliti pohon
tersebut mulai dari struktur daun, batang, rasa buah, biji dll. Sampai
akhirnya dia mempunyai data yang bisa dipertanggungjawabkan bahwa pohon
yang memiliki buah berduri adalah benar-benar pohon durian karena
dilihat dari struktur daun, batang, rasa dan lain sebagainya menunjukkan
bahwa pohon tersebut adalah pohon durian.
Berpikir
mendalam ini biasanya digunakan oleh para ilmuan atau mahasiswa ketika
mengerjakan TA (Tugas Akhir) maupun penelitian ilmiah.
Level
berpikir yang ketiga yaitu berpikir cemerlang/mustanir. Orang yang
berpikir cemerlang adalah orang yang mampu mengaitkan realitas apapun
didunia ini dengan hakikat transendental, yaitu dibalik segala sesuatu
yang terjadi didunia ini ada yang menciptakan yaitu Allah SWT sesuai
dengan yang dikabarkan dari sumber terpercaya yaitu al-Qur’an.
Untuk
memahami dengan mudah tentang berpikir cemerlang ini, ambil contoh
fakta yang sama yaitu ada pohon memiliki buah berduri, orang yang
berpikir cemerlang ketika menemukan fakta tadi, kali pertama dia
melakukan proses berpikir mendalam dan ketika dia sudah menemukan
jawaban yang bisa dipertanggujawabkan bahwa pohon tersebut adalah pohon
durian, dia tidak berhenti sampai disana. Tapi dia mencari tahu hingga
kehakikat buah tersebut. Dalam dunia akademis, berpikir cemerlang
seharusnya dimiliki oleh mereka yang memiliki gelar Ph.D atau Doctor of
Philosophy, karena kerjaan gelar Ph. D itu memang memahami hakikat
bidang ilmunya bukan?
Kembali pada pembahasan kita
tentang durian, ketika orang yang berpikir cemerlang sudah mendapatkan
jawaban bahwa pohon tersebut benar-benar pohon durian, dia tidak
berhenti sampai disana tapi dia mencari tahu hingga ke hakikat pohon
durian tersebut. Misal; kenapa durian ini ada? Dari manakah durian ini?
Oh dari pohon. Pohon durian dari mana? Oh dari biji mati yang ditanam
ditanah yang mati kemudian disiram dengan air dan diberi pupuk. Ko’ bisa
yaa biji yang mati kemudian ditanam ditanah yang mati menumbuhkan pohon
durian yang luar biasa? Adakah pohon durian tumbuh dengan sendirinya?
Ataukah ada yang menumbuhkan? Jika ada yang menumbuhkan pohon durian,
siapakah yang menumbuhkannya dan untuk apa menumbuhkan pohon durian
tersebut?
Sebelum kita menyimpulkan tentang hakikat
pohon durian tadi apakah tumbuh dengan sendirinya ataukah ada yang
menciptakan dan mengatur pertumbuhannya? Mari kita perhatikan benda yang
ada disekitar kita misalnya buku yang acak-acakan. Adakah buku yang
acak-acakan itu kacau balau dengan sendirinya atau ada yang
ngacak-ngacak? Pastinya buku tersebut berantakan karena ada yang
memberantakan buku tersebut, ya kan? Secara akal sehat, buku yang
acak-acakan saja berantakan karena ada yang ngacak-ngacak, apalagi untuk
siklus pertumbuhan pohon durian yang sangat mengagumkan tadi. Pastinya
ada yang menciptakan dan mengaturnya.
Makanan yang
kita makan sehari-hari saja, kita yakin bahwa makanan tadi ada karena
ada yang memasaknya yaitu ada orang yang menciptakan makanan tersebut,
apalagi dengan pohon durian yang memiliki sistem dan struktur dalam
pohon yang luar biasa. Coba perhatikan daunnya, batangnya, biji dan
rasanya, luar biasa bukan?
Sungguh tidak masuk akal
sehat jika segala sesuatu yang luar biasa di alam semesta ini seperti
pohon, bunga, manusia, matahari, semut dan lain sebagainya ada dengan
sendirinya. Pasti ada yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu
didunia ini yaitu sesuai dengan kabar yang dikabarkan dari Al-qur’an
bahwa Allah SWT yang menciptakan segala sesuatu didunia ini. Orang yang
berpikir cemerlang mampu mengaitkan realitas apapun dengan hakikat
penciptaan sesuai dengan yang dikabarkan Al-qur’an.
“Dialah
Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap,
dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan
hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu
janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu
mengetahui.” [Al-Baqarah:22]
Allah SWT memberitakan
dalam Al-qur’an bahwa Allah-lah yang menciptakan siang, malam, matahari,
bulan, angin, hujan, udara, langit, jari tangan kita yang lentik, wajah
kita yang rupawan, tubuh kita yang kokoh, mata kita yang sangat luar
biasa, kulit kita yang halus dan lain sebagainya, sudahkah manusia
berpikir tentang hakikat mengapa Allah menciptakan Alam semesta yang
sangat luar biasa ini? Ataukah manusia masih ragu dengan kebenaran isi
Al-Qur’an? Allah menantang siapapun yang meragukan Al-qur’an...
Allah SWT berfirman..
“Dan
jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan
kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al
Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu
orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan
pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari
neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi
orang-orang kafir.” [Al-Baqarah:23-24]
Metode Berpikir
Kembali
pada pembahasan kita tentang berpikir, komponen berpikir sudah dibahas,
kemudian level berpikir sudah dibahas dan sekarang adalah saatnya
membahas tentang metode berpikir. Metode merupakan suatu cara yang baku.
Dalam dunia akademik seperti mahasiswa yang sedang menyusun TA pastinya
sudah tidak asing dengan istilah metode penelitian kualitatif atau
metode penelitian kuantitatif dan sejenisnya.
Kenapa
metode berpikir harus dipahami bersama? karena seperti halnya kita akan
melakukan penelitian entah itu kualitatif maupun kuantitatif, jika niat
awal kita melakukan metode penelitian kualitatif tapi metode yang
digunakannya salah maka sudah dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang
dihasilkan adalah salah, meskipun referensi atau data yang kita punya
itu sangat luar biasa. Begitu juga dengan berpikir, meskipun referensi
kita canggihnya luar biasa tetapi ketika metode berpikir kita salah maka
kesimpulannya pun bisa jadi akan salah.
Ada 2 Metode berpikir yaitu;
1. Metode berpikir ilmiah
2. Metode berpikir rasional
Metode
berpikir ilmiah dipersilahkan untuk digunakan dalam kajian bidang ilmu
sains dan bidang ilmu eksperimen, tapi tidak boleh digunakan untuk
memahami ilmu agama tentu saja. Karena dalam metode berpikir ilmiah
ketika akan menghukumi sebuah realitas dengan cara melakukan eksperimen
terhadap realitas yang ingin dicari kebenarannya seperti menggunakan
premis mayor dan premis minor, kebenaran yang dihasilkan dari berpikir
ilmiah adalah kebenaran relatif. Bisa jadi hari ini teorinya benar tapi
besok atau lusa bisa jadi salah jika ada penelitian orang lain yang
lebih benar berdasarkan data yang bisa dipertanggungjawabkan. Seperti
teori evolusi Darwin yang sudah diruntuhkan oleh Harun Yahya, dahulu
kala Darwin berpendapat bahwa nenek moyang dia itu monyet, saya pikir
mungkin benar bahwa nenek moyang Darwin memang monyet, tapi untuk saya
pribadi karena saya seorang muslim, Allah SWT sudah mengabarkan dalam
Al-qur’an bahwa nenek moyang saya adalah seorang Nabi Adam As.
Dalam
memahami agama Islam, metode berpikir yang harus digunakan adalah
metode berpikir rasional. Metode berpikir rasional adalah menggunakan 4
komponen berpikir yaitu adanya fakta, panca indera, otak dan informasi
sebelumnya(Al-qur’an dan sunnah sebagai rujukan) ketika mengambil solusi
dari setiap permasalahan apapun yang sedang dihadapi dalam hidup.
Tujuan dari berpikir adalah mencari kebenaran. Dalam Islam, kebenaran
adalah segala sesuatu yang datang dari Allah SWT.
Dan
katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang
ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin
(kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi
orang-orang dzalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan
jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air
seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang
paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. [TQS. Al Kahfi:29]
Kenapa
kebenaran dalam Islam adalah hak mutlak milik Allah SWT sesuai dengan
yang dikabarkan Al-qur’an? Tentu saja karena Allah SWT lah yang memiliki
Langit dan Bumi. Allah lah pemilik kehidupan yang telah menciptakan
segala sesuatu didunia ini dengan sangat sempurna.
Secara
akal sehat ketika kita adalah pemilik suatu perusahaan, otomatis
merupakan sesuatu yang lumrah ketika kitalah yang membuat aturan untuk
perusahaan kita. Mulai dari apakah kita mau menggaji cleaning service
lebih tinggi dari manajer perusahaan yah tentu sah-sah saja, toh kita
yang punya uang kan?
Tapi tentu saja, Allah SWT tidak
bisa disamakan dengan pemilik perusahaan yang berhak menentukan gaji
sesuka hati pada karyawannya. Karena Allah SWT Maha Adil, Maha Sempurna,
Maha Cerdas dan Maha Segala-galanya. Perbandingan diatas hanya sebuah
alur berpikir sederhana tentang siapakah yang berhak menentukan sebuah
kebenaran dalam beragama? Manusia? Atau Allah SWT?
Pastinya,
apa yang saya paparkan diatas tidak bisa menjadikan siapapun didunia
ini menjadi manusia yang beriman jika dari dalam dirinya sendiri tidak
tergerak untuk mencari kebenaran hakiki yang akan menggerakkan dirinya
untuk tunduk kepada Allah SWT. Orang yang mau, pasti ada jalan dan orang
yang tidak mau, banyak alasan. Sungguh, keimanan tidak bisa dibeli
dengan uang, keimanan tidak bisa didapat dari seorang Ayah yang shaleh,
keimanan tidak bisa dicapai dengan sebuah retorika. Keimanan hanya bisa
dicapai dengan memahami hakikat keimanan yang kemudian diaplikasikan
dalam hidup hingga akhir hayat.
Begitu mahalnya
keimanan sehingga seorang Bilal lebih memilih ditindih oleh batu yang
besar ditengah teriknya panas matahari di gurun padang pasir dari pada
keluar dari agama Islam, karena Bilal sudah memahami hakikat keimanan
yang didapat dari Rasul Saw.
Berbeda dengan realitas
kaum muslimin saat ini, ketika ada yang dengan mudahnya keluar dari
agama Islam hanya karena masalah duniawi ditambah lagi tidak adanya
pemahaman yang shahih tentang Islam. Jika memang tidak tahu tentang
Islam yang sebenarnya, kenapa tidak mencari tahu? Bukankah Allah sudah
menganugrahkan akal? Bahkan Allah SWT sudah menganugrahkan Al-Qur’an
kepada siapapun yang mau menggunakan akalnya untuk berpikir tentang
hakikat dari segala sesuatu yang ada didunia ini. Dalam Islam, orang
yang tidak tahu tidak dosa tapi akan menjadi dosa ketika tidak mencari
tahu.
Definisi dan Ruang Lingkup Aqidah Islam
Jika
kita menelaah definisi tentang keimanan atau Aqidah yang dalam bahasa
arab berasal dari lafadz ‘aqada (mengikat). Aqidah adalah iman yang
merupakan pembenaran (keyakinan) yang utuh, diaplikasikan dalam hidup
dan bersumber dari dalil. Dalil terdiri dari dua yaitu dalil aqli dan
dalil naqli. Dimana dalil aqli (akal) adalah sebagai alat untuk memahami
keimanan yang bisa dibuktikan oleh akal untuk mencapai kebenaran yang
bersifat pasti pada salah satu rukun-rukun akidah seperti hakikat
penciptaan, masuk akal bukan? Kemudian dalil naqli yaitu suatu berita
yang bersifat pasti yang memberitakan kepada kita tentang rukun-rukun
akidah seperti ayat-ayat al-Qur’an.
Aqidah Islam
secara istilah adalah pemikiran menyeluruh tentang segala sesuatu
didunia ini seperti alam semesta, manusia dan kehidupan ada yang
menciptakannya yaitu Allah SWT dan setelah dunia ini berakhir (hari
kiamat) akan ada alam akhirat dimana seluruh manusia didunia ini akan
dibangkitkan dari kubur untuk mempertanggungjawabkan seluruh
perbuatannya dihadapan Allah Yang Maha perkasa yang akan berbuah pahala
atau dosa. Jika pahala seorang hamba lebih banyak dari dosanya maka
Allah sudah menyediakan tempat tinggal yang kekal abadi yaitu surga dan
bagi siapapun yang sombong selama didunia karena tidak mau tunduk pada
aturan yang sudah Allah tetapkan yaitu Islam, maka tempat terakhirnya
yang kekal abadi adalah Neraka. Naudzubillah himin dzalik.
Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat
sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan
dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.[TQS
Ali-Imran:185]
Pemahaman tentang aqidah Islam yang
berdasarkan kabar terpercaya (Al-qur’an) akan mendorong tingkah laku
seorang muslim didunia agar berusaha sesuai dengan apa yang Allah
perintahkan karena dia menyadari bahwa apa yang manusia perbuat dalam
kehidupan didunia ini akan berbuah pahala dan dosa diakhirat nanti yang
akan menghantarkan manusia pada tempat kebahagiaan hakiki (surga)
ataukah penderitaan hakiki (neraka)?
Secara akal sehat,
pastinya kita menyukai keindahan, menyukai kemapanan, menyukai sesuatu
yang baik, termasuk surga. Pastinya setiap manusia menginginkan bisa
hidup kekal abadi di surga yang penuh kenikmatan dan keindahan. Dan
pertanyaan yang harus direnungkan yaitu: “Sudahkah kita melayakkan diri
menjadi penghuni surga?” pengorbanan dan perjuangan seperti apakah yang
sudah kita persembahkan untuk Islam? pastinya kita memang tidak bisa
menyamai amal shaleh para generasi terbaik Rasul Saw, tapi setidaknya
sudahkah kita mengikuti jejak perjuangan mereka meskipun tak sampai
seperti sahabat Nabi Saw?
Kadar keimanan seseorang akan
nampak dari kepribadiannya, kepribadian yang dimaksud disini adalah
pola pikir dan pola sikap dalam menjalani kehidupannya. Ketika pola
pikir dan pola sikapnya sesuai dengan Islam, maka kepribadian seseorang
dikatakan sebagai kepribadian Islami. Sejauh mana perjuangan dan
ketaatan seorang muslim untuk mentaati perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya, maka sejauh itulah kadar keimanannya terhadap Allah SWT.
Dalam Islam, ada 3 karakteristik tentang kepribadian Islam, yaitu:
1.
Orang Beriman: adalah orang yang yakin bahwa Islam sebagai kebenaran
yang hakiki dan manifestasi dari keyakinannya ini diimplementasikan
dalam sikapnya yang sesuai dengan tuntunan Islam.
2. Orang
Fasik/ Dzalim: adalah seorang muslim yang sudah tahu tentang aturan
Islam seperti apa, tapi tidak mau tunduk pada aturan Islam.
3. Orang Kafir: adalah orang yang tidak percaya akan cahaya kebenaran Islam dan tidak mau tunduk pada aturan Islam.
Dari ketiga kategori diatas, kita termasuk kategori yang mana? Semoga saja kita semua termasuk dalam kategori manusia beriman.
Didunia
ini, kita hanya merasakan kebahagiaan dan kesedihan yang sementara
karena bisa jadi hari ini kita dilanda duka dan bisa jadi besok paginya
kita mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa. Sedangkan diakhirat hanya
ada dua tempat abadi yaitu surga dan neraka. Surga adalah kenikmatan
yang kekal abadi dan neraka adalah penderitaan abadi. Bisa kita
bayangkan bahwa penderitaan kita ketika sakit gigi atau sakit kepala
yang dahsyat. Pastinya kita tidak tahan merasakan rasa sakit fisik yang
sementara bukan? Ketika kita sakit pastinya kita berusaha agar rasa
sakit kita hilang dengan pergi kedokter atau dengan meminum obat
penghilang rasa sakit.
Tapi jika sudah ada dalam neraka
karena akibat dari ketidakpedulian manusia untuk memperjuangkan
keIslamannya didunia. Dokter manakah yang mampu menghilangkan rasa sakit
dari siksaan neraka?
(Apakah) perumpamaan (penghuni)
surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya
ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya,
sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai
dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai
dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam
buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal
dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga
memotong-motong ususnya? [TQS Muhammad: 15]
Rukun Iman
Kembali
pada pembahasan kita tentang keimanan, dalam Islam ada yang namanya
rukun iman. Keimanan/keyakinan adalah bermakna pembenaran yang bersifat
pasti, sesuai dengan fakta, serta berdasarkan bukti (berdasarkan dalil
baik berupa dalil aqli maupun dalil naqli).
Di dalam
sebuah hadits yang panjang, Jibril as pernah bertanya kepada Rasulullah
saw, “Beritahukanlah kepadaku tentang iman!” lalu Rasul saw menjawab,
“Iman itu adalah percaya kepada adanya Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan percaya kepada
al-qadar (takdir) baik dan buruknya berasal dari Allah SWT”. Jibril
berkata, “Engkau benar” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan an-Nasai)
Allah SWT berfirman:
Rasul
telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka
mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan
yang lain) dari rasul rasul-Nya". (TQS. Al-Baqarah [2]:285)
Berdasarkan
dalil naqli diatas, bisa kita simpulkan bahwa rukun Iman itu ada enam
yaitu Iman kepada adanya Allah, Malaikat, kitab-kitab samawi,
Rasul-rasul, hari akhir/kiamat dan iman kepada takdir (baik buruknya
berasal dari Allah Swt). Rukun iman yang enam ini bisa kita fahami
dengan menggunakan dalil aqli maupun naqli. Dalil naqli digunakan untuk
memahami keimanan yang berada diluar stok of knowlegde manusia seperti
iman kepada malaikat yang tidak bisa dilihat wujud asli malaikat dengan
mata tapi kita meyakini bahwa malaikat itu ada berdasarkan kabar yang
Allah Swt kabarkan dalam al-Qur’an.
Sungguh, bahwa
keimanan yang kokoh tidak akan dapat terwujud jika hanya melalui doa dan
ibadah semata yang bersifat ritual tanpa memahami ilmunya terlebih
dahulu terkait hakikat keimanan dan mengimplementasikan amal ibadah
dalam kehidupan. Akan tetapi semoga saja keimanan yang lahir dari proses
berpikir cemerlang berlandaskan dalil shohih dan diraih melalui
berbagai perjuangan tanpa kenal lelah akan menjadikan kita sebagai
seorang mukmin sejati yaitu dengan menuntut ilmu agama tanpa melihat
siapa yang berbicara, tapi lebih melihat pada apa yang dia bicarakan.
Prinsip yang diazamkan ketika mendalami ilmu agama adalah untuk mencari
kebenaran, bukan untuk mencari pembenaran atas apa yang kita inginkan.
Pastinya melakukan pembinaan diri tanpa henti hingga akhir hayat adalah
sebuah harga mutlak yang harus diperjuangkan agar memiliki pola pikir
dan pola sikap yang sesuai dengan Islam.
“Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (TQS. Ar-Ra’du [13]:11)
Semoga Allah mendidik kita menjadi manusia yang di Ridhai-Nya. Wallahu a’lam bishowab
---
yang masih dalam pengkajian saya hingga detik ini adalah tentang rukun
iman dalam Islam, rukun iman yang saya paparkan dalam bab ini masih
sangat global dan belum mengupas hakikat maupun aplikasi praktis dari
rukun Iman dalam kehidupan seorang muslim. Jika ada yang mau berbagi
pengalaman tentang rukun Iman ataupun memiliki referensi buku, silahkan
tulis komentar...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar